ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

ARMIDA SALSIAH ALISJAHBANA:

Bekerjalah dengan Hati yang Bersih
Senin, 2 Januari 2012 | 15:35

Bekerja dengan hati dan pikiran yang bersih akan membuahkan hasil yang bersih. Inilah filosofi hidup yang dijunjung tinggi Armida Salsiah Alisjahbana. Benarkah Yang Maha Kuasa akan memudahkan segala urusan orang yang bekerja dengan jiwa yang jernih?

Armida Salsiah Alisjahbana yakin betul bahwa apa yang dicapai dari sebuah pekerjaan bersumber pada hati kita. Jika dilandasi niat yang bersih, niscaya kita akan memetik hasil yang bersih. Hasil sebaliknya akan kita peroleh bila bekerja dengan niat jelek atau hati dan pikiran kotor.

“Kalau diberi amanah, bekerjalah dengan hati dan pikiran yang bersih. Kalau kita sudah macam-macam, pasti hasilnya juga ‘macam-macam’. Pokoknya jangan aneh-aneh. Jalankan semua sesuai aturan, dan berikan yang terbaik,” kata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) itu kepada wartawan Investor Daily Kunradus Aliandu dan Abdul Aziz serta pewarta foto Tino Oktaviano di ruang kerjanya, barubaru ini.

Perempuan kelahiran Bandung, 16 Agustus 1960 ini ternyata sudah lama memendam obsesi besar, bahkan jauh sebelum ia masuk jajaran kabinet. Obsesi Armida tiada lain ikut mengarsiteki program- program pembangunan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju. “Obsesi saya sebagai warga negara adalah bagaimana supaya kita terus maju, jangan mundur. Kalau mundur, biayanya terlalu mahal. Kita punya potensi besar untuk menjadi negara maju,” ujar Armida.

Meski sudah duduk di pemerintahan, jiwa akademisi rupanya masih terpatri kuat dalam diri putri pasangan Siti Khadidjah dan Mochtar Kusumaatmadja, mantan menteri kehakiman dan menteri luar negeri era Presiden Soeharto. “Ini kan penugasan. Unit kerja tetap saya adalah dosen. Jadi, bukan berarti selesai jadi menteri kemudian dosennya keluar atau ikut berhenti. Saya tetap dosen dan guru besar. Saya menjalaninya seperti air mengalir saja,” tutur Armida, yang ahli di bidang keuangan publik, ekonomi ketenegakerjaan, ekonomi pendidikan, dan microeconometric.

Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

Sebagai akademisi, apa yang Anda rasakan setelah masuk kabinet?
Pemerintahan sebetulnya bukan hal baru bagi saya. Walau dulu saya tidak di pemerintahan, toh sudah lama saya membantu pemerintah, mulai dari Pemprov Jawa Barat, Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bappenas, sampai Bank Indonesia (BI). Jadi, ketika masuk Bappenas, saya tak terlalu merasa asing.

Berarti Anda tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi?
Substansi kampus dan birokrasi bagi saya tidak asing. Dengan latar belakang dan pengalaman di kampus dan di pemerintahan, saya bisa beradaptasi relative cepat.

Di mana perbedaan esensinya?
Dosen itu kan punya Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kami mendapat tugas untuk mengajar dan bimbingan. Kalau di struktural menjabat sesuatu, kami juga dituntut untuk kreatif, sehingga harus rajin ikut seminar dan konferensi, sehingga ada fleksibilitas yang tinggi. Kalau ingin publikasinya banyak atau penelitiannya maju, ya tergantung dosen. Fleksibilitasnya tinggi, yang penting tugas pokok dan fungsi (tupoksi)-nya jalan. Masuk ke birokrasi, tentu berbeda. Ada tupoksi dan kami menjalankan apa pun dalam kerangka, tidak ada fleksibilitas.

Di birokrasi, sebagai menteri, saya punya tanggung jawab dan koordinasi, tidak boleh menumpuk, harus koordinasi, antara lain melalui rapat. Koordinasi harus cepat. Di Beppenas kan topiknya tidak hanya ekonomi. Kami lebih luas, lintas bidang. Berarti, cakupannya lebih luas dan harus cepat. Kalau lama tentu akan tertahan. Untuk itu perlu konsentrasi.

Anda sebetulnya tipe orang lapangan atau yang duduk di belakang meja?

Saya sendiri sebetulnya ingin lebih punya kesempatan ke daerah untuk melihat efektivitas program di daerah, walau memang agak susah. Bappenas itu kan perencana atau pembuat kebijakan. Bagaimana mungkin bisa merumuskan kebijakan yang baik kalau tidak ada feeling dan intuisi lapangan. Itulah salah satu manfaat kalau bisa melihat lapangan atau melihat langsung ke daerah.

Bagi saya, terjun langsung ke lapangan merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Ketika melihat sebuah daerah maju, saya senang. Begitu pula kalau saya punya kesempatan bertugas ke luar negeri. Biasanya saya tidak hanya menghadiri konferensi. Saya berupaya menjadwalkan atau menyempatkan diri untuk mengunjungi suatu lokasi atau terjun langsung ke lapangan, misalnya melihat pelabuhan dan industri. Bagi saya, itu menarik. Saya selalu bilang ke teman-teman di Bappenas, kenapa negara lain maju? Kita bagaimana?

