EDDY KUNTADI,
Berani Bertindak dan Konsisten
Senin, 30 Januari 2012 | 12:45
Berani bertindak dan konsisten. Itulah prinsip hidup yang dipegang Eddy Kuntadi, baik dalam menekuni bisnis, politik, maupun dalam berkeluarga. Tapi dalam urusan karier, Eddy lebih suka menerapkan filosofi air mengalir.
Eddy Kuntadi tak hanya termasuk pria yang teguh pendirian, tapi juga berani mengambil risiko. Pemilik kelompok usaha property Daksa Group ini yakin betul bahwa keberanian bertindak akan menjadikan seseorang mampu berperan lebih banyak dalam mewarnai kehidupan, tidak sekadar ikut-ikutan.
“Saya harus berani bertindak, tapi konsisten terhadap apa yang saya perbuat. Apalagi saat saya bertindak sebagai pemimpin,” kata suami Nunik Safian itu kepada wartawan Investor Daily Bani Saksono dan pewarta foto Tino Oktaviano di Jakarta, baru-baru ini.
Toh, bukan berarti ketua umum Kadin DKI Jakarta itu tergolong orang yang suka mengejar posisi dan jabatan. Dalam urusan yang satu itu, pria kelahiran Bandung, 6 November 1955 ini justru bersikap “pasif”. “Jabatan di organisasi, bisnis, maupun politik tak perlu dikejar-kejar. Biarkan mengalir seperti air,” tutur anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Golkar tersebut.
Bagi Eddy, posisi atau jabatan adalah amanah yang harus dilaksanakan secara konsisten. Itu sebabnya, ia berupaya untuk selalu berperan aktif dalam bidang apa pun yang digelutinya.
“Tidak harus menjadi nomor satu. Nomor dua atau nomor tiga tak masalah, yang penting di situ bisa berperan banyak, tidak sekadar ikut-ikutan. Saya ingin berbuat, berbuat, dan terus berbuat,” tegas Eddy yang juga menjabat sebagai komisaris pada sejumlah perusaahaan.
Apa kata Eddy Kuntadi tentang dunia politik dan dunia bisnis? Bagaimana dia berhasil “menggabungkan”-nya? Apa pula pendapatnya tentang pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi mayoritas anggota Kadin DKI saat ini? Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.
Bagaimana perjalanan karier bisnis Anda?
Yang ikut membentuk saya bisa seperti sekarang juga karena faktor pertemanan. Saya suka berorganisasi. Karena pertemanan, saya bisa menjadi ketua umum Kadin DKI dan wakil rakyat di DPR. Awalnya saya menekuni bisnis properti melalui bendera Grup Daksa. Lalu sekarang, saya juga masuk ke pertambangan. Usaha-usaha itu masih jalan. Tapi saya sekarang konsentrasi di Senayan, menjadi anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Golkar.
Apa yang Anda kejar dalam berorganisasi?
Sesuai latar belakang pendidikan saya, dalam berorganisasi, saya nggak mau kalau hanya menjadi anggota doang. Kalau tidak nomor satu, ya nomor dua atau nomor tiga. Tapi paling tidak, saya punya peran. Latar belakang saya adalah arsitek. Di situ ada kombinasi antara seni dan teknik. Arsitektur, menurut saya, adalah salah satu disiplin ilmu yang unik dibandingkan disiplin ilmu yang lain. Di situ ada kreativitas yang harus ditumbuhkan, di situlah nilai jualnya.
Sebagai seorang arsitek, saya banyak belajar memimpin. Di dunia konstruksi, arsitek adalah leader-nya. Saya mendesain sesuatu, tapi juga harus tahu ilmu-ilmu yang lain. Walaupun tidak sangat mendalam, saya sedikit menguasai ilmu sipil, rekayasa mekanik, ilmu interior, dan ilmu lanskap. Walau basic yang lain banyak, koordinatornya arsitek. Itu dari sisi kepemimpinan.
Saya juga ditunjang ilmu marketing. Saya berprinsip, apa yang saya buat, itu yang terbaik. Kebetulan, sejak awal memulai bisnis, saya tidak pernah bekerja di orang lain. Saya selalu ingin kerja sendiri, itu yang menjadi obsesi saya untuk menjadi nomor satu. Memang kesempatannya tidak selalu ada, tapi saya mencoba untuk menjadi nomor satu.
