ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

“Tidak ada sesuatu yang mustahil jika seseorang mau berusaha. Lewat usaha dan kerja keras, apa saja bisa terwujud.”

Hasan Soputro: Tak Ada Sesuatu yang Mustahil
Senin, 4 Juni 2012 | 11:00

Sepuluh tahun lalu menjadi tonggak penting bagi seorang Humas Soputro. Saat itu, tekadnya membangun usaha sendiri sudah bulat. Sebelum melangkah, dia memohon restu kepada sang ibu.

Semangat Humas Soputro kian menyala, manakala sang ibu merestui langkah yang dipilihnya. “Mudah-mudahan cepat berkembang. Ibu mendukung,” kata sang ibu saat itu.

Saat memohon restu, Humas Soputro pun melontarkan tekad dan cita-citanya kepada sang ibu. “Saya bilang mau bikin usaha sendiri, tidak makan gaji dari orang lain,” tutur ayah tiga anak itu kepada wartawan Investor Daily Edo Rusyanto di Jakarta, baru-baru ini.

Persis pada 28 September 2002, berdirilah PT Kobexindo Tractors. Seiring waktu, kini bendera bisnisnya terus berkibar, merambah segmen yang pada awal pendirian perusahaan belum sempat disentuh. Apa saja kiat Humas Soputro menjalani bisnis alat berat? Kenapa dia memilih bisnis tersebut? Apa obsesinya? Mengapa ia selalu yakin bahwa dengan usaha dan kerja keras, semua yang diinginkan bisa terwujud?

Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria kelahiran Batang, 28 September 1955 tersebut.

Bisa diceritakan awal perjalanan karier dan bisnis Anda?
Sejak 1977 saya tergabung dalam PT United Tractors Tbk. Saya memilih bekerja di perusahaan alat berat itu karena sesuai dengan background sebagai lulusan teknik. Sekitar 15 tahun mengabdi, terakhir posisi saya sebagai sales executive. Kemudian saya bergabung dengan salah satu perusahaan alat berat lainnya. Karier saya di sini berjalan sejak 1993 hingga 2002. Posisi yang saya pegang sebelum memilih berwirausaha adalah direktur pemasaran.

Pada 28 September 2002, saya resmi mendirikan perusahaan sendiri, PT Kobexindo Tractors, perusahaan yang bergerak di bidang distribusi alat-alat berat.

Mengapa Anda memilih bisnis alat berat?
Berbekal pengalaman selama 25 tahun dalam bidang alat berat, saya yakin bisa mandiri di bisnis tersebut. Saya sudah mendalami seluk beluknya. Jejaring yang sudah terbangun menjadi asset penting dalam menjalani bisnis. Mulai dari calon konsumen, apa yang dibutuhkan mereka, hingga pembiayaannya. Semua itu menjadi modal penting dalam bisnis ini.

Pengalaman 25 tahun yang saya geluti dalam bisnis alat berat sesungguhnya membuat kami bukan pemain baru di bisnis tersebut, walau ketika mendirikan perusahaan pada 2002, itu adalah perusahaan baru berdiri.

Permintaan terhadap alat-alat berat dan industrial bakal terus meningkat, paralel dengan bertambahnya   kebutuhan energi dan sejalan dengan kebijakan pemerintah. Selain itu, bisnis ini berkembang searah dengan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan harga komoditas.

Tren kebutuhan alat berat terus berkembang. Pertumbuhan bisnis tambang dan pembangunan infrastruktur di Indonesia membuat permintaan alat berat tak pernah berhenti. Kita tahu, pertumbuhan pertambangan di Tanah Air terus berkembang. Apalagi pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan prasarana lainnya juga terus ditingkatkan oleh pemerintah.

Sejak berdiri pada 2002 yang hanya mendistribusikan eskavator Daewoo, hingga kini, pertumbuhan Kobexindo terus meningkat. Sebagai gambaran, pada 2011 kami mengantongi pendapatan Rp 1,3 triliun dan tahun ini kami targetkan sekitar Rp 2 triliun karena tahun ini total penjualan alat berat bakal mencapai 23.500 unit di Indonesia.

Kami saat ini menjadi market leader untuk pasar menengah, yakni di kelas eskavator 50 ton. Itu sebabnya, kami mendapatkan penghargaan Dealer of The Year dari Doosan pada 2010 dan 2011.

Apa kiat sukses Anda?
Moto yang saya terapkan di perusahaan adalah mari kita bertumbuh bersama atau we grow together. Pemilik, manajemen, dan karyawan harus tumbuh bersama. Ketiganya menjadi satu kesatuan. Bahu membahu. Kami memberi kesempatan kepada seluruh sumber daya manusia (SDM) yang ada untuk bertumbuh bersama. Memberi kesempatan jenjang karier kepada karyawan yang sebesar-besarnya, termasuk jika berpotensi menjadi direktur, ya silakan. Saya pernah merasakan menjadi karyawan, karena itu saya ingin semua karyawan saya berkembang bersama.

