ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

Budiarto Halim, Hidup Harus Seimbang
Senin, 21 November 2011 | 12:07

Banyak orang yang tanpa sadar mengabaikan keseimbangan hidup. Padahal, keseimbangan hidup sangat penting. Budiarto Halim percaya kehidupan yang seimbang sangat menentukan kesuksesan seseorang dalam berkarier, berbisnis, berkeluarga, bahkan dalam menjalani kehidupannya secara keseluruhan.

Pada 5-10 tahun lalu, nama Budiarto Halim tak bisa dipisahkan dari dunia otomotif. Itulah periode di mana ia berkarier pada industri tersebut. Pria kelahiran Jakarta, 9 Agustus 1966 ini bahkan pernah menempati posisi puncak di PT KIA Mobil Indonesia sebagai chief executive officer (CEO).

Tapi sejak 2005, industri otomotif seolah ‘kehilangan’ jejak eksekutif ini. Ke manakah dia? “Saya memang meninggalkan industri otomotif dan banting setir ke industri telekomunikasi,” tutur Budiarto Halim kepada wartawan Investor Daily Indah Handayani dan Harso Kurniawan serta pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.

Kepindahan Budiarto Halim ke industri telekomunikasi tidak tanggung-tanggung. Di industri tersebut ia terjun langsung sebagai pemilik sekaligus CEO. Yang mengagumkan, PT Erajaya Swasembada, perusahaan distributor telepon seluler (ponsel) dengan merek dagang Erafone yang dinakhodainya, cepat sekali bertumbuh. Kini, Erajaya Group menguasai 24% distribusi produk seluler di Tanah Air. “Kami cepat tumbuh karena mengedepankan team work. Saya sangat tergantung tim, dari bawah hingga atas. Kami bersama-sama memajukan perusahaan,” papar dia.

Budiarto Halim akan terus mengembangkan bisnis perusahaan yang sedang menjalani penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham itu. “Saat ini kami hadir di hampir seluruh ibu kota provinsi. Tapi kami belum menjamah daerah tingkat II. Kami akan mencoba jangkau semuanya,” ujar dia.

Hal yang paling dipegang teguh Budiarto Halim adalah keseimbangan hidup. “Saya mengutamakan prinsip dan filosofi keseimbangan. Harus saya seimbangkan antara bekerja, kehidupan pribadi, keluarga, dan kesehatan fisik. Kalau salah satu saja tidak seimbang, apapun tidak akan berjalan mulus,”ujar dia.

Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

Bisa cerita perjalanan bisnis dan karier Anda?
Awalnya, saya bekerja professional di PT Elektrindo Nusantara, unit usaha Grup Bimantara yang bergerak dalam bisnis distribusi telepon seluler (ponsel), tepatnya pada 1992. Waktu itu, susah sekali mendapatkan ponsel, karena harganya masih di atas Rp 15 juta per unit. Tapi saya melihat prospek bisnis ponsel cukup cerah. Sebab, orang rela antre panjang demi mendapatkan ponsel. Padahal, harganya waktu itu mahal. Oleh karena itu, saya mengajak rekan saya, Ardy Hady Wijaya, untuk membuka sebuah toko kecil.

Tapi, saya belum terjun langsung karena masih bekerja dengan orang. Ardy yang mengoperasikan bisnis ini, saya membantu di belakang. Seiring dengan berkembangnya teknologi, muncullah teknologi GSM (global system for mobile communication) yang pertama dipegang Satelindo. Satelindo menetapkan sejumlah persyaratan untuk menjadi agen ponsel, salah satunya berbadan hukum perseroan terbatas (PT). Untuk itulah saya mendirikan PT Erajaya Swasembada bersama Hardy pada 1996. Inilah cikal bakal Erafone.

