Industri Tekstil Nasional Dapat Tax Holiday
Jumat, 17 Agustus 2012 | 22:15
Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat (kanan) mendapat penjelasan tentang pencetakan kain dari pemilik PT Hakatex, Haminoto Hakadinata ketika meninjau pabrik tekstil Hakatex di sela kegiatan safari Ramadan di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (11/8). Foto: Investor Daily/ant JAKARTA - Pemerintah siap memberikan tax holiday atau pengecualian pajak kepada industri mesin, khususnya mesin tekstil tahun depan, untuk mendukung revitalisasi industri tekstil.
Hal tersebut diungkapkan Menteri Perindustrian, MS. Hidayat dalam konprensi pers di Gedung Menteri Koordinator Perekonomian di Jakarta, Jumat (17/8).
Hidayat mengatakan, kebutuhan industri tekstil untuk revitalisasi mesin setidaknya sebanyak 500 mesin. Untuk itu, lanjutnya, penguatan sektor hulu diperlukan agar mesin-mesin tersebut dapat diproduksi oleh industri mesin dalam negeri.
"Itu kami lakukan untuk menekan impor mesin-mesin untuk industri tekstil yang akan terjadi dalam dua tahun mendatang jika revitalisasi tidak dilakukan," katanya.
Menurut Hidayat, selama 35 tahun struktur fundamental industri nasional masih bisa dikatakan belum kuat, pasalnya ketika akan melakukan ekspansi di hilir, di bagian hulunya masih lemah.
Pemerintah sendiri telah mengeluarkan dana sekitar US$16 miliar untuk melakukan penguatan di sektor hulu untuk industri petrokimia dan logam dasar. Dari total tersebut, US$6 miliar untuk petrokimia dan US$10 miliar untuk logam dasar.
"Khusus untuk hulu strategis, akhir tahun 2013 jika Posco dan Krakatau Steel berproduksi maka logam untuk industi hilir akan disuplai oleh dalam negeri sehingga sekitar 80 persen impor bisa dikurangi, sama halnya dengan petrokimia," ujarnya.
Hidayat menambahkan, langkah tersebut dilakukan selain memperbaiki struktur industri di bagian hulu yang menjadi tekanan karena terus berkembangnya industri nasional, sementara di hilir pemerintah juga akan menaikan nilai tambahan.
"Pemerintah memberikan tax holiday kepada industri mesin untuk mendorong peningkatan investasi industri mesin-mesin agar tidak tergantung pada impor," tuturnya. (BS/ivan ds/feriawan h)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!