Bagaimana Anda melihat tantangan pembangunan nasional ke depan?

Tantangan pembangunan ada tiga. Pertama, substansi atau kebijakan apa pun harus didasari atau didukung suatu alasan yang kuat. Harus ada alasan, kenapa suatu kebijakan itu ada. Supaya jelas tujuannya. Kedua, bagaimana menerjemahkan program sepraktis mungkin. Ketiga, mekanisme feedback.

Kadangkala kebijakan bagus, tapi sering tidak dievaluasi secara detail, sehingga tak ada feedback yang cukup, terutama untuk program atau kebijakan yang sifatnya nasional. Padahal, efektivitas program ditentukan oleh implementasi di lapangan atau lokal. Lokal atau lapangan itu kan berbeda-beda. Jadi, kalau berbicara tentang pembangunan, tiga hal ini harus diakomodasi. Kebijakan yang tidak memperhitungkan tiga hal ini pasti tidak jalan. Itu yang susah.

Berbeda dengan zaman dulu, hanya top down saja sudah jalan. Itu yang kurang disadari. Dalam hal ini, proses menjadi penting. Contoh Program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Yang penting adalah bagaimana penyusunannya melibatkan banyak pihak dan dilakukan berlandaskan prinsip demokratisasi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) itu disusun secara demokratis karena melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang). Kami juga melibatkan perguruan tinggi. Di luar yang tiga itu, tentu ada tantangan yang bersifat eksternal, dari ekonomi global.

Berbicara lapangan berarti berbicara desentralisasi. Perspektif Anda tentang desentralisasi?
Desentralisasi perlu dipertajam. Kami merasa itu kurang. Ada pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota. Untuk mempertajamnya, kami lakukan dengan Badan Perencanaan Pembanguan Daerah (Bappeda) sebagai dapurnya.

Komentar Anda tentang reformasi birokrasi?
Reformasi birokrasi menurut penilaian pribadi saya ada yang generik dan ada yang unik di setiap kementerian-lembaga (K/L) atau institusi pemerintah. Tidak bisa dipukul rata. Yang generik itu seperti reformasi rekrutmen pegawai dan kepangkatan. Tapi ada yang unik, misalnya tugas Kementerian PPN/Bappenas lebih pada perumusan kebijakan. Ini berbeda dengan kementerian teknis.

Apakah reformasi birokrasi harus 100% sama?
Menurut saya harus mempertimbangkan hal itu. Kalau mau efektif, harus seperti itu, jangan hanya penyeragaman. Kami sedang dalam proses ke sana. Berarti pula, tunjangan kinerja tidak bisa sama rata, tapi berdasarkan kinerja institusi dan pribadi. Itu harus bisa.  Kalau disamakan, di mana esensi reformasi birokrasi?

Benarkah program pembangunan sering mentah kembali karena pergantian rezim selalu diikuti pergantian kebijakan?
Kalau sudah memasuki proses demokratisasi, saya rasa perjalanannya tak hanya ditentukan satu atau dua orang. Kan ada rakyat yang memilih pemimpinnya. Mereka tahu hal itu. Masyarakat akan memilih pemimpin yang bisa membawa terus ke atas. Saya sendiri meyakini itu. Pengalaman kita berdemokrasi dengan berganti pemimpin menjadikan rakyat pandai. Jangan underestimate. Tak mungkin kelompok tertentu membawa bangsa ini kembali ke belakang. Saya cukup yakin itu.

Apakah jabatan menteri merupakan puncak karier Anda?
Saya tidak berpikir aneh-aneh. Ini adalah amanah, saya tidak berpikir besok apa. Ini kan penugasan. Unit kerja tetap saya adalah dosen. Jadi, bukan berarti selesai jadi menteri kemudian dosennya keluar atau ikut berhenti. Tidak demikian. Saya tetap dosen dan guru besar. Hanya saja, sekarang tidak bisa mengajar pada hari kerja, cuma bisa memberikan bimbingan. Saya menjalaninya seperti air mengalir saja.

Apa obsesi Anda?
Obsesi saya sebagai warga negara, bagaimana supaya kita terus maju, jangan mundur. Kalau mundur, biayanya terlalu mahal. Itu obsesi saya secara umum, baik setelah menjabat sebagai menteri, maupun sebelum. Setiap berkunjung ke negara lain, terutama yang emerging, seperti Korea Selatan, terasa sekali bahwa negara tersebut sedang maju pesat. Berbeda saat berkunjung ke Eropa, AS, dan Jepang, terasa sekali kalau negara-negara tersebut sedang mengalami penurunan. Sebetulnya Indonesia termasuk negara yang sedang naik. Semua sektor naik. Jadi, mestinya ekonomi kita bisa melaju lebih cepat lagi.

Filosofi hidup Anda?
Siapa pun kalau diberi amanah harus bekerja dengan hati dan pikiran yang bersih. Kalau kita sudah macam-macam, pasti hasilnya macam-macam. Dengan memegang teguh filosofi itu, saya yakin akan dimudahkan oleh Yang di Atas. Sederhana saja, pokoknya jangan aneh-aneh. Jalankan semua sesuai aturan dan berikan yang terbaik.




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close