ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

HANDJAJA SUSANTO,

Membangun Perusahaan Sama dengan Membesarkan Anak
Senin, 6 Februari 2012 | 13:06

Bahwa karyawan merupakan aset terpenting dalam perusahaan, itu sudah pasti. Berkat mereka, roda bisnis perusahaan bisa terus berputar. Tapi suasana kebersamaanlah yang sesungguhnya membuat perusahaan maju lebih pesat. Prinsip ini setidaknya telah dibuktikan Handjaja Susanto. Benarkah membangun perusahaan tak ubahnya membesarkan anak?

Setiap karyawan pada setiap level memiliki kapasitas masing-masing untuk membangun perusahaan agar maju bersama. Itu sebabnya, Direktur Utama PT Saranacentral Bajatama Tbk Handjaja Susanto tak pernah memandang sebelah mata dan membedabedakan karyawan pada setiap level.

Handjaja juga selalu terbuka terhadap segala pendapat dan masukan. Ia bahkan tidak sungkan-sungkan memberikan reward kepada setiap karyawan yang telah berkontribusi banyak kepada perusahaan. Cara-cara yang digunakan Handjaja ternyata mampu menciptakan sinergi yang kuat antara karyawan dan manajemen.

Prinsip itu juga berhasil membangun kebersamaan dan rasa memiliki yang tinggi terhadap perusahaan. Inilah yang membuat emiten baja konstruksi berkode saham BAJA tersebut tetap eksis dan berhasil memenangi persaingan.

“Suasana kebersamaan dalam membangun perusahaan inilah yang membuat perusahaan kami bergerak maju sangat cepat dibandingkan kompetitor,” tutur Handjaja kepada wartawan Investor Daily Indah Handayani dan pewarta foto Tino Oktaviano di Jakarta, baru-baru ini.

Handjaja Susanto juga punya filosofi khusus dalam membangun perusahaan. Bagi Handjaja, membangun perusahaan tak ubahnya membesarkan anak. “Dalam membesarkan anak, tentu saja yang paling mengerti adalah kita sendiri,” ujarnya.

Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria kelahiran Jakarta, 12 Mei 1974 itu.

Mengapa Anda memilih bisnis ini?
Ini merupakan perusahaan keluarga, pendirinya adalah ayah saya. Namun, masuk bisnis baja bukanlah sebuah paksaan. Sebab, saya sejak kecil menyadari bahwa baja merupakan pilihan saya pada masa depan.

Untuk itu, ketika kuliah, saya sengaja mengambil jurusan operation management manufacturing. Saya men mendalaminya lagi ketika mengambil gelar S2 di bidang keuangan. Semuanya memang sudah saya persiapkan sendiri untuk masuk bidang ini. Setelah menimba ilmu, pada 2000 saya kembali ke Indonesia untuk menjalankan perusahaan.

Ada beban menjalankan perusahaan yang dirintis orangtua?

Tidak ada beban. Sebab, sejak awal saya juga terlibat dan menjadi bagian dalam merintis usaha ini. Hal tersebut berawal ketika masa pembangunan proyek ini. Tapi karena terbentur krisis ekonomi 1998, pembangunannya mengalami perlambatan. Akhirnya proyek ini selesai pada 2000. Saya bergabung dengan perusahaan ini dan setahun kemudian kami mampu memulai produksi baja konstruksi pertama.

Apa yang ditanamkan orangtua kepada Anda?

Banyak hal yang saya pelajari dari ayah saya, terutama pengalaman beliau yang telah cukup lama malangmelintang dalam bisnis baja di Indonesia. Sejak 1970, berliau menggeluti bidang tersebut. Salah satu yang sampai saat ini masih saya pelajari adalah kemampuan beliau dalam melihat tren harga baja. Ini merupakan hal yang tidak mudah didapatkan dan membutuhkan pengalaman yang panjang.

Bagaimana Anda melihat tren pasar baja saat ini?
Menurut saya, tren baja di Indonesia akan meningkat seiring masih rendahnya pemakaian baja per orang saat ini apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Terlebih Indonesia sedang membangun infrastruktur. Tentu saja ini akan mendorong naiknya permintaan dan konsumsi baja dalam negeri, apalagi jumlah penduduk kita sangat banyak. Lebih- lebih produk kami merupakan baja konstruksi yang dibutuhkan dalam infrastruktur.

