ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

FX Sugiharto Gunawan, Lupakan Masa Depan, Mengalirlah Seperti Air
Senin, 7 November 2011 | 11:00

Ketika orang lain ramai membicarakan target, FX Sugiharto Gunawan malah membuang jauh-jauh, mengubur dalam-dalam, dan melupakannya. Tak hanya dari perusahaan, tapi juga dari kehidupan pribadinya. Hasilnya, Maestro 90 Advertising, perusahaan miliknya, bisa eksis hingga kini. Ia bersama keluarga dan karyawannya pun bisa hidup tenang, nyaman, dan tentera

Para pebisnis, pemilik, dan pengelola perusahaan umumnya menjadikan target sebagai indikator kinerja. Dari pencapaian target itulah mereka bisa mengukur maju-mundurnya perusahaan. Target juga digunakan untuk mengukur prestasi atau pencapaian diri seseorang.

Tapi, itu tak berlaku bagi FX Sugiharto Gunawan. Pendiri, pemilik, sekaligus bos Maestro 90 Advertising ini menganggap target sebagai beban yang akan mengantarkan seseorang pada kegagalan.

“Kalau terbelenggu target, kami semua bisa kendur, karena energinya habis. Bagaimana bisa berhasil kalau sehari-harinya sudah lemas karena stres dikejar-kejar target,” ujar Sugiharto Gunawan kepada wartawan Investor Daily Abdul Muslim dan Abdul Aziz serta pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.

Rupanya, Sugiharto Gunawan punya pengalaman getir gara-gara target. Sepuluh tahun silam, ayah tiga anak ini sempat terkena depresi. Lewat pergulatan batin yang berat dan panjang, ia akhirnya berhasil melalui titik balik kehidupannya.

“Ternyata, kalau sedang sakit saya tidak bisa merasakan seluruh hal yang telah saya kejar dan saya capai, yang saya sebut target dan prestasi. Intinya, kita hanya bisa bekerja keras dan berdoa. Masa lalu itu tidak ada, yang ada adalah yang riil saat ini. Mengenai nanti atau besok, itu urusan Tuhan,” paparnya.

Meski bergerak tanpa target, Maestro 90 bisa eksis dan terus berkembang. Bahkan, perusahaan ini leading di bidang jasa periklanan dan public relations (PR) perusahaan-perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Kami bisa eksis karena menjunjung tinggi kredibilitas,” tutur pria kelahiran 25 Oktober 1949 tersebut.

Apa kiat lain Sugiharto Gunawan hingga ia berhasil mendirikan, mengembangkan, dan mempertahankan perusahaan yang dirintisnya? Mengapa ia berpegang pada prinsip kekinian dan tak mau melihat ke depan? Berikut petikan lengkapnya.

Bisa cerita perjalanan karier dan bisnis Anda?
Saya dulu orang media massa. Saya pernah bekerja di sebuah surat kabarnasional. Waktu itu saya ditempatkan di account executive (AE). Pertama bekerja, saya ditempatkan di bagian kurir dengan gaji Rp 1.500 per hari.

Setelah enam bulan, saya diangkat menjadi calon karyawan dan dikasih sepeda motor. Setahun kemudian, saya diangkat menjadi karyawan, hingga akhirnya ditempatkan di bagian AE. Tapi, saya sering dipercaya untuk memotret, bahkan menulis.

Dari situlah saya punya networking yang luas. Saya punya akses, sampai akhirnya mendirikan sendiri perusahaan ini, tepatnya pada 1990, sesuai namanya, Maestro 90. Maestro berarti ahli, ulung, piawai. Maksudnya, kami ahli atau piawai memuaskan pelanggan.

Dulu, cita-cita saya sebenarnya ingin kuliah di teknik sipil atau kedokteran. Karena dari keluarga miskin, saya nggak bisa kuliah. Saya ini lulusan SMA. Saya pernah di Akademi Teknologi Negara di Jetis, Yogyakarta. Tapi, hanya terdaftar, tak pernah kuliah karena tak punya uang untuk bayar ongkos bus. Saya bersyukur, sekarang semua anak saya sarjana.

