ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

HENRY JOCOSITY GUNAWAN

Berbuat Lebih Baik, Dapat Balasan Lebih Baik
Senin, 9 Januari 2012 | 11:56

Berupayalah untuk berbuat lebih baik dari orang lain. Dengan berbuat lebih baik, balasannya pun akan lebih baik. Prinsip ini diterapkan Henry Jacosity Gunawan dalam segala aspek kehidupan. Mengapa dia begitu menikmatinya?

Henry Jacosity Gunawan punya prinsip hidup yang sangat motivatif, yakni selalu berupaya untuk berbuat lebih baik dari orang lain.

Prinsip itu diterapkannya dalam segala hal, baik yang berkaitan dengan kegiatan sosial, maupun yang berhubungan dengan roda bisnis. Bila orang lain —teman atau kolega bisnisnya— bisa berbuat baik, penikmat masakan pedas ini dengan suka cita akan berupaya berbuat lebih dari mereka. Dengan berbuat lebih baik, dia yakin balasannya juga akan lebih baik.

“Bila saya bisa memberi kar ya yang lebih baik dari orang lain, tentu akan semakin banyak orang memanfaatkan atau menggunakan hasil karya saya,” ujar founder The Rich Prada Bali itu kepada wartawan Investor Daily Amrozi Amenan di Surabaya, baru-baru ini.

Dengan prinsip itu pula, anak desa yang merintis bisnis dari nol ini tak perlu bersaing memperebutkan pasar dengan sesama teman atau kolega yang memiliki usaha sejenis. Ibaratnya, tak harus berebut kue dengan warna dan aroma yang sama, tapi justru bergandengan tangan dengan mereka.

Dengan begitu, Henry yakin mereka akan maju bersama dan saling mendukung. Bahkan, dari kebersamaan itu akan terbangun apa yang disebut keluarga besar (big family) yang akan memberi kontribusi besar terhadap kemajuan dan kelangsungan bisnisnya.

“Big family inilah yang menjadikan setiap bisnis saya mencapai kesuksesan. Mereka membantu kami memperkenalkan produk-produk kami kepada kerabat dan rekanan mereka, begitu pula sebaliknya,” papar dia.

Itu pula yang mengantarkan Henry sukses membangun bisnis, terutama di bidang properti. Bisnis yang dirintis ber tahun-tahun itu kini berkembang luas, bahkan telah merambah ke berbagai daerah di Tanah Air. Properti yang telah dan sedang dikembangkannya terbentang, dari Surabaya, Bali, Jakarta, hingga Singapura dan Thailand.

Henry Jocosity Gunawan merintis usaha properti di Surabaya pada 1975. Pria kelahiran Jember, 7 Desember 1954 itu sukses membangun rumah toko (ruko), sehingga pada era 1997-2000 dijuluki sebagai Raja Ruko.

Henry dikenal sebagai sosok pengusaha yang ulet. Berbagai lini bisnis ditekuni pengusaha yang dikaruniai lima anak ini, mulai industri kulit, perbankan, efek, hingga properti. Namun, belakangan, ia lebih fokus pada properti, terutama bisnis persewaan properti, seperti membangun The Rich Prada Bali di bawah bendera PT Gala Bumi Perkasa yang akan berlanjut dengan pembangunan hotel serupa di Surabaya, Malang, dan beberapa daerah lain. Berikut petikan wawancara tersebut.

Mengapa Anda memilih bisnis properti?
Jauh sebelum krisis moneter pada 1998, saya sudah punya keyakinan bahwa binis properti akan booming karena ekonomi yang bagus akan mendorong orang menanamkan dananya di properti, terutama perumahan, baik yang menengah ke bawah maupun menengah ke atas.

Ekonomi yang bagus waktu itu juga memberi kemampuan bagi masyarakat, terutama dari kalangan menengah ke bawah, untuk memenuhi kebutuhan rumahnya. Kami pun mengembangkan bisnis properti. Dan, setiap hunian yang kami bangun laris-manis bak kacang goreng.

Ternyata bukan rumah saja, kami juga menangkap kebutuhan rumah plus toko (ruko) yang menjadi tren dan pergudangan. Itu semua kami geluti dan kami berhasil. Semua yang kami bangun terserap pasar.  Tapi seiring terjadinya krisis moneter, semua berubah. Semua bisnis, termasuk properti, kandas.

Menjelang 2002, sektor properti mulai pulih sejalan dengan membaiknya ekonomi. Tapi para pengembang telanjur banyak yang jatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Kami, dengan segala kekuatan yang kami miliki, berusaha bangkit dan tetap pada jalur properti, meskipun berbeda pasar, yakni dari membangun rumah, ruko atau pergudangan, ke persewaan properti.