Strategi Anda dalam menghadapi persaingan?
Perusahaan kami terbilang unik, karena jenis produk kami sangat lengkap untuk sektor baja konstruksi. Kami memproduksi baja lapis seng (BjLS) dengan merek Galvanized dan Saranalume. Keduanya dipakai untuk rangka atap baja ringan. Keduanya memiliki pangsa pasar yang besar, seiring tingginya penggunaan produk tersebut sebagai pengganti rangka kayu.

Jujur saja, kami merupakan satusatunya perusahaan baja di Indonesia yang mampu memproduksi dua produk baja lapis seng tersebut. Sebab, kompetitor kami biasanya hanya memproduksi salah satu di antara kedua produk. Kami memproduksinya dalam satu pabrik, namun beda lini.

Ke depan, kami berencana menambah satu lini produksi lagi yang merupakan produk turunan Saranalume dan akan dilapisi warna atau disebut Saranalume Color. Untuk penambahan lini ketiga tersebut, kami menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 50-60 miliar. Dana tersebut berasal dari kas internal dan hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham yang dilakukan pada 21 Desember 2011.

Pembangunan akan dilakukan tahun ini, pabriknya menempati lokasi yang sama di Karawang. Kami masih punya lahan yang luas untuk ekspansi. Sebab, kami baru memakai 5-6 hektare (ha) dari total lahan yang kami miliki seluas 10 ha. Semua ini dilakukan karena kami ingin menjadi market leader dalam ketiga produk tersebut. Selain itu, kami akan mampu memenuhi kebutuhan baja konstruksi dalam satu atap (one stop shopping).

Sulitkah menyatukan ketiga lini tersebut?
Tidak dapat dimungkiri bahwa menyatukan ketiga lini ini memang sangat sulit. Justru inilah salah satu bukti bahwa kerja sama karyawan dalam membangun perusahaan begitu penting. Inilah mengapa competitor kami belum bisa seperti kami. Saya melihat mereka banyak keterbatasan dalam menjalani produksi, ditambah lagi dengan birokrasi di dalam yang relatif rumit. Sedangkan kami sebagai perusahaan lokal dan bisnis keluarga memiliki fleksibilitas yang besar. Kami sangat terbuka terhadap masukan, karena semua itu tentu saja ditujukan demi kepentingan perusahaan.

Apa momen paling berharga selama Anda memimpin perusahaan?
Saya merasa setiap momentum sangat berharga. Namun, yang paling monumental adalah ketika saya mampu memaksimalkan kapasitas produksi lini pertama yang memproduksi Galvanized. Saat itu, peningkatan produksi sangat signifikan. Dari awal produksi hanya 1.000 ton per bulan menjadi 5.000 ton per bulan. Itu bukan hal yang mudah, namun berkat keinginan dan kerja sama semua pihak untuk memajukan perusahaan, akhirnya semua tercapai. Saat ini, utilisasi lini produksi pertama kami sudah mencapai 100% dari total kapasitas 100 ribu ton per tahun. Sedangkan untuk lini kedua, kami menargetkan 100% utilisasi dalam 1-2 tahun mendatang.

Saat ini, lini kedua hanya mampu berproduksi dengan kapasitas 40-50% dari utilisasi, padahal total kapasitasnya mencapai 150 ribu ton per tahun. Untuk itu, dalam kurun waktu tersebut, kami akan lebih focus pada pengembangan lini kedua dan ketiga, mengingat keduanya sangat berkaitan. Lini ketiga merupakan produk hilir dari Saranalume atau yang kami sebut dengan Saranalume Color. Ini sama saja dengan genteng metal. Rencananya, lini ketiga berproduksi pada 2013 dan menghasilkan 2.500-3.000 ton perbulan.

Target Anda selanjutnya?
Mencoba untuk mengintegrasikan bisnis baja ini dari hulu ke hilir. Jika 1-2 tahun ini kami fokus di lini kedua dan ketiga yang merupkan produk hilir, dalam waktu 4-5 tahun mendatang kami berencana masuk ke industri hulu. Artinya, kami akan memiliki pabrik bahan baku untuk baja. Kemungkinan pada tiga tahun mendatang kami baru akan mengkaji pembangunan pabrik hulu baja tersebut.

