ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

CHARLES SAERANG,

Pemimpin Harus Jadi Ayah, Guru, dan Kawan
Senin, 7 Mei 2012 | 12:29

“Menjadi pemimpin harus bisa memerankan tiga hal, yakni sebagai ayah, guru, dan kawan, baik di keluarga maupun di perusahaan. Jika di perusahaan harus berorientasi bisnis dan berpikir rasional maka di keluarga harus menggunakan sentuhan emosional.”

Pembawaannya selalu bersemangat, perlente tapi kasual, ramah, dan segar. Ia selalu menyapa lebih dulu orang-orang yang dikenalnya. “Halo, bos. Apa kabar? Sudah minum jamu?” Begitulah Charles Saerang kerap menyapa teman-temannya.

Charles Saerang juga tidak jarang turun langsung menghadiri pertemuan-pertemuan atau sekadar berdiskusi membahas soal jamu, kesehatan, atau pendidikan. Ketika berdialog dengan pemerintah, presiden direktur/chief executive officer (CEO) PT Nyonya Meneer ini pun tidak segan- segan menyindir atau melontarkan kritikan pedas.

“Kenapa acara-acara pemerintah tidak pernah menyediakan minuman jamu. Entah serbat, minuman jahe, atau kunir asam? Kenapa hanya teh dan kopi?” ujar Charles suatu ketika. Penampilannya yang selalu tampak bugar tidak menunjukkan usia sesungguhnya. Siapa sangka pada 20 Februari lalu, Charles Saerang sudah berusia 60 tahun?

Rahasianya ternyata tak banyak. Kecuali rutin meminum jamu, Charles berolahraga secara teratur dan menjaga pola makan sehat. “Selain itu, nikmati hidup,” kata Charles Saerang kepada wartawan Investor Daily Damiana Ningsih Simanjuntak dan pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.

Dalam soal kepemimpinan, Charles Saerang punya kiat khusus. “Pemimpin harus bisa memerankan tiga hal, yakni sebagai ayah, guru, dan kawan,” tuturnya.

Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria kelahiran Semarang, 20 Februari 1952 itu.

Apa rahasia Anda hingga selalu bugar dan aktif meski sudah berusia 60 tahun?
Minum jamu. Saya juga rajin minum serbat (minuman segar atau minuman panas yang terbuat dari ramuan jahe dan jenis rempah-rempah lainnya dicampur gula). Istri saya suka minum temu lawak dan sambiloto. Saya juga rajin berolah raga. Saya suka golf dan fitnes. Setiap 48 jam, kita kan harus berolahraga. Anda tidak bisa memaksa diri bekerja terus tanpa berolah raga.

Olah raga teratur menentukan pola hidup dan kualitas kesehatan Anda. Selain itu, jaga pola makan sehat dan nikmati hidup. Itu saja. Jadi, jalankan pola hidup sehat, karena sehat itu mahal. Makan jangan nggragas (celamitan, seperti orang kekurangan makan). Jangan hanya untuk kepuasan mulut, padahal perut dan organ lain marah. Lebih baik tidak pintar, asal sehat, karena kalau sehat pasti punya banyak waktu untuk belajar dan berkembang.

Prinsip hidup seperti apa yang Anda padukan dengan pola hidup sehat?
Prinsipnya, nikmati semua. Menjalani hidup harus menikmati apa yang dimiliki dan tidak serakah atau iri dengan keberhasilan orang lain. Menikmati hidup harus menikmati siklus yang ada. Ketika sedang susah, hanya punya sepeda motor, makan di pinggir jalan, jangan ada pikiran si A kok bisa punya mobil, makan di restoran mewah? Saya kok tidak bisa?

Kehidupan itu seperti roda berputar. Nikmati saja. Anda harus harus memiliki keinginan sendiri untuk belajar dan maju, bukan karena paksaan. Nah, nikmati pendidikan. Dan, nikmati doa. Bukan karena bapak atau ibu Anda berdoa, atau bukan karena disuruh, tapi karena Anda sendiri. Berdoa menjadikan Anda lebih percaya diri bahwa semua ada jalan keluarnya. Itu indahnya berpikir positif dan menikmati hidup. Karena itu, orang bilang saya tidak kaya-kaya. Padahal, saya kaya. Kaya teman.

Selain mengurus perusahaan, Anda memimpin Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Indonesia.  Bagaimana Anda membagi waktu?
Tidak masalah. Saya bolak-balik Semarang- Jakarta. Memang, menghabiskan waktu. Tapi ini tanggung jawab dan komitmen saya. Menjadi pemimpin perusahaan dan asosiasi.

