ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

“Ikhlas akan membuat semuanya terasa enteng, baik fisik, pikiran, maupun hati.”

HADI SUKRIANTO, Ikhlas Bikin Enteng Semua Beban
Senin, 30 Juli 2012 | 12:08

Anda ingin bekerja tanpa beban, layaknya air mengalir, tapi membuahkan prestasi yang membanggakan? Bekerjalah dengan ikhlas dan jadikan setiap pekerjaan sebagai ibadah. Tak percaya? Tanyalah Hadi Sukrianto.

Orang nomor satu di Bank Jatim ini telah menikmati kehebatan ‘manajemen ikhlas’ selama puluhan tahun. Prinsip itu pula yang ditanamkan Hadi di Bank Jatim kini. Lewat prinsip ikhlas dan ibadah, ia ingin semua bekerja secara total, tidak setengah- setengah, atas dasar tanggung jawab, kebanggaan, dan rasa memiliki yang besar terhadap perusahaan.

“Bila ikhlas menjalani apa pun, kita tidak merasa hal itu sebagai beban, sehingga fisik, pikiran, dan hati akan terasa enteng. Ikhlas dalam bekerja akan mendorong orang berprestasi dan berkinerja lebih bagus,” kata Hadi Sukrianto kepada wartawan Investor Daily Amrozi Amenan dan Hari Gunarto di Surabaya, baru-baru ini.

Hadi, yang ikut menyelamatkan Bank Jatim lewat program restrukturisasi kredit saat krisis moneter mengharubirukan sektor perbankan nasional pada 1998, bahkan yakin betul bahwa manajemen ikhlas bisa menjadikan Indonesia sebagai negara maju.

“Bila semua karyawan, baik di pemerintahan maupun swasta, berprinsip bahwa bekerja adalah ibadah, kondisi Indonesia akan jauh lebih maju dan lebih baik dari sekarang. Orang akan ikhlas bila menganggap bekerja sebagai ibadah,” tutur pria kelahiran Tanjung Karang, 28 Maret 1957, itu.

Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Karier saya tidak ke mana-mana, hampir 32 tahun lamanya atau separuh hidup saya di Bank Jatim. Setelah lulus dari Akademi Akuntansi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (AA-YKPN) Yogyakarta pada 1979, saya memang sempat bekerja di salah satu kantor akuntan di Kota Gudeg itu, tapi hanya seumur jagung karena pada waktu itu saya ingin bekerja di tempat yang dekat dengan keluarga.

Sempat tertarik untuk berkarier di Jakarta karena memang peluangnya saat itu ada. Tetapi karena saya merasa tidak sreg dengan hiruk-pikuk kota Jakarta dan persaingan yang sangat ketat, saya memilih kota Surabaya sebagai tempat untuk melanjutkan karier. Saya pikir dengan bekerja di Surabaya, saya akan lebih dekat dengan keluarga dan kampung halaman saya di Banyuwangi, Jawa Timur.

Di Surabaya, saya tidak langsung mendapatkan pekerjaaan. Tapi dengan pengalaman sebagai auditor dan ijazah akuntansi yang saya miliki, saya optimistis punya peluang untuk bekerja di Surabaya. Saya masih ingat waktu saya indekos di kawasan Ngagel, Surabaya, saya buat beberapa lamaran dan saya kirim ke beberapa perusahaan. Sambil menunggu panggilan dari lamaran itu saya pulang ke kampung di Banyuwangi.

Betul, satu dari beberapa lamaran itu ada yang nyantol, yaitu lamaran yang saya kirim ke Bank Jatim yang waktu itu masih bernama Bank Pembangunan Daerah Jatim (BPD Jatim). Saya diterima dan mulai bekerja di bank ini pada 1982 di bagian yang memang saya sudah punya pengalaman, yaitu sebagai staf auditor.

Itu saya lalui sampai 1988 setelah saya ditunjuk sebagai staf bagian Pengawasan Akuntansi. Setahun kemudian jabatan sebagai kepala Seksi Pengawasan Manajemen. Jenjang mulai meningkat setelah saya diangkat menjadi senior analis Biro Treasury sejak 1990 dan menjadi analis Biro Treasury pada 1993. Baru pada 1994 saya diberi kesempatan menikmati tugas di luar Surabaya, tepatnya di Bank Jatim cabang Pasuruan sebagai pemimpin cabang.