Bagaimana Anda menggabungkan ilmu bisnis dan imu politik?
Politik dan ekonomi itu seperti dua sisi mata uang yang tak bisa berjauhan. Kita tak bisa berpikir hanya dari sisi ekonomi saja. Politik memiliki pengaruh yang kuat, terutama di Indonesia. Kalau saya berpikir politik, saya memandang masalah politik adalah satu bagian yang harus saya ikuti. Saya sekarang politikus, tapi basic-nya bukan seorang politikus.
Sisi saya seorang pengusaha. Nah, begitu saya masuk dunia politik, yang harus saya perjuangkan adalah dunia usaha. Sebagai contoh, dalam dunia perekonomian di Indonesia, peran swasta cukup besar. Tapi harus ada political will, sehingga antara ekonomi dan politik harus berjalan bersama, terutama dalam peran dan jabatan saya sebagai ketua umum Kadin DKI.
Bukankah Anda juga harus memperjuangkan kepentingan rakyat banyak, bukan hanya bisnis?
Dalam hal-hal tertentu memang ada sedikit gesekan. Makanya saya juga belajar bagaimana mengompromikan kedua kepentingan itu. Masyarakat itu ada masyarakat rakyat yang juga menjadi supporting pengusaha, dan masyarakat pengusaha yang tentu juga tak bisa meninggalkan masyarakat rakyat. Kedua kepentingan itulah yang harus saya putuskan dalam posisi saya sebagai wakil rakyat dan wakil pengusaha.
Contoh, di sini banyak kepentingan dunia usaha, sekarang sedang dibahas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Lembaga Keuangan Mikro, RUU tentang Usaha Kecil, maupun RUU tentang Koperasi. Itu bagain dari perjuangan untuk menyatukan kedua kepentingan itu.
Apa kar ya besar Anda di bidang arsitektur?
Saya tidak tahu apakah itu karya besar saya atau bukan. Ada dua masa. Pada era 1980-an, saya belum sarjana. Tapi saya bisa mendapatkan proyek perencanaan Museum Prangko di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang diprakarsai Ibu Tien Soeharto (almarhumah). Desain saya waktu itu disetujui Ibu Tien. Betapa bangganya saya waktu itu. Masih mahasiswa, tapi saya bisa duduk bersama Ibu Tien, dan beliau membubuhkan tanda tangannya dalam desain saya. Itulah gedung Museum Prangko. Itu yang pertama.
Kedua, saya mendapat proyek desain gedung asuransi Jasa Raharja di Kuningan, Jakarta Selatan. Gedung delapan lantai itu sudah termasuk cukup tinggi pada masa itu. Dulu masih ada pembatasan tinggi gedung di Jakarta. Itu dua karya saya yang cukup monumenal, di samping karya-karya arsitektur lainnya.
Berarti Anda dekat dengan keluarga Cendana (Keluarga mantan Presiden Soeharto)?
Oh, nggak, nggak. Saya lebih sebagai profesional. Itu tak ada kaitannya. Anda melihat Jakarta dari sisi ekonomi saat ini seperti apa? Saya ingin ada reformasi birokrasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Saya melihat ada yang sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta, seperti menyederhanakan proses perizinan melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang dikoordinasikan Badan Penanaman Modal Provinsi (BPMP). Tapi saya melihat koordinasinya perlu ditingkatkan.
Apa yang Anda harapkan dari Pemprov DKI?
Dibutuhkan keberanian dari Pemprov DKI. Seharusnya pemerintah punya willingness bagaimana melindungi para pengusaha kita, terutama para pelaku UMKM dan produk dalam negeri dari serbuan produk asing. Kami mengingatkan pemerintah, serbuan produk asing, apalagi banyak yang ilegal, akan menghancurkan sektor UMKM di dalam negeri. Kalau dibiarkan, itu sama saja dengan bunuh diri.
Saat ini, produk-produk impor telah merambah pasar-pasar tradisional, pasar kaget, pedagang kaki lima, hingga pasar grosir di Tanah Abang maupun pasar modern lainnya. Kami prihatin, tak hanya produksi konsumtif seperti pakaian jadi, barang elektronik, mainan anakanak, sepatu, kosmetik, makanan, dan minuman saja yang masuk. Produk pangan, seperti sayuran, wortel, kol, cabai, bawang putih, bawang merah, kentang, buah-buahan, garam, dan ikan, juga telah menguasai pasar lokal. Ironisnya, para pedagang UMKM justru mulai suka menjual produk dari Tiongkok, ini kan sama halnya dengan mematikan kawan sendiri.
