ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

EVITA MARYANTI TAGOR:

Sabar dan Ikhlas Kunci Kesuksesan
Rabu, 18 Januari 2012 | 12:15

Resep meraih kesuksesan ternyata sederhana. Cukup dengan ikhlas, sabar, menjaga kepercayaan, dan mendapat restu dari orang-orang terdekat, niscaya kesuksesan akan menghampiri Anda. Setidaknya Evita Maryanti Tagor telah memetik buah filosofi tersebut.

Banyak cara untuk meraih kesuksesan. Sebagian orang mungkin memilih bekerja dengan penuh ambisius, ngoyo, dan bersikap ofensif dalam mengejar obsesinya.

Evita Maryanti Tagor justru menempuh jalan sebaliknya. Presiden direktur PT Tugu Pratama Indonesia (TPI) ini memilih sabar dan ikhlas sebagai sumber energinya dalam bekerja dan mencapai keberhasilan.

“Selain berupaya untuk ikhlas dan sabar, saya mengedepankan kebersamaan dan selalu berusaha menjaga kepercayaan,” kata Evita kepada wartawan Investor Daily Abdul Aziz dan pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.

Banyak manfaat yang dipetik Evita dengan bersikap sabar, ikhlas, dan mengutamakan kebersamaan. “Apapun yang dilakukan akan terasa ringan apabila dikerjakan dengan ikhlas, penuh kesabaran, serta mendapat restu dan dukungan orang-orang terdekat kita, baik di rumah maupun di kantor,” paparnya.

Di luar itu, Evita Maryanti adalah sosok eksekutif yang memegang teguh amanah dan integritas. Ternyata, prinsip tersebut berkaitan erat dengan keyakinan religiusnya bahwa posisi yang ditempatinya saat ini adalah ujian yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan.

“Apa yang diperoleh atau dijabat hari ini merupakan ujian dari Allah SWT. Pada akhirnya, kepada Tuhanlah kita harus bertanggung jawab atas semua tindakan kita,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 9 Juni 1960, itu.

Lalu, apa kata Evita tentang arti sukses? Bagaimana ia menyeimbangkan kehidupan pribadi dengan pekerjaan? Berikut petikan lengkap wawancara dengan orang nomor satu di perusahaan asuransi yang sedang mengkaji rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tersebut.

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga menduduki posisi puncak di TPI?
Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan akuntansi, saya memulai karier di Pertamina sebagai kader Direktorat Keuangan cq bagian akuntansi di Kantor Pusat Pertamina sejak 1986. Sejak itu, saya terus bekerja dan berpindah- pindah bagian di lingkungan Pertamina bagian keuangan.

Sejalan dengan perpindahan bagian, karier saya juga merambat naik dari waktu ke waktu, hingga akhirnya pada Mei 2006 saya diangkat menjadi deputi direktur perbendaharaan dan pendanaan Direktorat Keuangan. Jabatan deputi direktur adalah jabatan karier struktural tertinggi di Pertamina.

Setelah menjabat sebagai deputi direktur selama hampir enam tahun, pada pertengahan Januari 2011 saya diperbantukan oleh Pertamina dan   ditempatkan sebagai presiden direktur PT TPI sampai saat ini. Pertamina memiliki 65% saham TPI.

Mengapa Anda tertarik berkarier di perusahaan asuransi?

Saya mengenal industri asuransi sejak di Pertamina, karena saya di Pertamina juga membawahi bagian asuransi dan manajemen risiko. Saya pun pernah ditugaskan menjadi Komisaris di TPI pada 2006-2008 sebagai wakil pemegang saham Pertamina, sampai akhirnya dipercaya Pertamina menjadi presiden direktur anak perusahaan bidang asuransi.