Apa yang membuat Anda bangga berkarier di Bank Jatim?
Krisis moneter yang mendera Indonesia pada 1998 telah mengguncangkan seluruh sendi-sendi perekonomian nasional, termasuk sektor perbankan nasional tak luput dari guncangan krisis ekonomi itu. Bank Jatim juga terkena imbasnya. Bank ini masuk program bank rekap dan terancam dilikuidasi bila tak memenuhi persyaratan sebagai bank rekap. Situasi yang cukup berat dihadapi Bank Jatim. Agar bisa keluar dari kondisi kritis,

Bank Jatim saat itu butuh penyelesaian kredit bermasalah segera, selain butuh suntikan dana segar. Dalam situasi ini, saya kemudian ditarik ke kantor pusat dan dipercaya sebagai pemimpin Kelompok Penyelamatan Kredit Divisi Kredit untuk menangani kredit bermasalah yang jumlahnya waktu itu sekitar Rp 300 miliar. Masih di seputar penyelesaian kredit, setahun kemudian saya ditunjuk menjadi coordinator 1 Penyelamatan Kredit Menengah Satgas Penyelamatan Kredit.

Di sini, selama ikut terlibat dalam penyelesaian kredit, saya merasa punya pengalaman paling berharga selama saya berkarier di Bank Jatim dan saya merasa bangga bisa ikut terlibat dalam penyelesaian kredit bermasalah. Sebuah penyelesaian yang menentukan hidupmatinya Bank Jatim.

Lebih bangga lagi, karena usulan-usulan saya tentang penyelesaian kredit bermasalah itu bisa diterima oleh direksi. Di sini pula saya merasakan bagaimana seorang anak buah merasa bangga bila usulannya diterima oleh atasan. Saya sudah mengalaminya. Di sini saya mendapat pengalaman bahwa dalam penyelesaian kredit bermasalah, pendekatan persuasive yang mengedepankan kekeluargaan dengan mencarikan jalan keluar lebih efektif ketimbang dengan asal main gertak dan tidak mau tahu kesulitan orang (debitor).

Keberhasilan saya selama ikut dalam tim penyelesaian kredit bermasalah ini bisa jadi salah satu hal yang ikut mengantarkan saya dipercaya menangani kredit-kredit khusus dalam bebeberapa tahun kemudian, mulai sebagai pimsubdiv kredit khusus pada 2000, pemimpin Divisi Kredit Khusus pada 2004, sampai pemimpin Divisi Kredit pada 2006. Pada 2007, saya dipercaya sebagai direktur Kepatuhan. Dan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Bank Jatim yang berlangsung tertutup di gedung negara Grahadi Surabaya pada 14 April 2011, saya diangkat menjadi direktur utama.

Kiat Anda mencapai kesuksesan?

Saya tidak mempunyai kiat-kiat khusus dalam berkarier. Tapi semua pekerjaan yang saya lakukan saya landasi dengan prinsip bahwa semuanya adalah ibadah. Karena ibadah, saya juga mengerjakannya dengan ikhlas. Keikhlasan itulah yang membuat semua yang saya lakukan seperti tidak ada beban, semua mengalir layaknya air mengalir dari pegunungan. Kemudian tidak kalah pentingnya adalah membentuk team work yang solid. Semua pekerjaan di kantor akan mudah dilakukan dalam team work yang solid itu.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?
Saya pernah jadi anak buah. Seorang anak buah akan senang bila usulan atau masukannya bisa diterima oleh atasannya. Dan pengalaman saya juga menunjukkan betapa penting masukan atau usulan dari anak buah. Masukan anak buah umumnya bagus-bagus, tinggal bagaimana kita membuat keputusan yang tepat. Karena itu, untuk penyelesaian segala persoalan di kantor, saya mengedepankan penyelesaian secara bersama-sama, meskipun sebagai pemimpin keputusan ada pada saya, tapi proses penyelesaian tetap team work tadi.

