EFLIN SYARYENI,
Tawarkan Wisata Melahirkan
Oleh Mardiana Makmun | Rabu, 8 Februari 2012 | 12:27
EFLIN SYARYENI, Pemilik Permata Hati Maternity Clinic. Foto: Investor Daily/MARDIANA MAKMUN Dalam setiap keterbatasan, pasti ada peluang. Filosofi ini diyakini Eflin Syaryeni. Tak adanya klinik bersalin yang nyaman membuatnya terinspirasi mendirikan Permata Hati Materniry Clinic di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kini, klinik milik pengusaha yang suka mengoleksi kain tenun itu terkenal dengan layanan waterbirth dan siap menawarkan konsep ‘wisata melahirkan’ bagi perempuan di luar Lombok.
Saat pertama kali tinggal di Mataram, Lombok, pada 2001, Eflin hanyalah istri dokter kandungan yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Hari-harinya hanya dilalui dengan mengurusi suami, anak-anak, arisan, pengajian, dan lain sebagainya.
Tapi perempuan kelahiran Palembang tahun 1978 itu memiliki naluri bisnis yang tajam. Pengalaman melahirkan di daerah Lombok, di mana saat itu tidak ada klinik bersalin yang representatif, membuatnya berpikir mendirikan klinik bersalin dengan gedung yang bagus dan fasilitas layanan nomor satu.
“Awalnya dari pengalaman pribadi saat melahirkan anak ketiga di Lombok, rasanya tidak nyaman sekali melahirkan di klinik yang ada saat itu. Lalu saya berpikir kenapa tidak mendirikan klinik berslain yang bagus, apalagi di Lombok banyak pendatang yang statusnya keluarga muda. Mereka pasti punya kebutuhan seperti saya,” kata Eflin Syaryeni, direktur Permata Hati Maternity Clinic, kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Pada 2008, berdirilah Permata Hati Materniry Clinic di atas lahan seluas 45 ribu m2. Bangunan klinik seluas 2.500 m2 itu didesain dengan gaya minimalis modern. Ada 11 kamar dan 14 tempat tidur serta didukung oleh sejumlah dokter kandungan, termasuk suami Eflin sendiri.
Kliniknya pun terus berkembang menjadi klinik dengan layanan dokter praktik bersama, meliputi dokter kandungan, anak, gigi, dan dokter umum, serta dilengkapi fasilitas tempat bermain anak dan minikafe. Juga layanan baby massage.
“Fasilitas di klinik ini seperti hotel bintang lima, tapi harga kaki lima,” ungkap perempuan yang tak sempat kuliah karena keburu dipersunting suaminya.
Waterbirth
Tren melahirkan di dalam air (waterbirth) belakangan juga ditangkapnya menjadi layanan baru di kliniknya. Wanita yang disapa Yeyen ini pun mengirim dokternya untuk mengikuti pelatihan khusus di Jakarta.
“Melahirkan di dalam air bukan hanya menjadi tren, tetapi memang lebih menguntungkan bagi ibu karena prosesnya lebih cepat 50% dan robekannya lebih sedikit. Ini yang menjadi alasan saya menawarkan fasilitas layanan melahirkan waterbirth,” katanya.
Di Lombok, layanan ini kian diminati. Sejak ditawarkan pada 2008, sudah 300 pasien yang mencoba melahirkan dengan cara ini. Apalagi biayanya tidak semahal di Jakarta yang bisa mencapai Rp 40 juta. “Di sini biayanya kurang dari Rp 10 juta,” ujarnya.
Dibandingkan melahirkan secara normal, waterbirth, kata dia, memang lebih mahal. Ini karena butuh ruang tersendiri, bathub, musik, dokter, dan dua orang asisten yang bisa melakukan hipnoterapi. Melihat peluang bisnis waterbirth ini, Eflin berencana menawarkan layanan ini ke perempuan hamil lainnya di luar Lombok, misalnya, Jakarta, Bandung, Yogya, dan Surabaya. “Saya akan tawarkan konsep ‘wisata melahirkan’ di klinik ini,” ujar Yeyen.
Konsep ini terbilang unik, tetapi bukan tidak mungkin diterima. Detailnya, jelas dia, konsep ini menawarkan fasilitas berwisata di Lombok, sembari melahirkan di kota yang disebut dengan Kota Seribu Masjid. “Sembari menunggu waktu melahirkan, ibu hamil bisa datang seminggu sebelumnya untuk berwisata ke Lombok,” jelas Yeyen yang akan berkolaborasi dengan sejumlah hotel di Lombok.
Model Fashion Show
Di tengah kesibukannya mengembangkan bisnis klinik bersalinnya, Yeyen masih sempat melakukan beragam kesenangannya, seperti jadi model sejumlah fashion show yang digelar sosialita Lombok, berburu kain tenun Lombok hingga ke pelosok, serta main FTV di SCTV.
“Ceritanya waktu itu ada syuting FTV Cinta Bersemi di Puncak Rinjani dengan bintang utama Gita Sinaga dan Rivaldo. Saya diminta ikut main sebagai ibunya Gita. Capek sekali syutingnya, tapi saya minimal tahulah, bagaimana kerjanya pemain sinetron,” kata Yeyen, setengah kapok.
Untuk urusan berlenggang-lenggok di atas catwalk, sampai kini, kata dia, masih suka dilakoninya bila diminta. “Ya, tapi untuk kawasan Lombok saja,” ujar Yeyen yang juga kerap berpesta kostum dengan teman-teman arisannya. (*)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!