Menyoal Bimbingan Orangtua
Senin, 20 Februari 2012 | 6:27
Anak-anak pun menikmati siang yang ceria dan jauh dari bayang-bayang kecemasan. Foto: ist Berita seorang bocah SD yang menusuk temannya sendiri hingga delapan kali sungguh memilukan. Kasus penusukan yang melibatkan empat anak di bawah umur ini bermula dari tudingan pencurian ponsel. Tersangka berinisial A bermain ke kediaman SS (korban) yang merupakan tetangganya.
Setelah selesai bermain, SS mendapati ponsel miliknya hilang. Siswa kelas 6 SD tersebut langsung menduga A sebagai pelaku pencurian dan melaporkannya kepada wali kelas di sekolah. Akibatnya, A mendapat teguran dan diminta untuk segera mengembalikan ponsel curian tersebut.
Rupanya ponsel itu sudah dijual oleh A seharga Rp 150 ribu melalui G dan K. Namun, kepada SM, dia menyatakan sanggup mengembalikan ponsel itu pada Jumat (17/2). Dengan alasan hendak mengembalikan ponsel, A mengajak SS berangkat bersama ke sekolah. Tapi dalam perjalanan pada Jumat pagi itu, A yang berbekal pisau dapur menusuk SS hingga delapan kali dan meninggalkannya tergeletak dalam selokan. Untungnya SS cepat ditemukan sehingga tidak sampai tewas kehabisan darah.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa seorang siswa kelas 6 SD sampai punya niat menghabisi nyawa temannya? Masalah ini tidak bisa selesai dengan menghukum pelaku. Pihak Kepolisian mesti bersikap arif dalam menyelesaikan kasus ini.
Lebih dari itu, ini juga menjadi bahan refleksi untuk para orangtua. Seorang anak, ibarat kertas kosong, jika diisi hal-hal baik tentu akan berakibat baik, dan begitu pun sebaliknya. Contoh perilaku tersebut dapat dari keluarga atau pun teman bermainnya. Kasus ini mesti dijadikan pembelajaran bagi semua orangtua untuk senantiasa berupaya memberikan bimbingan sebaik-baiknya kepada anaknya masing-masing.
Herawati Dewi
Lenteng Agung,
Jakarta Selatan