Strategi Anda dalam memajukan perusahaan?

Apa yang terlintas dalam pikiran saya saat diangkat menjadi Dirut Bank Jatim adalah bagaimana bisa fokus mewujudkan target yang telah ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB). Pada 2011, Bank Jatim menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 21%, kredit 25%, aset 16,87%, dan laba 5,12%. Saya melihat bisnis di Jawa Timur  berkembang amat pesat dan ini merupakan peluang bagi Bank Jatim untuk tumbuh menjadi lebih besar dan berkualitas.

Provinsi Jawa Timur juga merupakan penyumbang terbesar ke-2 bagi perekonomian nasional, yakni sekitar 15%. Pada 2011, pertumbuhan ekonomi Jatim tercatat 7,2%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 6,5%. Dengan berkembangnya potensi usaha di Jawa Timur ini, saya menyadari semakin banyak pesaing yang melihat potensi untuk melakukan penetrasi terhadap pasar perbankan di daerah ini. Karena itu, saya ingin membawa bank ini bisa memenangi persaingan menjadi BPD Regional Champion.

Berbagai strategi pengembangan usaha Bank Jatim telah disiapkan, sehingga berbagai target jangka pendek dan target menengah bisa berjalan mulus menuju misi akhir menjadi BPD Regional Champion. Salah satu strateginya adalah meningkatkan program layanan prima, diikuti transformasi teknologi informasi yang mendukung perkembangan produk dan aktivitas pelayanan.

Tentu saja semua itu butuh investasi yang tidak sedikit. Di sinilah perlunya tambahan modal. Salah satunya melalui penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) saham yang diharapkan akan membuat rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) Bank Jatim bisa naik dari 19,4% saat ini menjadi 22%. CAR sangat penting, karena menyangkut kredibilitas dan kekuatan modal bank.

Dalam tiga tahun terakhir, Bank Jatim tidak mendapatkan modal dalam jumlah yang besar. Dengan ekspansi yang terus agresif, CAR Bank Jatim akan terus menyusut. Jika tak ada IPO, CAR Bank Jatim diperkirakan bisa merosot menjadi 16%. Memang, CAR sebesar 16% masih sangat aman dan untuk melakukan ekspansi masih banyak ruang, karena minimal CAR hanya 8%. Tapi, sesuai kesepakatan BPD Regional Champion yang ditandatangani BPD-BPD dan Bank Indonesia, CAR BPD harus 15% untuk memperkuat ketahanan kelembagaan. Makanya, CAR 16% itu riskan. Kalau IPO, CAR Bank Jatim bisa naik 22%, lalu dibuat ekspansi tahun ini akan kembali jadi 18-19%. Sudah aman. Bank Jatim sudah berhasil melakukan transformasi teknologi. Jumlah pemegang kartu pegawai elektronik meningkat tajam. Dari 2007 yang masih berjumlah 153 ribu menjadi 367 ribu pada 2011. Demikian juga dengan pemegang kartu ATM, pada 2007 masih 97 ribu, tahun lalu sudah 679 ribu.

Di sisi lain, Bank Jatim akan meningkatkan jumlah jaringan, termasuk bekerja sama pelayanan dengan bank lain di luar Jawa Timur. Ini semua butuh tenaga SDM yang mesti ditingkatkan profesionalismenya, sehingga layanannya tetap dipercaya masyarakat.

Selain peningkatan pelayanan dan transformasi teknologi informasi, Bank Jatim juga lebih focus memberikan pembiayaan kepada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Saat ini, nasabah UMKM Bank Jatim berjumlah 292.823 nasabah, naik dari 2010 yang berjumlah 288.014 nasabah.

Realisasi kredit UMKM pada 2011 juga naik menjadi Rp 13,5 triliun dari 2010 yang sebesar Rp 11 triliun. Bank Jatim juga merupakan salah satu kreditor sektor konsumsi yang cukup besar dengan pangsa pasar 14,73% dari pasar kredit konsumsi di Jawa Timur. Jumlah kredit multiguna pada 2011 mencapai Rp 8,9 triliun.

