ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Kesalahan Strategi Jadi Kendala Pengembangan Industri Garam
Rabu, 5 Desember 2012 | 15:54

Seorang petani memanen garam di tambak Desa Sawojajar, Brebes, Jawa Tengah. Foto: Investor daily/ant Seorang petani memanen garam di tambak Desa Sawojajar, Brebes, Jawa Tengah. Foto: Investor daily/ant

JAKARTA - Kesalahan strategi dalam membangun industri garam nasional menjadi penyebab utama minimnya produksi dan mengakibatkan Indonesia harus mengimpor garam setiap tahunnya.

"Selama ini, usaha garam nasional masih terfokus di Pulau Jawa dan Madura yang memiliki musim kemarau yang pendek. Hal itu membuat produksi garam tidak optimal dan tidak bisa memasok kebutuhan garam nasional," kata Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun di Jakarta, Rabu.

Pola pengembangan industri garam masih terpusat di Pulau Jawa dan Madura. Daerah-daerah di luar Jawa, seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki musim kemarau hingga delapan bulan, seharusnya juga bisa menjadi basis produksi garam nasional.

"Selama ini, produksi garam nasional rata-rata 1,2 juta ton per tahun yang dihasilkan dari lahan seluas 19.600 hektare yang tersebar di sejumlah daerah di Jawa, Madura, Sulawesi Selatan dan Bali. Untuk kebutuhan garam nasional mencapai 3 juta ton per tahun," katanya.

Kebutuhan garam di dalam negeri, kata Alex, 24 persen diperuntukkan bagi sektor rumah tangga, dan 50 persen untuk bahan baku industri plastik. Kemudian, untuk bahan baku industri kosmetik dan cairan infus 16 persen, pengeboran minyak dan industri aneka pangan sebesar 4 persen.

"Untuk meningkatkan produksi garam nasional, saat ini sudah dibangun pabrik garam di Nusa Tenggara Timur oleh investor Australia. Adapun investor dari Taiwan sudah menyampaikan komitmennya untuk berinvestasi di NTT," ujarnya.

Indonesia memiliki panjang pantai 5,8 kilometer dan laut seluas 81.000 kilometer persegi.

Dengan kelimpahan sumber daya alam ini, seharusnya impor garam 2 juta ton per tahun bisa berkurang jika potensi industri garam di Indonesia Timur bisa dimaksimalkan. (tk/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close