Apa yang menarik dari bisnis persewaan properti?
Untuk membesarkan bisnis property dibutuhkan energi yang sangat besar pada fase pembebasan lahan. Masalah ini selalu ada bila kami hanya membangun properti kemudian menjualnya. Berbeda bila bisnis kami cukup dengan menyewakan properti. Dengan menyewakan properti, kami tak perlu pusing mencari lahan baru untuk pengembangan.

Kami tinggal me-maintain konsumen yang menyewa properti kami, maka bisnis berjalan dan aset tak lepas dari tangan. Tak perlu pusing membebaskan lahan lagi. Sementara itu, bagi para konsumen properti, ketika memperjual- belikan properti, mereka kena pajak hingga 20%. Dengan system sewa, kami tak perlu melepas aset, malah bisa menambah asetnya. Aset yang dimiliki sebelumnya tinggal disewakan saja. Kecenderungan pasar inilah yang kami tangkap.

Strategi Anda menghadapi persaingan?
Ciptakan segmen baru. Dengan begitu, saya tak perlu bersaing pada segmen bisnis yang sama dengan  orang lain. Keberanian membidik segmen baru itu terbukti membuat bisnis saya maju. Jadi, tak perlu bersaing memperebutkan pasar, justru bersama-sama dengan pengusaha yang memiliki bisnis sejenis untuk maju bersama.

Misalnya, The Rich Prada Bali yang sedang kami garap masuk di segmen baru. Kondotel bintang lima dengan jumlah kamar 910 unit ini berada di kawasan Pecatu Indah Resort, di daerah Pecatu yang diakui sebagai high-class residential lifestyle. The Rich Prada Bali membidik segmen itu.

Kami akan lengkapi The Rich Prada dengan spa terbesar di Indonesia dan ballroom berkapasitas 3.000 orang untuk berdiri dan 1.200 orang jika menggunakan tempat duduk. Itu menjadi modal besar bagi kami untuk menggaet Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pasific Economic Corporation (APEC), beberapa waktu lalu.

Anda menerapkan gaya kepemimpinan seperti apa?
Saya selalu merekrut orang-orang yang benar-benar profesional karena saya ingin apa yang dihasilkan selalu profesional. Karena profesionalisme itu, saya memberi ruang cukup besar kepada bawahan untuk mengambil keputusan dan melaksanakan keputusan tersebut sesuai rencana yang disepakati. Saya hanya menyumbang pikiran 50-60% saja, sisanya dirumuskan mereka.

Saya meyakini bahwa setiap manusia harus saling melengkapi, sebab tak ada manusia sempurna. Karena itu, saya menerapkan kerja sama tim yang bagus dan kuat, dengan menunjuk orang-orang yang telah teruji dan terbukti profesionalismenya. Saya tekankan juga kepada mereka agar mandiri dan bertanggung jawab dengan keputusan yang telah mereka buat. Kalau mereka telah mandiri, saya tinggal memberi advise saja.

Sebagai founder (pendiri), saya menyerahkan tongkat komando kepemimpinan kepada mereka. Kalau saya masih harus memimpin mereka atau mengurusi para profesional itu dengan porsi yang besar, berarti saya menjadi bawahan mereka. Secara perlahan, saya mengurangi beban yang saya pikul. Bila para professional itu sudah mandiri dan tak ada lagi  yang perlu saya urus, barulah saya bisa dikatakan sukses.

Kiat sukses Anda?
Sampai saat ini, saya belum merasa sukses karena masih banyak yang perlu saya benahi sampai segala sesuatunya berjalan sempurna. Saya masih harus terus belajar kepada orang-orang pandai untuk mengatur strategi dan menjalankan strategi itu dalam bisnis. Di mata saya, orang sukses itu tidak perlu banyak mengurusi dan mengatur. Sepanjang dia masih banyak mengurusi bisnisnya, berarti ada yang belum sempurna dengan bisnisnya. Bila masih ada yang belum sempurna, bisa dibilang dia belum sukses.

Sumber semangat Anda dalam berkarya?
Sejak kecil, hidup saya dipenuhi kesulitan, termasuk untuk bisa menyelesaikan pendidikan. Saya cuma bisa menyelesaikan sekolah sampai kelas lima Sekolah Dasar (SD). Jadi, untuk bertahan hidup, saya lakukan semua yang bisa menghasilkan pemasukan agar bisa hidup. Saya harus mengatasi berbagai hambatan dalam setiap upaya dan di setiap bisnis yang saya tekuni.

Anda pernah mengalami masa-masa paling sulit dalam berbisnis?

Saya benar-benar mengalami masa sulit ketika krisis moneter pada 1998 menghantam negeri ini. Semua sektor terpuruk dan imbasnya pada bisnis yang saya geluti.