Contoh gebrakan Anda yang paling membanggakan di perusahaan?
Apa yang berhasil dicapai perusahaan bukan semata-mata karena saya, tetapi berkat kerja sama tim. Saya merasa sesuatu yang paling berharga dan paling membanggakan selama di Bank Jatim adalah ketika saya ikut dalam penyelesaian kredit bermasalah saat krisis moneter 1998.

Itulah kebanggaan dan pengalaman paling berharga saya, merasa ikut menyelamatkan Bank Jatim dari ancaman likuidasi. Itu sebabnya, sebagai pemimpin saya harus menumbuhkan atmosfer agar bawahan dan karyawan merasa bangga terhadap apa pun di perusahaan ini, bangga terhadap pekerjaannya, dan bangga telah membesarkan perusahaan.

Apa filosofi hidup Anda?
Biarlah semua mengalir apa adanya. Sesuatu yang dirancang secara matang terkadang tak berjalan mulus. Bahkan, bila rencana-rencana yang digagas itu tidak sesuai yang diharapkan justru mengundang rasa sakit yang mendalam. Saya termasuk orang yang tidak ingin merasa sakit hati dengan semua rencana yang gagal terwujud. Ini bukan berarti hidup tanpa rencana. Tetap saja ada, tetapi sedapat mungkin tidak terlalu ngoyo (ambisius) dengan rencana itu. Bila harus sampai ngoyo, sakit kan rasanya kalau tidak terlaksana.

Jadi, semuanya saya biarkan mengalir saja apa adanya. Saya mendasari semua yang saya lakukan, apakah itu menyangkut pekerjaaan di kantor atau di rumah, adalah ibadah. Karena itu, saya lakukan dengan ikhlas hati. Saya merasakan dengan keikhlasan ini sepertinya tidak ada beban terhadap setiap pekerjaan yang saya lakukan. Keikhlasan membuat semuanya jadi terasa enteng, baik fisik, pikiran, maupun hati. Ikhlas dalam bekerja akan mendorong orang berprestasi dan berkinerja lebih bagus. Bila seluruh karyawan di Indonesia, apakah di pemerintahan atau swasta, berprinsip bekerja adalah ibadah, negara ini kondisinya jauh lebih baik dan maju dari sekarang. Karena dengan begitu, karyawan akan ikhlas dan pasti kinerjanya jauh lebih bagus.

Obsesi yang belum Anda capai?
Saya merasa senang sudah bisa menjalankan semua tugas yang diamanatkan kepada saya. Mimpi saya sebelum mengakhiri karier di Bank Jatim adalah bagaimana menjadikan Bank Jatim sebagai bank terbesar di provinsi ini dan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Jawa Timur.

Bagaimana Anda menyeimbangkan hidup, baik dalam bekerja, berkeluarga, maupun bermasyarakat?
Semuanya saling menunjang, karena itu harus berjalan seimbang. Kalau sekarang saya punya stik golf, sebetulnya juga dalam rangka keseimbangan itu. Saya mengikuti situasi yang ada sekarang. Begitu saya nanti tidak di lingkungan sekarang, bisa jadi stik golf ini tidak terpakai lagi.

Apa yang Anda kejar dalam hidup?

Ambisi boleh-boleh saja. Tapi barangkali saya bukan termasuk orang yang ambisius. Dalam hidup ini saya membiarkan semua berjalan apa adanya. Saya tidak punya obsesi apa yang akan saya perbuat ke depan. Bahkan, sampai sekarang saya juga belum punya rencana apa yang akan saya kerjakan setelah pensiun dua tahun lagi nanti. Sesuatu yang biasanya sudah terpikirkan oleh orang-orang pada umumnya menjelang masa pensiun. Yang terbayang setelah pensiun nanti adalah menikmati masa-masa pensiun.

Peran keluarga dalam karier Anda?
Terutama istri saya tercinta yang selalu memberi dukungan selama saya berkarier. Saya berhasil menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada saya berkat dukungan dia. Dukungan itu begitu luar biasa besarnya. Istri adalah bagian terpenting dalam kehidupan saya, baik sebagai professional maupun sebagai pribadi. (*)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.
Close