Sebagai tahap awal, kami membuka toko di Mangga Dua, Jakarta. Omzetnya saat itu sangat kecil. Pada awal pendirian Erafone, penjualan per bulan hanya 100 unit, karena belum menjadi distributor resmi. Arus barang lancar karena Ardy cukup luwes bergaul. Setelah perusahaan ini berdiri, saya masih bekerja secara profesional dan pindah-pindah. Terakhir, saya bekerja di PT KIA Mobil Indonesia, agen pemegang merek KIA, pada 2000-2005. Posisi saya terakhir adalah presiden direktur.

Kapan persisnya Anda terjun langsung ke bisnis ponsel?

Pada 2005 saya memutuskan keluar dari KIA, karena usaha distribusi ponsel mulai lumayan. Apalagi Ardy meminta saya fokus di sini, karena karyawan mulai bertambah dan omzet naik. Bisnis semakin berkembang, sehingga saya terjun langsung dan mulai menarik beberapa orang profesional untuk bergabung.

Bisnis mobil juga menjanjikan. Mengapa Anda memilih bisnis ponsel?
Saya lihat prospek bisnis ini sangat cerah. Bayangkan, dulu orang membawa berbagai macam peralatan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, seperti buku agenda, kamera, Nintendo. Tapi sekarang semua itu digabung menjadi satu, yakni ponsel. Jika berbagai layanan digabung ke handphone (HP), saya percaya pasarnya akan semakin besar.

Saya yakin kegunaan ponsel akan semakin banyak. Lama-lama kita tidak perlu dompet atau kunci rumah, karena semua bisa masuk dalam ponsel. Jadi, jelas distribusi ponsel adalah bisnis menggiurkan. Apalagi penetrasi internet di Indonesia masih sangat rendah.

Kinerja bisnis Erajaya seperti apa?
Kami bersyukur, sebagai perusahaan yang bergerak dalam distribusi dan peritel produk dan layanan seluler, Erajaya Group terus tumbuh hingga memiliki 70 titik distribusi, 236 outlet di 27 kota, serta bermitra dengan lebih dari 16 ribu dealer dan reseller. Menurut data yang dirilis Frost & Sullivan, Erajaya Group merupakan market leader yang menguasai 24% distribusi produk seluler atau mobile telecommunication products di Indonesia.  Tahun lalu, kami membukukan penjualan sekitar US$ 540 juta dengan margin laba bersih 3,5%. Kami yakin angka ini akan terus meningkat.

Strategi yang Anda terapkan?
Strategi utama bisnis Erajaya Group adalah meningkatkan portofolio perusahaan dan mengembangkan channel distribusi. Peningkatan portofolio kami lakukan dengan menggandeng berbagai prinsipal dan operator yang secara gabungan menjadi market leader. Menjadi distributor dari 10 brand terdepan dan distributor berbagai operator terbesar di Indonesia merupakan modal utama kami untuk terus mengembangkan bisnis seiring pengembangan yang dilakukan para prinsipal.

Pengembangan channel distribusi kami lakukan dengan terus membuka titik-titik distribusi baru di seluruh Indonesia untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Kami juga lebih fokus pada pengembangan ritel Erafone. Kami berencana terus mengembangkan empat outlet Erafone Megastore dan 60 outlet Erafone Store pada 2012. Pengembangan electronic sales yang merupakan channel distribusi masa depan juga menjadi perhatian kami.

Kiat sukses Anda?
Saya bilang team work sangat penting, demikian pula kultur perusahaan. Dalam bisnis ini memang harus ada team work yang kuat, tidak bisa one man show. Kebetulan kami sedang berada di kapal yang sedang melaju ke depan. Yang perlu diper-  hatikan adalah membaca peluang usaha dan perkembangan terbaru. Saya masih ingat dulu Nokia sangat laris di Indonesia. Tapi sekarang pamornya kalah oleh BlackBerry, sehingga kami harus masuk. Pada titik inilah saya bernegosiasi dengan Teletama Artha Mandiri (TAM) untuk akuisisi karena mereka merupakan distributor terbesar.

