ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

MARZAN AZIZ ISKANDAR:

Fokuslah pada Satu Hal
Senin, 16 Januari 2012 | 11:43

Fokus pada satu hal ternyata sangat penting dalam meraih kesuksesan. Setidaknya prinsip itulah yang telah mengantarkan Marzan Aziz Iskandar ke puncak kariernya saat ini sebagai kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Benarkah bangsa Indonesia akan lebih mudah sejahtera jika menguasai teknologi?

Menghabiskan masa kecilnya di kota kecil Pagaralam, Sumatera Selatan, tidak memupus impian Marzan Aziz Iskandar untuk berkarya di dunia teknologi. Tertarik pada bidang teknologi sejak kecil menuntunnya menimba ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB), untuk kemudian bekerja di BPPT, hingga menjadi orang nomor satu di lembaga tersebut.

Bagi pria kelahiran 18 Mei 1958 ini, teknologi memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Itu sebabnya, teknologi harus dikembangkan, dikelola, dan dikendalikan penggunaannya.

“Dalam konteks nasional, penguasaan dan pemanfaatan teknologi merupakan faktor kunci untuk meningkatkan daya saing, kemandirian, dan kesejahteraan rakyat Indonesia,” kata Marzan kepada wartawan Investor Daily Imam Suhartadi dan Imelda Rahmawati serta pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.

Berikut petikan lengkap wawancara dengan pengagum mantan presiden BJ Habibie ini.

Kenapa Anda tertarik menggeluti bidang teknologi?
Saya berasal dari kota kecil yang mayoritas penduduknya hidup berkebun. Namun, kebetulan keluarga saya memiliki pabrik kopi. Saya sering ditugaskan untuk menjaganya. Berawal dari sana, saya sering memperhatikan hal-hal teknis, seperti alat pemecah kopi. Dari sana juga saya mendaftar dan kuliah di Teknik Elektro ITB dengan penjurusan teknik tenaga listrik.

Lulus kuliah, saya langsung mendaftar ke BPPT melalui proses CPNS. Terus terang, saya tertarik mendaftar ke BPPT karena rasa kagum kepada kepala BPPT saat itu, yaitu Pak BJ Habibie. Pokoknya, saat itu yang ada dalam pikiran saya adalah mengikuti jejak Habibie di BPPT. Padahal, saya menerima dua tawaran untuk menjadi dosen di universitas yang berbeda. Saya juga sempat daftar ke pabrik baja, namun akhirnya saya tetap memutuskan ke BPPT.

Pak Habibie menurut saya ketika itu adalah sosok yang hebat. Saat itu, sudah ada orang Indonesia yang begitu pintar di bidang teknologi. Karena itu, saya mengikuti jejaknya untuk berkarier di BPPT.

Bagaimana perjalanan karier Anda di BPPT?
Saya masuk di BPPT pada 1984. Setahun kemudian, saya diberi kesempatan mengejar gelar master (S2) dan doktor (S3) di Universitas Tokai, Jepang. Di sana saya menempuh pendidikan selama lima tahun di Jepang. Jurusan yang saya pilih waktu itu teknik listrik. Saya baru kembali ke Indonesia pada 1994. Sekembalinya dari Jepang, saya mendapat posisi sebagai peneliti di BPPT.

Sebetulnya tidak pernah terpikir bahwa suatu saat saya akan menjadi seperti Pak Habibie, karena memang saya tidak tertarik menduduki jabatan di birokrasi. Namun, pada 2000, saya diangkat menjadi kepala Biro Perencanaan. Pada 2002, saya diangkat lagi menjadi sekretaris hingga sekarang menjabat sebagai kepala BPPT. Saya kaget juga ketika diserahi jabatan tersebut. Tapi saya tetap terima karena panggilan tugas. Sebetulnya ketika masuk dan bekerja di BPPT, saya hanya ingin jadi peneliti.

Pendapat Anda tentang teknologi di Indonesia?

Sebenarnya bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa terkaya di dunia, dengan sumber alam (SDA) yang banyak, namun masyarakatnya hingga saat ini belum sejahtera. Mengapa? Karena SDA tersebut belum memiliki nilai tambah, sehingga tidak bisa dinikmati oleh masyarakat. Untuk menambah nilai SDA tersebut diperlukan peran teknologi.

Saat ini BPPT mempunyai misi ‘Teknologi untuk Rakyat’ yang juga berangkat dari filosofi nilai tambah tersebut. Jadi, kami harus berikan teknologi yang tepat kepada masyarakat. Ada teknologi yang memberi nilai tambah di Jakarta, namun teknologi tersebut tidak diperlukan di sana, maka kami cari yang memerlukannya. Ternyata teknologi tersebut diperlukan oleh orang Papua. Jadi, kami beri tahu mereka dan kami bantu agar mereka menggunakannya secara tepat. Penggunaan teknologi tersebut akan bisa meningkatkan kesejahteraan mereka, misalnya memberikan lapangan pekerjaan.