Perusahaan Anda leading di bidang advertising dan ke-PR-an perusahaan-perusahaan terbuka. Apa kiatnya?
Ini juga merupakan bagian dari pengalaman saya bekerja di media massa. Saat bekerja di media dulu, saya merasa ada sesuatu yang harus kita pegang teguh, yaitu kredibilitas. Kredibilitas adalah segala-galanya. Roh media ada di kredibilitas. Itu yang mengilhami saya. Saya menjadikannya sebagai roh perusahaan ini, karena di bidang kami pun kredibilitas adalah yang paling utama. Jadi, kami bisa berkembang karena kami tahu roh media. Agar kredibel, kami haru bekerja profesional berdasarkan tatanan bidang masing-masing.

Batasan kredibilitas menurut Anda?
Karena kenal wartawan, bukan berarti kami kami bisa “begini-begitu”, sehingga seolah-olah menjual keredaksian, seolah-olah redaksi bisa diinter vensi atau diatur. Itu nggak boleh. Kami harus memegang teguh etika. Kalau tidak dipahami secara lahir-batin dan tidak mengerti roh media, saya kira orang tak akan mengerti. Itu yang membuat kami dipercaya media-media massa di satu sisi, dan dipercaya klien-klien kami di sisi lain. Saya tidak pernah menyalahgunakan bidang masing-masing.

Saya sangat menghormati bidang mereka sendiri-sendiri. Jangan sampai terjadi conflict of interest. Dalam bekerja, kami juga punya komitmen yang tinggi untuk mengedepankan kecepatan, ketepatan, harga tidak mahal, karya bagus, dan ekstra layanan. Harga tidak mahal berbeda dengan harga murah. Kami tidak mau menggunakan itu karena bisa-bisa nanti malah “nyuri”.

Jika ternyata ada klien yang “nakal”?
Media massa itu hebat. Mereka punya cara yang luar biasa untuk mengungkap fakta dan kebenaran. Sepanjang perusahaan yang menjadi klien kami itu benar dan sungguhsungguh mau “jualan”, biasanya kami sangat dibantu media. Tapi kalau Cuma mau “sulap-sulapan”, biasanya kami tidak pernah mau minta bantuan media. Itu mengorbankan nama baik kami, Maestro.

Ada semacam garansi dari kami dalam hal kredibilitas. Bagi kami, ini menyangkut kepercayaan seumur hidup. Itu nggak bisa dibeli dengan uang. Kami harus konsisten. Apalagi emiten kan dituntut menjunjung tinggi prinsip-prinsip good corporate governance.

Bagaimana cara Anda memimpin dan mengelola perusahaan?
Sebaiknya kalau ingin menjadi pemimpin yang baik, kita harus menjadi pelayan yang baik. Apalagi sesuai nama kami, Maestro, berarti kami harus mampu melayani dengan baik. Maestro bukan pemain ulung, tapi Maestro melayani dengan baik. Itu yang saya tanamkan kepada para karyawan.

Prinsip dan nilai-nilai yang Anda pegang dalam bekerja?
Saya tidak mau melacurkan diri, saya tak mau ada benturan kepentingan. Saya juga tidak mau mengejar prestasi. Sebab, jangan lupa, terkadang kita bisa tergoda macammacam karena prestasi. Dalam bekerja pun, saya tidak pakai target-targetan. Kalau terbelenggu target, kami semua bisa kendur, karena energinya habis. Bagaimana bisa berhasil kalau sehari-harinya sudah lemas karena stres dikejar-kejar target.

Makanya, di Maestro, kalau ada orang mau bekerja berdasarkan pikiran dan target, nggak bakal saya pakai. Sebaliknya, kalau dia dilandasi kesungguhan, walau nggak ada background, tapi punya keinginan bekerja, itu malah yang saya ambil. Karyawan Maestro diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berkarya dan berdedikasi. Kami tak pernah membatasi. Saya bersyukur, Maestro bisa eksis sampai ulang tahunnya yang ke- 21 pada 1 November tahun ini.