Ada pribahasa bilang, no success without you. Kalau tidak ada Anda, kami tidak sukses. Saya tidak memilih untuk menempatkan keluarga atau anak-anak saya dalam jajaran direksi. Para eksekutif yang dipilih berdasarkan kapabilitasnya.

Prioritas kepada SDM dari dalam perusahaan merupakan kebijakan saya. Saat ini, dari enam direksi yang ada, sebanyak empat orang berasal dari dalam perusahaan. Dari internal karyawan kami yang tidak ada hubungan keluarga dengan saya. Artinya, jenjang karier mereka terbuka lebar selama memiliki kemampuan yang dibutuhkan perusahaan.

Bagi saya, tidak ada sesuatu yang mustahil jika seseorang mau berusaha. Dulu, saat saya mendirikan perusahaan bersama teman-teman yang sudah saya kenal sejak 1993, segmen alat berat yang digarap amat terbatas. Kini, kami memiliki produk eskavator, wheel loader merek Doosan, dan off road heavy duty truck merek Daewoo. Selain itu, ada rigid dump truck merek NHL, dan eletric lift truck merek Jungheinrich.

Perjalanan bisnis yang bisa dibilang dari nol hingga kini menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil. Saat mendirikan perusahaan, karyawan saya masih di bawah 20 orang, kini sudah sebanyak 600-an orang. Semua terus berkembang dengan kerja keras dan semangat hidup yang lebih baik pada masa depan.

Saya menerapkan manajemen strategic planning cycle dengan tetap menggunakan balanced score card sebagai alat ukur keselarasan strategi perusahaan ke level operasional. Kenaikan jenjang karier karyawan karena prestasi, bukan karena kedekatan keluarga.  Usaha dan kerja keras bisa merealisasikan apa yang kita inginkan. Semuanya tidak ada yang mustahil, tentu saja dengan seizin Yang Di Atas.

Motivasi seperti apa yang Anda bangun?
Motivasi yang saya bangun kepada diri sendiri dan teman-teman saya adalah yakin bahwa masa depan akan lebih baik dari hari ini. Kerja keras dan membangun kepercayaan mendasari setiap sepak terjang dalam berbisnis. Bisa dibilang, jika 25 tahun sebelum mendirikan perusahaan sendiri adalah tahap belajar maka sejak 2002 bisa dibilang saya ’mulai bekerja’. Tentu dengan keyakinan fundamental yang dimiliki, yakni pengalaman yang cukup baik.

Hal yang tak bisa diabaikan adalah membina hubungan baik dengan para relasi. Saat berhubungan dengan customer, bank, leasing, hingga jejaring pemasaran, saya sebisa mungkin dekat dengan mereka.

Bangun kepercayaan dan saling mengerti dalam menjalani bisnis. Itu penting. Kepada karyawan, saya sampaikan bahwa mereka harus berkembang. Saya ingin mereka bisa berkembang. Syukur-syukur bisa berwirausaha seperti saya. Selama lebih dari 35 tahun menekuni bisnis alat-alat berat, saya percaya, apa yang diraih saat ini juga tidak bisa terlepas dari campur tangan Yang Di Atas.

Bagaimana peran keluarga Anda?
Keluarga sangat berperan bagi saya. Mereka menjadi motivator dalam kehidupan. Bahkan, saat ini, ketika saya hendak membawa Kobexindo masuk ke lantai bursa, anak saya yang sulung selalu mendorong semangat saya. Dia selalu mendoakan dan ingin melihat saya sukses. Begitu juga istri saya.

Dari tiga anak saya, dua perempuan dan satu laki-laki. Si sulung sudah berkeluarga, sedangkan si bungsu kini memasuki usia tiga belas tahun. Setiap akhir pekan, saya selalu usahakan sebisa mungkin untuk bisa bersama anakanak dan keluarga. Setelah bekerja sepanjang Senin hingga Jumat, saya bakal memanfaatkan Sabtu dan Minggu untuk keluarga. Setidak-tidaknya makan malam bersama menjadi salah satu kebiasaan yang kami terapkan. Bisa di rumah atau kami memilih tempat yang cocok dengan selera dan yang suasananya nyaman untuk makan malam bersama.

Saya selalu ajarkan kepada anak-anak bahwa apa yang kita terima atau raih harus disyukuri. Sikap bersyukur menjadi penting agar kita tidak lantas menjadi sombong. Untuk itu, saya selalu memberi contoh kepada anak-anak secara langsung. Bersyukur atas apa yang kita raih juga berarti segala tindak tanduk kita, baik itu kegagalan maupun keberhasilan dalam hidup, selalu atas campur tangan-Nya. Apapun yang kita kerjakan, tanpa ada campur tangan Dia, tidak ada hasilnya.

Saya selalu katakan kepada anak-anak, hidup tidak gampang. Karena itu, saya bertekad dan memberi pendidikan terbaik kepada mereka. Harus dibangun keyakinan bahwa kesempatan itu ada. Dengan kerja keras dan berdoa, saya yakin tidak ada sesuatu yang mustahil dalam kehidupan ini bagi kita yang beriman dan percaya kepada- Nya. Tapi, biarlah semua mengalir apa adanya. (*)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.
Close