Sebenarnya saya pernah kecewa dengan asuransi, karena kesulitan mencairkan polis asuransi ayah saya yang meninggal dunia. Namun, Allah SWT justru menempatkan saya dalam jabatan yang berhubungan terus dengan asuransi, sehingga saya berkeinginan memperbaiki citra asuransi di masyarakat sebagai pelindung pemegang polis.

Anda punya karakter kepemimpinan seperti apa?

Di dalam perusahaan, semua karyawan memiliki hak dan kewajiban yang sama sesuai jabatan dan pertanggungjawabannya. Dengan demikian, seharusnya semua karyawan fokus dan memiliki objektivitas yang sama pula, yaitu memajukan perusahaan untuk kepentingan seluruh stakeholder.

Karyawan juga aset perusahaan yang berharga, dan merupakan mitra saya dalam menjalankan perusahaan, serta bagian team work saya, sehingga pintu saya selalu terbuka bagi para karyawan yang membutuhkan pendapat atau arahan. Bila diperlukan, masalah yang timbul kami bahas bersama pada level manajemen untuk dicarikan solusi yang terbaik dan tetap fokus demi kepentingan perusahaan.

Status gender tidak menjadi kendala?

Saya dibesarkan di keluarga yang tidak terperangkap dalam masalah gender dan selama saya berkarier di Pertamina, saya merasa tidak ada hambatan atau masalah gender, termasuk untuk menempati posisi atau jabatan struktural yang tinggi. Bagi saya, selama seseorang mampu, maka masalah gender tidak memengaruhi kemampuan seseorang untuk memimpin.

Selama ini saya menerapkan gaya kepemimpinan yang mengutamakan team work dan saling percaya. Dan, alhamdulillah, saya merasa didukung oleh rekanrekan saya sesama karyawan.

Strategi Anda dalam memajukan perusahaan?
Pertama-tama saya harus memberikan arahan-arahan, strategi-strategi, dan alasan (reasons) kenapa kami melakukan sesuatu. Kemudian perlu didukung program-program kerja yang realistis dan membantu memecahkan permasalahan. Setelah itu, kami harus meningkatkan kapabilitas karyawan dan memberikan motivasi kepada para karyawan untuk mencapai rencana kerja yang ditetapkan.

Yang tidak kalah penting adalah menerapkan tolok ukur kinerja bagi setiap bagian dan diturunkan menjadi ukuran kinerja bagi setiap individu agar dalam penilaian hasil kerja dapat lebih objektif dan terukur. Mudah-mudahan strategi yang diterapkan dapat membuat kinerja TPI tumbuh baik.

Gebrakan apa yang telah Anda lakukan di TPI?
Saya baru 11 bulan di TPI, sehingga belum banyak yang telah saya perbuat untuk perusahaan. Saat ini, saya sedang mencoba menaikkan kinerja perusahaan dengan menggugah motivasi kerja karyawan. Mudah-mudahan akan berdampak pada kinerja perusahaan demi eksistensinya. Di samping itu, mengingat kompetisi yang sangat ketat pada industri asuransi, saya rasa perlu mempertahankan prinsip-prinsip good corporate governance.

Prinsip yang Anda pegang teguh dalam bekerja?
Prinsip utama yang harus saya pegang adalah integritas dan amanah. Apa yang diperoleh atau dijabat hari ini merupakan ujian dari Allah SWT kepada pribadi kita. Pada akhirnya, kepada Allah SWT kita harus bertanggung jawab atas semua tindakan kita.

Kiat Anda dalam mencapai kesuksesan?
Kiat saya dalam menjalani peran ganda sebagai istri, ibu, dan wanita karier adalah ikhlas, sabar, kebersamaan (team work), dan menjaga kepercayaan yang diberikan. Apapun yang sedang dilakukan akan terasa ringan apabila dikerjakan dengan ikhlas, penuh kesabaran, serta mendapat restu dan dukungan orang-orang terdekat kita, baik di rumah maupun di kantor. Yang penting, kita harus dapat menempatkan diri sesuai peran yang dijalani dan jangan membawa masalah kantor ke rumah atau sebaliknya.

