ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

Mendorong Kapitalisasi BUMN
Rabu, 22 Februari 2012 | 6:53

Presdir PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (kiri) bersama Direktur Gunawan Geniusahardja (dua dari kiri), Direktur Johnny Darmawan (tengah), Direktur Sudirman M Rusdi (dua dari kanan), dan Direktur Djoko Pranoto (kanan) memerhatikan logo 55 Tahun Astra Berkarya saat HUT Astra di Jakarta, Senin (20/2). HUT Astra ke-55 ditandai dengan pembukaan acara Innova Astra ke-28. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN Presdir PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto (kiri) bersama Direktur Gunawan Geniusahardja (dua dari kiri), Direktur Johnny Darmawan (tengah), Direktur Sudirman M Rusdi (dua dari kanan), dan Direktur Djoko Pranoto (kanan) memerhatikan logo 55 Tahun Astra Berkarya saat HUT Astra di Jakarta, Senin (20/2). HUT Astra ke-55 ditandai dengan pembukaan acara Innova Astra ke-28. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN

Pasar modal terbukti memberikan banyak manfaat bagi badan usaha milik Negara (BUMN). Tahun ini, 14 BUMN siap menggalang dana hingga Rp 50 triliun dari pasar modal. Penghimpunan dana itu dilakukan melalui initial public offering (IPO), rights issue, dan emisi obligasi.

Selain menjadi sumber pendanaan, pasar modal bisa mendorong perusahaan negara lebih transparan dan kredibel. Dengan melepas saham ke publik (go public), BUMN akan terpacu untuk menerapkan tata kelola yang baik (good corporate governance/GCG). Sebagai perusahaan terbuka, BUMN mau tidak mau harus menjalankan prinsip-prinsip GCG yang meliputi transparansi, akuntabilitas, independen, pertanggungjawaban, dan fairness.

Bagi BUMN, penerapan GCG secara konsisten menjadi kebutuhan mutlak untuk meningkatkan keberhasilan usaha. Dengan menjadi perusahaan terbuka, manajemen BUMN diharapkan akan jauh lebih baik. Mereka tidak akan mudah diintervensi karena selalu masuk radar investor publik. Dengan demikian, BUMN tidak mudah menjadi sapi perah oleh penguasa dan partai politik.

Kita berharap, pemerintah dan DPR bisa mendorong lebih banyak lagi BUMN untuk go public. Bagaimanapun, go public BUMN merupakan langkah terbaik untuk privatisasi BUMN. Selain prosesnya lebih transparan, intervensi pun bisa dikurangi. Yang harus dicegah adalah jangan sampai saham-saham BUMN yang bagus dan strategis dikuasasi investor asing.

Untuk itu, pemerintah perlu memikirkan cara terbaik agar investor lokal mendapatkan jatah lebih banyak atas saham- saham BUMN. Dengan go public, pemerintah tetap menjadi pemegang saham pengendali BUMN. Hingga kini, dari 141 BUMN baru 18 perusahaan yang berstatus sebagai perusahaan terbuka. Namun, ke-18 BUMN itu menguasai aset sebesar Rp 1.447 triliun atau 57,8% dari total aset 141 BUMN yang sekitar Rp 2.500 triliun.

Sepanjang 2011, total laba BUMN diproyeksikan mencapai Rp 113,7 triliun, 49,5% berasal merupakan kontribusi perusahaan terbuka. Angka-angka itu menunjukkan bahwa BUMN yang go public umumnya memiliki kinerja yang lebih baik.

Melalui go public, kita berharap kinerja BUMN menjadi baik seiring dengan adanya transfer pengetahuan, penerapan GCG, dan meningkatnya kepercayaan publik terhadap perusahaan negara. Dengan menjadi perusahaan terbuka, nilai riil BUMN bisa lebih terukur yang tercermin pada harga saham dan nilai kapitalisasi pasar. Saat ini, kapitalisasi pasar 18 BUMN mencapai Rp 830 triliun atau 22,1% dari total kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp 3.745 triliun.

Dari sisi kapitalisasi pasar, kinerja perusahaan negara belum terlalu menggembirakan. Nilai kapitalisasi pasar BUMN masih jauh di bawah nilai asetnya. Dibandingkan kinerja Grup Astra, misalnya, kinerja BUMN masih kalah. Saat ini, PT Astra Internasional Tbk memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp 317 triliun. Nilai tersebut sekitar 9% dari total kapitalisasi pasar di bursa efek.

Ke depan, manajemen BUMN bekerja ekstra keras untuk meningkatkan nilai perusahaan dan nilai kapitalisasi pasar. Idealnya, nilai aset perusahaan tidak boleh di bawah nilai asetnya. Pemerintah dan DPR harus mendorong langkah-langkah manajemen untuk menaikkan nilai perusahaan.

Sebagai pemegang saham pengendali, pemerintah perlu mendorong BUMN untuk melakuka aksi korporasi. Setiap manajemen harus berpikir bagaimana menghasilkan uang. Pejabat pemerintah, politikus, dan eksekutif BUMN tidak boleh lagi menjadikan BUMN sebagai sapi perah untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Manajemen BUMN bisa mencontoh keberhasilan Astra yang telah menjadi ikon perusahaan di Indonesia. Selama ini, Astra mampu meningkatkan kapitalisasi pasar karena terus menerapkan GCG secara konsisten. Astra juga selalu mengedepankan para pemangku kepentingan. Perusahaan ini juga tidak pernah berhenti untuk ekspansi usaha.

Saat ini, tidak kurang dari 168 ribu karyawan yang tergabung dalam Grup Astra dari 158 perusahaan. Perusahaan ini telah belajar dari berbagai pengalaman dan berbagai krisis ekonomi. Terbukti, Astra masih bisa bangkit.

Kita layak mengapresiasi langkah pemerintah yang menyiapkan lima BUMN untuk melantai di bursa tahun ini. Kita berharap tambahan perusahaan negara yang go public bisa lebih menggairahkan bursa saham domestik. Kita juga berharap minat investor terhadap pasar saham ikut bertambah. Namun, sebelum melepas saham ke publik, pemerintah harus membenahi kinerja BUMN tersebut agar nilainya meningkat.




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close