Kini, saat BlackBerry booming, kami harus terus mengintip prospek ponsel pintar lainnya. Kita tidak tahu sampai kapan Black-Berry berjaya. Dulu, Motorola sukses, tapi tiba-tiba hilang. Demikian juga Ericsson. Tapi saya yakin mereka akan comeback. Kiat yang saya pakai terbagi dalam dua pilar utama, yaitu empowerment dan leveraging.

Empowerment mengacu pada pemberdayaan seluruh kar yawan. Saya percaya karyawan yang tergabung dalam Erajaya Group memiliki kompetensi dan talenta untuk berkontribusi pada perusahaan. Dalam hal ini, strategi the right man on the right place merupakan keharusan. Kami juga memiliki kebijakan untuk terus menumbuhkembangkan kompetensi dan talenta karyawan melalui training berkala dan terstuktur sesuai kebutuhan masing-masing divisi.

Yang kedua adalah leveraging. Erajaya Group terdiri atas berbagai anak perusahaan (subsidiaries) yang memiliki fokus berbeda-beda. PT Erajaya Swasembada berperan sebagai distributor Nokia, Teletama Artha Mandiri (TAM) adalah distributor dari empat brand besar, meliputi BlackBerry, Sony-Ericsson, Samsung, dan Huawei. TAM juga merupakan prinsipal dari brand lokal Venera. PT Erafone Ar tha Retailindo adalah pemilik dan pengelola outlet berskala nasional Erafone.

Sedangkan PT Sinar Eka Selaras merupakan distributor lima brand, yaitu Apple, Acer, Dell, LG, dan Motorola. Adapun PT Multi Media Selular, PT Data Media Telekomunikasi, dan PT Prakarsa Prima Sentosa adalah distributor beberapa operator seluler di Indonesia. Didukung anak perusahaan yang memiliki portofolio dan fokus beragam tersebut, kami berusaha menggabungkan kekuatan dari distribusi, ritel, korporasi, kelompok komunitas, maupun electronic sales.

Anda puas dengan pencapaian saat ini?
Tentunya belum. Saya masih ingin membesarkan Erafone. Memang saat ini kami memimpin pasar dengan pangsa 24%. Tapi kami melihat kesempatan masih besar. Kami harus memperkuat jaringan supaya bisa lebih solid. Makanya kami gelar IPO yang dananya bakal dialokasikan untuk ekspansi jaringan. Saat ini kami hadir di hampir seluruh ibu kota provinsi. Tapi kami belum menjamah daerah tingkat II. Kami akan mencoba jangkau semuanya.

Prospek bisnis ke depan bagaimana?

Berdasarkan hasil sur vei independen, orang rata-rata mengganti ponsel dalam 7- 14 bulan. Ini jelas kesempatan besar. Dalam beberapa tahun ke depan, penjualan ponsel diprediksi tumbuh 24% per tahun. Saat ini, kami memegang hampir semua merek. Pabrikan lain terus berbenah untuk menggusur BlackBerry. Contohnya Nokia yang saya prediksi bakal comeback. Sebelumnya kami bilang ke Nokia bahwa di Indonesia sedang populer Dual SIM Card. Awalnya, mereka tidak mau dengar. Tapi akhirnya mereka mengeluarkan Dual SIM Card yang berkualitas.

Visi bisnis Anda?
Kami akan memperkuat jaringan pemasaran. Kami akan membuka megastore dengan luas di atas 400 m2. Ini lebih menguntungkan dibandingkan menyewa mal yang ongkosnys lebih mahal. Megastore akan mendukung gerai-gerai Erafone. Megastore akan dibangun di ibu kota provinsi. Kami sudah coba di Solo. Kami akan buka lagi di tempat lain.