Bagaimana Anda bisa lolos dari krisis?
Saya selalu berprinisp, dalam kondisi terpuruk, saya tak perlu takut, sebab bisnis akan bangkit dengan sendirinya seperti bola salju. Ketika bola salju terus menggelinding, biarkan bola itu menggelinding hingga menjadi besar. Jangan paksakan diri untuk melakukan ekspansi dalam situasi itu.

Tapi bukan berarti kita diam saja ketika berada pada situasi krisis. Sebelum terjadi krisis, kita harus mempersiapkan fondasi bisnis yang kokoh, sehingga kita bisa kuat bertahan. Fase-fase survive itu akan dilalui dengan nyaman bila pondasi bisnis kita kuat. Selanjutnya, setelah krisis berlalu, bisnis kita akan berkembang dengan sendirinya.

Di sini dibutuhkan kreativitas, keuletan, dan kecerdasan membaca situasi. Pada situasi yang tepat, kita bisa segera menggenjot bisnis kita. Bila kita memaksakan diri, padahal situasi atau waktunya belum tepat, sebesar apapun kerja keras kita tidak akan menghasilkan apa-apa. Bila saatnya tepat, bisnis kita akan segera melesat.

Cara Anda mengatasi hambatan bisnis?
Dalam bisnis, banyak sekali hambatan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Agar bisa tuntas, hambatan harus diatasi bersama-sama, bergotong-royong. Manajemen dalam perusahaan kan melibatkan banyak orang. Maka libatkan semua orang untuk membantu menyelesaikan masalah.

Bila semuanya bergotong- royong memberi kontribusi u n t u k menyelesaikan setiap masalah, hambatan- hambatan akan selalu bisa diatasi. Saya selalu mengatakan bahwa hambatan atau kesulitan itu penting dalam setiap hal yang kita kerjakan. Sebab, dengan kesulitan itu, kita bisa melihat kekurangan. Itu akan menjadikan kita bisa berbuat baik.

Tentu saja kesulitan itu harus dihadapi dengan kepala dingin, tidak grusa-grusu (terburu-buru, red), butuh ketenangan. Dengan ketenangan itu, kita bisa berpikir mencarikan solusi. Saran dan masukan kolega atau teman juga perlu karena kita memiliki banyak keterbatasan saat menghadapi kesulitan dan hambatan.

Visi bisnis Anda?
Saya akan menyerahkan pengelolaan perusahaan-perusahaan saya kepada para profesional. Mereka adalah orang-orang yang pintar, kreatif, ulet, mampu mengemban tanggung jawab untuk membesarkan perusahaanperusahaan itu. Seperti di The Rich Prada Bali, saya akan merekrut chief executive officer (CEO) asing dengan kriteria di atas rata-rata dan akan dikelola manajemen chain hotel bertaraf internasional.

Saya sedang menyiapkan system agar bisa terwujud. Saya cukup mengurusi persoalan yang makro, sedangkan yang mikro biar ditangani para profesional itu. Kalau sudah tidak ada yang perlu saya urusi lagi, saya akan segera pensiun, jalan-jalan dan banyak bercengkerama dengan keluarga.

Filosofi hidup Anda?
Apa yang bisa dikerjakan orang lain dengan baik maka saya harus bisa mengerjakan hal itu jauh lebih baik. Bila orang lain memberi karya yang baik maka saya harus bisa berkarya lebih baik dibandingkan orang lain.

Apa yang Anda dapatkan dari semua itu?
Semakin banyak orang memanfaatkan atau menggunakan hasil karya saya, itu adalah berkah tiada tara. Ketika orang lain merasa puas dengan karya saya yang lebih baik, itu adalah kepuasan tersendiri. Dari sisi bisnis, orang yang telah menikmatinya tentu tak segan untuk kembali lagi, bahkan mengajak kenalannya ikut menggunakan hasil karya atau produk tersebut.

Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?
Urusan bisnis dan keluarga sama-sama penting. Keduanya saling mendukung. Bisnis kami bisa sukses juga karena dukungan keluarga. Karena itu, sharing waktu antara bisnis dan keluarga mesti seimbang. Pada waktu senggang di luar urusan bisnis, saya selalu menyempatkan diri berkumpul dengan keluarga, dengan anak, istri, dan cucu tercinta, menemani anak-anak bermain, rekreasi, atau olahraga. Hidup ini terasa indah bila kita bisa membagi waktu untuk bisnis dan keluarga.

Apa keinginan Anda yang belum tercapai?
Saya ingin apa yang saya rintis dan upayakan selama bertahun-tahun ini tetap ada regenerasi. Karena itu, secara perlahan-lahan saya akan menyerahkan tongkat kepemimpinan di perusahaan kepada anak-anak saya. Saya ingin pensiun, sehingga semakin banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga atau menikmati liburan ke berbagai daerah dan cukup mengamati perkembangan bisnis.




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close