Upaya yang harus dilakukan?
Kita perlu menekan produk impor melalui instrumen non-tarif barrier, karantina, dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kami juga menyarankan agar Pemprov DKI membentuk Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP). Perlunya agar kualitas tenaga kerja mampu bersaing dengan serbuan tenaga kerja asing.
Selain itu, Indonesia membutuhkan branding yang kuat agar produk kita bisa dijual. Kiat Esemka dengan mobil lokalnya, dapat kita jadikan sebagai momentum untuk membangkitkan nasionalisme ekonomi.
Anda akan terus berkar ya?
Itu pasti, selama masih bisa bernapas. Saya itu tipe orang aktif. Itu saya salurkan di organisasi, di politik, juga dunia usaha. Itu tak pernah selesai. Jadi, saya tak pernah merasa jenuh. Bergerak terus. Sebelum di Kadin, saya dulu juga aktif di Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), menjadi ketua umum di DKI. Lalu maju mencalonkan diri menjadi ketua umum Hipmi pusat, dan kalah. Itu tidak membuat saya jatuh. Itu justru pelajaran bagi saya. Lewat berorganisasi pula saya mendapat banyak teman. Bagi saya, posisi atau jabatan itu adalah amanat. Tapi saya juga tidak selalu mengejar-ngejar posisi. Semua seperti air, saya nikmati seperti main selancar (surfing). Mengalir.
Siapa tokoh panutan Anda?
Banyak tokoh yang sebetulnya punya sifat konsisten. Salah satunya Bung Karno. Selain selalu berpikir dan bertindak konsisten, dia juga seorang arsitek. Saya melihat apa yang dilakukan beliau, perjuangannya sangat keras.
Apa obsesi Anda yang belum tercapai?
Dari sisi usia, saya pikir sudah tidak muda lagi. Jadi yang ingin saya lakukan hanyalah bagaimana berbuat, berbuat, dan berbuat yang positif, yang dapat memberikan arti bagi bangsa ini.
Filosofi hidup Anda?
Dalam menjalani kehidupan ini, saya selalu bicara konsisten, baik selama aktif di Kadin, mapun dalam berkeluarga. Yang memengaruhi hidup saya banyak, terutama keluarga. Di keluarga, saya ini anak tunggal. Itu memengaruhi perjalanan hidup saya. Anak tunggal itu biasanya punya sifat manja, tapi egonya tinggi. Saya dididik dalam konteks keluarga militer, tapi saya dimanja karena saya anak tunggal. Keseharian saya, karena anak tunggal, tentu ingin punya banyak teman. Itu sebabnya, saya harus banyak bergaul dan berorganisasi.
Yang Anda lakukan di luar jam kerja?
Saya hobi motor besar. Setiap akhir pekan, saya rutin mengendarainya. Dulu, saya sempat menjadi ketua Harley, HOC (Harley Davidson Owners Club). Untuk menjaga kebugaran, saya juga ikut gym (senam). Dulu rutin. Tapi karena kesibukan, saya mulai nggak punya waktu lagi untuk gym. Makanya badan saya sudah mulai gemuk.
Bagaimana Anda menjaga kualitas hubungan dengan keluarga?
Kebetulan anak-anak sudah besar, satu sudah lulus di Amerika dan mulai senang berorganisasi, dan sedang di Indonesia. Dia sedang siap-siap mengambil S-2 di Jepang. Yang kedua, sekolah di Australia. Bagi saya, komunikasi dengan keluarga tidak harus selalu bertatap muka, karena masing-masing punya kegiatan sendiri-sendiri. Dengan istri, saya kan masih pulang ke rumah.
Dengan adanya alat komunikasi yang makin canggih, jelas tidak akan menghapuskan hubungan komunikasi saya dengan keluarga. Kalau pas ada libur, kami bisa pergi bersama. Biasanya jalan-jalan saat akhir tahun. Saya pasrah kepada anak-anak, ke mana, ikut saja. Yang penting mereka tahu saya punya waktu dari tanggal berapa sampai tanggal berapa.
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!