Apa program utama BPPT ke depan?

Program kami ke depan mengacu pada lima peran yang dimiliki BPPT, yaitu lembaga intermediasi, lembaga yang melakukan audit teknologi, lembaga yang melakukan technology clearing house, melakukan pengkajian, serta pemberian solusi teknologi. Melalui perannya sebagai lembaga intermediasi , BPPT harus bisa menger ti apa yang diperlukan industri, instansi pemerintah lain, apakah itu pemerintah daerah atau pusat serta badan layanan umum.

Setelah mengetahui teknologi apa yang dibutuhkan, kemudian dicarikan teknologinya dari lingkungan BPPT, ataupun dari lembaga-lembaga penelitian lain, seperti universitas. Kalaupun tidak ada, kami carikan dari luar.

Bagaimana peranan audit teknologi yang dilakukan BPPT?
Kebetulan saya juga menjadi ketua Ikatan Audit Teknologi Indonesia (IATI). Peranan audit teknologi yang dilakukan BPPT bertujuan memberikan perlindungan kepada konsumen dan menjaga keamanan penggunaan teknologi. Audit teknologi penting, karena pemanfaatan teknologi kadangkala diikuti dampak negatif, bahkan dapat membahayakan individu.

Oleh karena itulah, audit teknologi dibutuhkan untuk mengetahui kesesuaian suatu produk teknologi terhadap standar atau kaidah spesifikasi teknologi tertentu dalam proses rekayasa yang diawali riset, pengembangan, design engineering, dan pengoperasian teknologi. Melalui audit teknologi, perekayasa dapat mengetahui kode etik yang benar.

Proyek apa saja yang pernah dilakukan audit teknologi?

BPPT sebagai salah satu lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK) mempunyai wewenang dan sebagai pionir dalam melakukan audit teknologi, hal ini ditandai pembentukan unit Pusat Audit Teknologi (PAT) di BPPT pada 2001. Pemerintah mendukung hal itu dengan memberikan kepercayaan dan dukungan pembiayaan kepada BPPT untuk melakukan audit teknologi di berbagai BUMN, di antaranya PT Dirgantara Indonesia (PTDI), PT Pindad, PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT PAL, dan PT Len Industri.

BPPT juga pernah memanfaatkan audit teknologi untuk investigasi akibat kecelakaan atau bencana pemanfaatan teknologi, seperti pada investigasi gardu listrik di Cawang, investigasi Jembatan Ampera, dan terakhir runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara.

Suka-duka selama berkarier di BPPT?
Hambatan pasti selalu ada, di mana pun kita bekerja. Bisa dibilang, ketika saya masuk jadi CPNS dulu, gaji yang didapatkan kecil. Namun saya tahu, pendapatan adalah fungsi dari pekerjaan. Jika pekerjaan tersebut kita tambah, pasti pendapatan akan naik juga. Oleh karena itu, dulu saya berpikir ingin menambah pekerjaan, namun bukan berarti saya menyambi di luar BPPT. Saya mencari pekerjaan di luar dan membawanya untuk dikerjakan di BPPT.

Sebagai contoh, dulu sebagai peneliti, saya sering mencari pekerjaan misalnya ke PLN atau perusahaan lain. Nanti setelah pekerjaannya ada, saya bawa ke BPPT dan dikerjakan bersama-sama dengan teman BPPT lainnya. Menurut saya, jika saya produktif maka saya bisa maju.

Apa prinsip hidup Anda?
Saya berusaha selalu fokus. Jika memang saya memiliki keinginan maka saya akan fokus mengejarnya. Dulu, ketika masih menjadi peneliti pada 1994, saya fokus berkata pada diri saya bahwa dalam jangka waktu 10 tahun ke depan saya harus sudah menjadi peneliti utama. Namun memang belum kesampaian, karena saat ini saya juga ingin fokus pada kegiatan birokrasi dahulu.

Bisa dibilang, ini bentuk fokus saya juga karena sebenarnya banyak teman-teman saya yang menjabat di birokrasi namun bertindak juga sebagai peneliti. Tetapi saya tidak, saya fokus dulu di jabatan birokrasi, mungkin setelah di sini selesai baru saya kejar peneliti utama.

Obsesi Anda yang belum tercapai?
Suatu saat saya ingin melihat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju di bidang teknologi. Perkembangan teknologi yang maju akan membantu memudahkan bangsa ini menuju kesejahterahan. (*)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close