Keluarga tidak mempermasalahkan?
Saya tetap bertemu keluarga. Kedua putri saya bersekolah di Amerika Serikat dan Australia. Saya bersama mama mereka. Saya tetap membagi waktu. Misalnya saya atau istri saya bergantian melihat mereka. Nah, kalau pas ke sana, saya berganti peran, menjadi supir untuk antarjemput mereka atau menemani makan di tempat-tempat enak. Mereka tahu tempat makan yang enak, tapi, tidak pernah makan di situ. Kan uangnya terbatas. Begitu mama dan papanya datang, diajaklah ke sana, diperas, diajak makan di tempat makan yang enak-enak. Tapi saya tidak kaku dalam mengatur waktu, karena pola waktu saya juga dinamis dan bergejolak. Saya bertanggung jawab kepada stakeholders Nyonya Meneer, GP Jamu, dan mitra saya. Tapi keluarga juga tetap saya perhatikan, pantau, dan berkomunikasi.

Bisa Anda cerita kenapa terjun ke bisnis jamu?
Dari sekolah saya, tidak ada hubungannya dengan jamu. Bukan berarti saya tidak bisa bekerja di bidang lain. Tapi waktu itu, saya melihat perjuangan Bu Meneer (pendiri Nyonya Meneer, nenek Charles Saerang). Lalu, saat itu, ayah saya meninggal lebih dulu dari Bu Meneer. Saya diminta ikut membantu. Saya melihat semangat beliau. Saya memutuskan terjun. Kalau bukan saya atau anak cucunya yang lain, siapa lagi yang mau ngopenin jamu ini?

Memang tidak mudah menghadapi keluarga. Luar biasa berat. Tapi saya sudah jatuh cinta dan menentukan pilihan pada jamu. Membesarkan perusahaan, meneruskan perjuangan Bu Meneer, dan memasyarakatkan jamu Indonesia. Saya memulai bisnis jamu pada 1976. Sekitar 24 tahun kemudian, saya mengalami struggle menghadapi keluarga besar. Tapi saya punya komitmen dan tanggung jawab. Saya melaksanakan tugas sesuai jadwal dan target. Itu sudah menjadi satu prestasi. Saya tunjukkan bahwa saya bisa dan berkomitmen. Keluarga dan orang lain melihat bahwa saya bisa dipercaya.

Pada era 1980-1990-an jamu booming. Waktu itu, Ibu Tien Soeharto menggencarkan gerakan minum jamu. Ketika saya pimpin, Nyonya Meneer gencar meluncurkan berbagai produk. Waktu itu, ada Awet Ayu. Kemudian, saya membawa Nyonya Meneer sebagai perusahaan jamu yang pertama menggunakan film berwarna dan memiliki jingle. Nyonya Meneer juga yang pertama kali merilis iklan termahal. Saya pula yang memulai produk jamu dengan pelabelan gambar, nama perusahaan, dan merek. Itu digunakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai standar.

Seberat apa perjuangannya?
Citra jamu di Indonesia masih dianggap kuno. Selama ini, jamu juga dianggap sebagai produk khusus perempuan. Citra itu harus dihilangkan secara perlahan. Begitu pula citra bahwa jamu berbahan kimia, harus dihapuskan. Sesuai amanat Bu Meneer, jamu harus bermanfaat bagi semua orang, dari petani hingga penjual jamu gendong. Bagi perusahaan, Nyonya Meneer tidak lagi hanya memproduksi jamu untuk habis bersalin, tapi juga produk jamu untuk laki-laki. Tidak lagi hanya serbat, tapi juga untuk aroma terapi spa.

Saya waktu itu mungkin dianggap tidak normal, terjun ke bidang bisnis yang selama ini tidak dianggap. Pada awalnya, saya harus menghadapi penolakan dari keluarga ketika memutuskan terjun ke bisnis ini. Perbedaan visi dan kultur, pola berpikir, dan hubungan yang tidak intens dengan keluarga besar, menambah tekanan penolakan. Saya tidak dekat dengan Om dan Tante saya.

Saya harus menunjukkan kepada keluarga besar bahwa sanggup memimpin perusahaan. Awalnya hanya beromzet kurang dari miliaran rupiah menjadi hampir menyentuh Rp 1 triliun tahun ini. Hingga saat ini, Nyonya Meneer menaungi 3.000 tenaga kerja dari awalnya hanya 150 orang. Saya memegang komitmen dan tanggung jawab. Juga amanat Bu Meneer untuk memperjuangkan pelaku usaha jamu skala kecil. Nyonya Meneer tidak sekadar perusahaan, tapi harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Pendekatan kepada akar rumput, sampai ke petani, itu amanat Bu Meneer. Saya harus bisa menjalankan itu.

Nah, saya melakukan pendekatan kewiraswastaan, yakni kepada pedagang dan pengusaha jamu gendong yang selama ini terabaikan, baik oleh pemerintah maupun perbankan. Padahal, mereka adalah tonggak untuk memasyarakatkan konsumsi jamu. Saya menanamkan mimpi kepada mereka bahwa jamu gendong juga harus bisa dikembangkan ke skala bisnis yang besar.