Rencananya, pabrik hulu kami bangun di kompleks pabrik kami sebelumnya, mengingat masih banyak lahan yang belum digunakan. Saat ini, kami menghitung dana investasi yang dibutuhkan. Berdasarkan hitungan kasar kami, dana yang dibutuhkan untuk membangun pabrik tersebut mencapai Rp 500-600 miliar. Kami berencana memperolehnya dari pasar modal. Sebagai perusahaan terbuka, salah satu opsinya bisa berupa penerbitan saham baru untuk menambah modal (rights issue).

Bagaimana dengan target kinerja tahun ini?
Kita menargetkan mampu mencetak pendapatan Rp 1,5 triliun pada 2012, naik 66,6% dibandingkan estimasi pendapatan 2011 sebesar Rp 900 miliar. Pencapaian itu akan dikontribusi meningkatnya volume produksi dan penjualan tahun ini. Sedangkan laba bersih tahun ini kami targetkan Rp 70-80 miliar. Rencananya, kami membagikan dividen 20% tahun ini.

Tahun ini, total investasi yang akan kami alokasikan mencapai Rp 250-360 miliar. Dana yang dialokasikan untuk capex sebesar Rp 50-60 miliar dan modal kerja (operational expenditure/opex) sebanyak Rp 200-300 miliar. Investasi tersebut berasal dari kas internal dan dana hasil IPO. Untuk kas internal, saat ini posisi kami sangat kuat. Sebab, selama 10 tahun beroperasi, kami mencetak laba bersih. Belanja modal akan di digunakan untuk menambah satu lini produksi yang diperuntukkan pada baja lapis aluminium seng (BjLAS) berwarna atau Saranalume Color.

Untuk modal kerja, memang dialokasikan porsi yang besar karena dalam bisnis baja memerlukan pembelian stok bahan baku untuk dua hingga tiga bulan. Terlebih, bahan baku tersebut dibutuhkan untuk memproduksi mencapai 5.000 ton per bulan. Untuk itu, pasokan bahan baku terlebih dahulu dipesan untuk jangka waktu 2-3 bulan. Kami membeli bahan baku dari PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).

Anda sudah merasa sukses?
Belum. Menurut saya, semua yang telah saya capai saat ini masih merupakan permulaan untuk hal yang lebih besar lagi. Momentum permulaan itu ditandai dengan IPO perusahaan kami. Langkah selanjutnya adalah bagaimana menjalani dengan baik sebagai per usahaan terbuka dan menepati janji kepada investor. Ini merupakan tantangan kami pada masa depan. Kami akan menggunakan dana hasil IPO untuk ekspansi pada masa depan. Dengan eskpansi itu, kami bsia meningkat menjadi full capacity dan akan dapat mencetak penjualan hingga dua kali lipat.

Apa filosofi Anda dalam mengelola perusahaan?
Saya anggap membangun perusahaan layaknya membesarkan anak. Dalam membesarkan anak, tentu saja yang paling mengerti adalah kita sendiri. Karena itu, tidaklah aneh apabila saya seringkali turun langsung bersama karyawan lainnya sebagai reaksi cepat di berbagai hal, mulai penjualan, pembelian bahan baku, hingga produksi. Inilah yang membuat kami lebih maju dan lebih cepat dibandingkan kompetitor. Selain itu, untuk mendekatkan diri kepada karyawan, saya menjadwalkan untuk mengunjungi pabrik minimal seminggu sekali. Sekali lagi, prinsip saya adalah bagiamana memajukan perusahaan.

Menurut saya, yang paling penting dalam menjalankan perusahaan adalah mengganggap karyawan sebagai aset penting. Untuk itu, saya selalu menghargai karyawan yang ada di perusahaan ini. Apalagi karyawan yang penuh dedikasi dan berkontribusi terhadap perusahaan. Saya bahkan tidak sungkan-sungkan memberikan reward kepada karyawan sesuai dengan hasil kerja mereka dalam membangun perusahaan. Saya bahkan akan tetap mempertahankan karyawan tersebut. Istilahnya, kalau perlu, saya akan membela karyawan itu.

Dengan seluruh perhatian tersebut, saya yakin akan mampu memupuk loyalitas di tingkat karyawan. Filosofi ini saya pegang karena saya sadar betul bahwa memanage orang merupakan suatu hal yang sangat sulit, terlebih jika jumlahnya ratusan orang. Sebab, sifat orang kan berbeda-beda. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.
Close