Apa yang melatarbelakangi prinsip Anda?
Saya ini kan dulu orang yang miskin sekali. Saya dulu masuk ke Jakarta tahun 1981, saya hanya bawa anak pertama yang waktu itu usianya baru satu bulan dan kopor. Saya masuk ke Jakarta dengan menjual gelang istri saya. Saya jual Rp 400 ribu, lalu saya ngontrak di Glodok Atas. Di sana, saya banyak bergaul dengan orang-orang Betawi asli. Beberapa di antaranya saya ajak bekerja di Maestro sampai sekarang. Maestro memang cepat tumbuh.

Titik balik kehidupan saya terjadi pada 2001. Saya sempat kena depresi. Waktu itu saya sedang jaya-jayanya. Ternyata, kalau sedang sakit saya tidak bisa merasakan seluruh hal yang telah saya kejar dan telah saya capai, yang saya sebut target dan prestasi.

Ternyata, dalam hidup yang penting sehat, selamat lahir dan batin, sehat jiwa dan raga. Orang yang sedang dalam ketakutan dan kekhawatiran, meskipun punya uang dan harta benda banyak, ternyata nggak enak. Wah, depresi yang saya alami sulit dilukiskan, pokoknya kepingin bunuh diri saja. Padahal, waktu miskin, saya tidak pernah ingin bunuh diri.

Awalnya, saya termasuk orang yang penuh dengan target. Target-target, serang-serang, hajar terus. Saya sangat agresif, saya nggak kenal lelah. Apa yang saya kejar dalam dua minggu sampai 20 hari yang akan datang, semuanya hafal di luar kepala. Ada anak buah yang targetnya meleset sedikit saja, pasti kena semprot. Tapi, itu semua tidak membuat saya happy. Semua hanya di lapis luarnya saja. Itu semua hanya pamor, dan paling jelek pamer.

Akhirnya, saya kena depresi. Kalau bisa, jangan kena depresi deh. Orang yang terkena depresi itu berada dalam kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran yang amat sangat. Bahkan, kita tidak percaya sepenuhnya atau tidak mengimani apa yang seharusnya kita imani karena memberhalakan keduniawian.

Saya kena depresi selama tiga bulan, mengalami keterpurukan mental. Saya membuat kar yawan, anak, dan istri saya takut setengah mati. Begitu melihat saya, mereka seperti melihat setan.

Kesimpulan dari titik balik kehidupan Anda sebetulnya apa?
Kita hanya bisa bekerja keras dan berdoa. Masa lalu itu tidak ada, yang ada adalah yang riil saat ini. Mengenai nanti atau besok, itu urusan Tuhan. Jangan sekali-kali melewati batas alam ini. Orang beriman bagi saya adalah orang yang selalu berkomunikasi dengan Tuhan.

Bagaimana bisa berkomunikasi dengan Yang di Atas kalau saya hanya menuruti keinginan pikiran. Yang paling jahat itu kan keinginan pikiran. Rasa itu hanya ada dua, yaitu senang dan tidak senang. Mau dan tidak. Tapi, kalau pikiran bisa 100 cabang. Intinya, kepekaan harus diasah menjadi satu, berpikirlah kekinian. Jangan mau pasang target, baik untuk nanti maupun yang akan datang atau bahkan mau mengulang sukses yang lalu.

Obat depresi cuma satu, yaitu komitmen bahwa saya ingin berubah. Berubah dari alam yang menyasar, masuk ke alam saat ini, hadir di sini, saat ini. Ranah nanti dan yang akan datang adalah ranahnya Tuhan. Bukan hal yang pasti, bukan ranah kita. Siapa yang bisa memastikan kondisi setahun ke depan? Atau besok, bahkan nanti dari menit ke menit, detik ke detik? Kuncinya ternyata ada di realitas, saat ini, hadir di tempat ini. Mengalir saja seperti air.