Apa filosofi hidup Anda?
Follow where the water flows. Ikhlas dan syukuri apa yang ada, karena di balik semua kejadian ada hikmah yang besar.

Obsesi yang sudah dan belum Anda capai?
Obsesi yang sudah tercapai adalah menduduki karier tertinggi di Pertamina dengan baik. Obsesi yang belum dicapai adalah membawa TPI menjadi perusahaan asuransi yang terpandang di Asia Tenggara dengan kinerja usaha sekelas perusahaan asuransi di kawasan regional. Secara pribadi, obsesi saya adalah melihat putra-putri saya mendapatkan keberhasilan di bidangnya serta berbahagia dengan keluarganya masing-masing.

Anda sudah merasa sukses?
Kesuksesan adalah relatif bagi setiap orang. Saya merasa telah diberikan kepercayaan lebih serta rezeki lebih baik dari yang saya perkirakan ketika pertama saya masuk menjadi pekerja Pertamina. Mudah-mudahan semua usaha dan kerja keras saya bagi perusahaan dapat menjadi tambahan amal bagi bekal saya di hari kemudian.

Ukuran sukses menurut Anda?
Definisi dan ukuran sukses bagi setiap orang juga berbeda-beda. Bagi saya, seorang manusia sukses bila dapat menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya, kehidupan keluarga dan di kantor. Apakah sudah tercapai keseimbangan itu? Masing-masing dari kita bisa menjawabnya dalam hati.

Bagaimana Anda menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi?
Alhamdulillah, saya memang beruntung memiliki keluarga dan lingkungan yang sangat mendukung pekerjaan saya di dalam dan di luar rumah. Almarhum suami saya, anak-anak saya, ibu saya, adalah harta yang tidak dapat dinilai bagi saya dan merupakan pendukung utama atas apa yang saya capai sampai hari ini.

Antara saya dan suami ada kesepakatan bahwa masalah di kantor tidak boleh dibawa ke rumah dan nakhoda rumahtangga tetap di tangan suami, sehingga bila saya bekerja di kantor maka saya akan bekerja semaksimal mungkin karena tidak mau membawa pekerjaan ke rumah. Bila saya di rumah, saya fokus melayani keluarga saya dan berperan hanya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Tentu semua tidak selalu mulus, namun dengan saling pengertian, saling percaya, dan saling menyadari peran masing-masing, mudah-mudahan keseimbangan dapat dijaga dengan baik.

Arti keluarga bagi Anda?
It means everything to me. Family is the most important asset in my life. Tanpa keikhlasan dan rida suami, saya tidak mungkin akan bekerja, karena sebagai wanita muslim, jihad saya ada di dalam rumah. Bila akan melangkah ke luar rumah, seorang istri harus mendapat izin suami. Untuk itu, saya sangat berterima kasih pada suami atas kepercayaannya terhadap saya. Saya bekerja juga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Peran keluarga dalam karier Anda?
Keluarga saya sangat mendukung dan mendorong saya untuk mencapai karier lebih baik. Apalagi saya mulai bekerja sebelum saya menikah, sehingga suami saya dapat memahami, ikhlas, dan mendukung karier saya. Suami saya bahkan mengajarkan saya agar lebih mandiri, terampil, dan berani mengambil keputusan sulit sekalipun. Dalam rangka mendukung karier saya, ibu saya juga rela membantu mengurus anak-anak saya sewaktu diperlukan, terutama saat mereka masih kecil-kecil.

Apa yang Anda kejar dalam hidup?
Kebahagiaan dunia dan akhirat. Ini hanya bisa dicapai bila ada keseimbangan amalan dunia dan akhirat. Titik keseimbangan ini berbeda pada setiap orang. Saya pribadi masih dalam taraf belajar mencari keseimbangan kedua hal tersebut.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!