ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

WWF Serukan Buyers Beli Semua CPO Lestari
Rabu, 22 Februari 2012 | 16:58

NUSA DUA - WWF Indonesia menyerukan kepada pembeli asing (buyers) untuk membeli semua produksi minyak sawit yang sudah melaksanakan praktek industri secara lestari guna mendorong pengusaha konsisten membangun industri yang ramah lingkungan.

CEO WWF Indonesia Efransjah pada International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) ke-3 di Nusa Dua, Bali, Rabu, mengemukakan, saat ini ada sekitar 12 persen dari produksi minyak sawit mentah (CPO) dunia yang mencapai 50 juta ton, telah memperoleh sertifikat lestari (sustainable palm oil/SPO).

Sayangnya, lanjut dia, para pembeli asing yang mengedepankan kampanye SPO tidak mau membeli semua. "Yang 12 persen (enam juta ton SPO) itu saja, (buyers) tidak mau beli semua," ujarnya.

Karena itu, WWF, lanjut dia, akan menyerukan kepada pembeli asing agar membeli semua SPO, guna mendorong dunia usaha di bidang kelapa sawit berkomitmen dan konsisten menjalankan praktek bisnis yang ramah lingkungan.

Efransjah juga mengingatkan pelaku bisnis bahwa melakukan praktek industri secara lestari akan lebih aman baik dalam jangka menengah maupun panjang, baik dari sisi menjaga keragaman hayati maupun dampak sosial. "Memang kalau dilihat dari jangka pendek, investasinya lebih banyak," katanya.

Sementara itu, Kuasa Usaha Sementara Kedubes Prancis di Indonesia, Sebastien Surun, mengatakan pelaku usaha kelapa sawit harus mengantisipasi tekanan swasta di dunia, khususnya Uni Eropa, tentang pentingnya produksi SPO.

Menurut dia, ada peritel besar di Perancis yang mulai menggagas gerakan hanya menjual minyak nabati yang diproduksi secara lestari. " Indonesia harus mengantisipasi kebijakan-kebijakan pribadi perusahaan seperti itu, hanya menerima SPO," katanya.

Ia mengatakan permintaan terhadap PSO sebenarnya terus meningkat, namun pertumbuhan pasokannya lambat. Sebastien optimis, dalam 5-10 tahun yang akan datang, 50 persen produksi CPO Indonesia sudah memenuhi standar lestari dan mendapat sertifikasi RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil).

Pada 2011 produksi CPO Indonesia mencapai sekitar 23 juta ton dan menjadi produsen terbesar, yang sekitar 16 juta ton produksinya diekspor ke mancanegara.

Pada ICOPE ke-3 yang diikuti 400 peserta dari 15 negara tersebut dibahas sejumlah agenda antara lain pengelolaan hutan bernilai konservasi tinggi dan keanekaragaman hayati, upaya pengurangan emisi karbon, pemanfaatan lingkungan, dan intensifikasi perkebunan rakyat.

"Kami berharap ICOPE mampu menjadi wahana berbagi pengalaman antara berbagai pemangku kepentingan seperti industri perkebunan, pakar, peneliti, akademisi, LSM, dan lembaga keuangan serta pemerintah, tentang pengelolaan perkebunan sawit terbaik," kata Komisaris Utama PT SMART Tbk Franky O Widjaja, yang bersama WWF dan CIRAD memprakarsai ICOPE. (tk/ant)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close