Seperti apa gaya kepemimpinan Anda?
Saya sangat tergantung tim yang ada, dari bawah hingga atas. Saya harus perhatikan mereka. Saya mencoba menumbuhkan jiwa kebersamaan dan passion di industri ini kepada para kar yawan yang baru bergabung. Ini sangat penting, karena jika orang bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, saya rasa kerjanya tidak akan maskimal. Namun, kalau dia bekerja dengan hati, hasilnya akan jauh lebih baik. Itu akan memacu dirinya bekerja maksimal dan hidupnya pun lebih tenang.

Makanya penting bagi kita untuk menghayati apa yang kita kerjakan dan mengetahui masalah tidak hanya berdasarkan teori. Ini saya terapkan juga dalam diri saya. Saya mencintai bisnis ini, sehingga saya senang mengerjakannya.

Selain itu, yang paling penting adalah membangun satu kultur usaha yang tidak memicu kesenjangan antara atasan dan bawahan. Kami semua di sini bersama-sama dalam memajukan perusahaan. Saya selalu bergabung dengan para bawahan, misalnya makan bareng. Saya selalu menekankan agar tidak ada sekat yang memisahkan saya dan bawahan. Pintu saya selalu terbuka untuk siapa saja, semua bisa masuk untuk bicara apa saja. Saya senang berbagi dengan para karyawan.

Anda juga melibatkan karyawan untuk mengambil keputusan bisnis yang strategis?
Saya rutin berdiskusi dengan kar yawan dari berbagai lapisan. Sebagai contoh, ordering product bukan dari saya, tapi dari karyawan yang terlibat langsung. Kalau dari saya tidak akan jalan. Saya mendengarkan input dari bawah untuk selanjutnya menghasilkan keputusan bisnis. Intinya, saya mendiskusikan semuanya. Kalau ada pekerjaan bawahan yang kurang baik, saya akan pacu mereka. Untuk memacu itu, saya memberikan tantangan kepada bawahan terkait bidang kerjanya.

Apa gebrakan terbesar Anda di Erajaya?
Saya pikir adalah keputusan menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Ini merupakan cita-cita saya bersama Ardy saat Erajaya pertama kali didirikan. Saya melihat IPO akan meningkatkan kepercayaan berbagai pihak terhadap Erajaya, entah itu prinsipal atau dealer. IPO juga melatih kami untuk profesional. Selain itu, kami akan mendapatkan dana untuk berekspansi. Kami mengajak investor masuk ke perusahaan. Dana yang didapat akan digunakan untuk pengembangan usaha yang pada akhirnya bisa menguntungkan pemegang saham. Saya ingin Erajaya dan investor berkembang bersama-sama.

Obsesi Anda?
Tentunya IPO saham. Saya ingin rencana ini berjalan mulus. IPO sangat dinanti kami dan para karyawan yang berjumlah sekitar 3.000 orang. Ini merupakan impian kami sejak awal dalam membangun perusahaan ini. Tujuannya agar lebih transparan dan prinsipal akan semakin percaya.

Apa filosofi hidup Anda?
Saya mengutamakan prinsip keseimbangan. Saya lihat beberapa orang cara kerjanya cenderung workaholic sampai lupa keluarga. Saya tidak seperti itu. Saya harus seimbangkan antara bekerja, pribadi, keluarga, dan kesehatan fisik. Kalau salah satu saja tidak seimbang, kerjaan atau apapun tidak akan berjalan mulus. Kita tidak akan mampu berpikir jernih jika rumah tangga berantakan. Untuk itu perlu balancing.

Sebetulnya apa yang Anda kejar dalam hidup?
Keseimbangan. Bisnis dan karier harus berkembang sesuai rencana perusahaan, namun keluarga harus tetap harmonis. Ini bukan sesuatu yang bersifat trade-of, atau satu sukses yang lain gagal. Bisnis dan karier bisa berjalan berdampingan selama kita bisa me-manage urusan bisnis dan keluarga secara profesional dan proporsional.




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close