Anda tidak khawatir usaha-usaha kecil dan jamu gendong menjadi besar dan bersaing dengan Nyonya Meneer?
Kenapa takut? Saya tidak khawatir ketika usaha-usaha jamu gendong menjadi besar dan menambah persaingan bagi Nyonya Meneer. Bahkan, saya berambisi para penjual atau pengusaha jamu gendong bisa berkembang cepat. Untuk itulah, Nyonya Meneer kerap kali menggelar program dengan menggandeng para penjual jamu gendong. Jadi, kenapa harus takut terjadi persaingan?

Justru persaingan akan memajukan industri jamu di Indonesia, sehingga menambah lahan atau pasar untuk berkembang. Kalau hanya saya, industri jamu akan menciut. Ini yang selalu saya sampaikan. Saya menerapkan prinsip serupa di asosiasi. GP Jamu dituntut tidak hanya menyuarakan kepentingan perusahaan besar, tapi juga pengusaha jamu kecil, bahkan pengusaha jamu gendong.

Kalau perusahaan besar, persaingannya sudah berbeda. Tidak perlu mengadu ke pemerintah. Kami bersaing di iklan, menembus pasar ekspor, dan memajukan omzet. Kami berjuang sendiri karena memang sudah seperti itu. Tapi yang kecil-kecil ini kan belum mampu. Untuk itulah GP Jamu juga gencar menyuarakan dan meminta perhatian pemerintah. Pemerintah tidak lagi bisa hanya berkutat pada aturan yang ketat, bahkan menekan pengusaha kecil, tapi harus berpikir bagaimana memajukan pengusaha mikro dan kecil agar menjadi besar.

Bagaimana membina, mendorong, dan memajukan mereka. Karena itu, kami selalu berkomunikasi dengan berbagai kementerian. Ada 20 kementerian yang menjadi mitra kami. Dalam tahap industri, GP Jamu mengharapkan pak Hidayat (Menteri Perindustrian MS Hidayat) melakukan terobosan untuk industri jamu, karena beliau memahami pola berpikir pebisnis, tidak terjebak pada regulasi.

Anda tidak kesulitan menyelaraskan kegiatan bisnis dengan kehidupan pribadi?
Memimpin perusahaan sendiri dan asosiasi memang menyita sebagian besar waktu saya. Mendengarkan karyawan perusahaan dan mitra perusahaan, mulai dari petani, penjual dan pengusaha jamu gendong, peritel, masyarakat konsumen, hingga mitra sesama pelaku industri dalam asosiasi, itu merupakan keharusan. Sementara itu, saya juga harus bisa menjaga keseimbangan hidup dengan tetap menjadi pemimpin di keluarga. Dua-duanya harus selaras, seimbang.

Apa kiat Anda?
Menjadi pemimpin harus memiliki tiga hal, yakni menjadi ayah, guru, dan kawan, baik di dalam keluarga maupun perusahaan. Bedanya, perusahaan berorientasi bisnis dan harus berpikir rasional. Sedangkan keluarga harus dengan sentuhan emosional. Tapi keduanya harus berpedoman pada disiplin, tanggung jawab, dan komitmen. Itu saya terapkan sekarang. Saya selalu memisahkan keluarga dan bisnis. Kalau tidak bisa menjalankan perusahaan yang memang berorientasi bisnis, jangan terjun ke dalamnya. Meski itu keluarga, akan tetap saya marahi kalau salah. Tidak bisa kasihan, padahal tanggung jawab tidak dilaksanakan. Harus disiplin. Itu prestasi dan bekal untuk maju. Itu dibutuhkan untuk memimpin.

Pemimpin juga harus berperan sebagai ayah, berarti mengayomi. Sebagai guru, dengan intelektualitasnya, harus bisa menjadi contoh. Pemimpin juga menjadi kawan yang bisa mendengarkan. Saya tegas pada anak-anak saya. Harus disiplin, misalnya dalam soal waktu, bahkan dengan uang yang dibelanjakannya. Harus bertanggungjawab dengan komitmennya, termasuk mengenai pendidikan. Saya sayang pada anak-anak saya. Saya menggunakan empati. Tapi apa yang salah ya salah, yang benar ya benar. Saya menerapkan ini tidak otoriter, melainkan masuk melalui apa yang menjadi sisi kesukaannya. Jangan karena bapak, saya harus memaksa dan memarahi. Tapi, misalnya, dia doyan makan atau nyanyi. Saya ajak menikmati kesukaannya itu, lalu saya ajak ngobrol.

Obsesi apa yang belum dan ingin Anda capai?
Saya masih bermimpi dan berambisi memajukan perusahaan saya, asosiasi, dan pelaku jamu gendong. Saya ingin perusahaan saya mencatat omzet 2-3 kali lipat. Sementara itu, saya juga mempersiapkan suksesi perusahaan kepada anak-anak. (*)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.
Close