Siapa yang menginspirasi Anda?
Saya punya guru meditasi yang mengingatkan saya bahwa yang penting adalah kekikinian. Setelah itu, jadilah diri sendiri. Kalau kita ingin menjadi diri orang lain, rumput tetangga lebih hijau. Ketika merasa tertekan, saya bermeditasi. Saya mengendapkan pikiran, saat ini saya berada di tempat ini, kemudian saya fungsikan seluruh indera saya, mata saya, pendengaran saya, cecap saya, napas saya, perasaan di pemukaan kulit saya. Begitu pikiran berhenti, ayem-nya nggak ketulungan, sangat tenang.

Yang menasihati saya waktu depresi adalah tukang becak, Pak Tua, dia sekarang masih hidup. Saya tanya, Bapak takut mati nggak? Pak Tua jawab, mati kok ditakutin. Saya kaget. Terus, saya tanya juga ke orang Betawi penjual minyak keliling. Bapak takut miskin nggak? Dia jawab, masya Allah, meskipun saya dorong- dorong gerobak, alhamdulillah saya bisa beli rumah, menyekolahkan anak sampai bangku kuliah. Anak saya waktu itu masih kecil-kecil. Dari dua narasumber itu terungkap rasa syukur dan ikhlas, dengan seluruh kesusahannya dalam kehidupan ini. Luar biasa itu. Berarti harus masuk realitas kan? Orang hidup punya masalah itu pasti. Kalau nggak mau menghadapi masalah, ya mati saja.

Berarti, semua bermuara pada rasa syukur?
Ya. Kalau menjadi diri sendiri, akhirnya inilah aku dengan kekuranganku. Akhirnya aku bisa memperbaiki meskipun sedikit. Yang muslim, ayo shalat lima waktu, yang Katolik silakan berdoa. Begitu pun yang beragama lain. Mari berkomunikasi dengan Tuhan dan bersyukur bahwa kita masih bisa bekerja.

Nah, nikmat ini kita syukuri dengan bekerja serius, bekerja sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Kalau bicara masalah kekurangan, berapa pun nggak ada cukupnya. Saya sampai sekarang menggunakan tolok ukur Rp 1. Kalau dapat untung Rp 10 ribu, kalikan dengan Rp 1, keuntungan saya berarti 1.000%.

Jangan menjadi orang yang tidak atau kurang bersyukur. Walaupun tak punya banyak uang sekarang, alhamdulillah kita masih bisa melihat, mendengar, merasakan, dan mencecap. Coba kalau salah satunya dicabut, kita nggak merasakan nikmat hidup lagi. Makanya dalam ajaran semua agama, yang harus diimplementasikan adalah bersyukur, kuncinya di situ. Sebab, anugerah terbesar adalah hidup itu sendiri, bukan tetek-bengek yang ada di pikiran. Prinsip ini membuat kehidupan saya sekeluarga tenang sampai sekarang.

Apa obsesi Anda?
Saya tak punya target dan obsesi. Justru saya terkaget-kaget, dulu tak punya pekerjaan, rumah, dan anakistri, kok saya sekarang punya semuanya. Doa saya sewaktu miskin dulu, bisa selamat dan sehat lahir maupun batin. Saya hanya ingin bisa selamat dan bisa sehat lahir-batin, dengan anak dan istri saya. Jalani semuanya, tapi hati-hati, ambil yang maksimal, tapi jangan kemrungsung (terburu-buru).

Anda sudah merasa sukses?
Bukan sukses, saya merasa bersyukur dengan hidup berkecukupan. Orang yang bisa melampaui kehidupan ini dengan baik, dengan selamat serta sehat jasmasni dan rohani, itu baru orang sukses. Saya tak punya obsesi, mengalir saja. Tuhan lebih tahu apa yang saya perlukan.

Filosofi hidup Anda?
Saya harus hidup dengan damai dan sukacita dalam kesejahteraan. Yang penting bagi orang hidup itu kan selamat lahir dan batin. Apa gunanya punya harta banyak kalau nggak sehat lahir dan batin? Ini juga saya turunkan ke anak-anak saya.




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close