HASANUDIN
Suka Lagu-lagu Marawis
Oleh Imam Muzakir | Jumat, 27 Juli 2012 | 12:55
HASANUDIN, DIREKTUR OPERASI PT JASA MARGA TBK. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA Terbiasa tinggal di pesantren sejak muda membuat Direktur Operasi PT Jasa Marga Hasanudin akrab dengan lagu-lagu marawis yang menyejukkan hati. agu marawis itu enak didengar dan tentram, apalagi kala dinyanyikan bersama,” kata pria ramah dan murah senyum yang akrab disapa Pak Hasan itu, kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Pria Kelahiran Tulungagung Jawa Timur ini bahkan menekuni kembali marawis dan bergabung bersama grup marawis PT JLJ. “Saat ini saya juga jadi pelantun lagu-lagu marawis,” katanya.
Aktivitasnya ini tentu saja dilakukan di sela kesibukannya ‘mengurusi’ jalan tol. Pria kelahiran 26 September 1963 ini tak henti hentinya bekerja siang malam untuk mengurusi operasional jalan tol Jasa Marga yang mencapai 600 kilometer lebih, dari Sumatera sampai ke Jawa Timur. “Saya itu ingin memberikan pelayanan terbaik kepada pengguna jalan tol. Itu keinginan saya, nyaman dan aman,” kata penyuka soto Ambengan ini.
Menurut Hasan, ketika dia diminta menjadi direktur operasi Jasa Marga merasa kaget, karena tuntutan layanan kepada jasa marga begitu besar dan sangat dinamis, sehingga perlu ada perubahan signifkan dalam pengelolaan tol.
“Saya sempat kaget pertama masuk sebagai Dirop, bahwa ternyata tuntutan layanan kepada kami begitu besar sekali, dan tentu ini tantangan buat kami,” kata Hasan.
Semenjak menjabat tersebut, katanya, kritikan, ancaman terus berdatangan, baik kalangan masyarakat biasa sampai ke pejabat. Namun hal itu, kata dia, membuat dia mengetahui posisi sebenarnya.
“Kritik itu bagus buat kami, supaya kami tahu bagaimana peta dan posisi kami. Bahkan saya beranikan diri untuk declare nomor handpone ke publik. Dengan begitu, saya dapat masukan yang riel dari konsumen. Karena mata konsumen lebih tajam dari mata Hasanudin,” ujarnya.
Nama Hasanudin semakin terkenal setelah idenya membuat jalan tol contra flow dalam kota di berlakukan. Meski ide itu dianggap gila dan aneh, tetap terapkan. Dia menganggap kritikan sebagai motivasi untuk bekerja lebih baik lagi.
Setiap hari, bahkan dia mendapatkan kritikan dan ancaman, apalagi dengan adanya rencana menertibkan terminal bayangan di kawasan Jatibening Bekasi. “Ya kalau ancaman lewat sms saya setiap hari, dan saya anggap ini sebagai masukan saja,” kata dia.
Ia juga mengakui bahwa dalam menertibkan fenomena terminal bayangan di KM 8 Tol Jakarta-Cikampek, Jatibening tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun itu semua, kata dia disikapi dengan wajar dan berani.
Menurut dia, terminal bayangan ini selain melanggar regulasi dan peraturan perundangan, keberadaannya juga sudah makin meresahkan pengguna jalan tol. “Kapasitas lajur tol terkurangi, rawan kecelakaan dan kriminalitas,” katanya.
Data Jasa Marga menyebutkan, pada puncak jam sibuk dari jam 06.00 hingga pukul 14.00 per hari, sedikitnya ada 936 angkutan umum, seperti bus yang melakukan aktivitas menaikkan dan menurunkan penumpang. Artinya per lima menit, ada sekitar 25 bus yang menurunkan dan menaikkan penumpang.
Akibatnya, lanjut dia, tidak jarang hal itu menyebabkan penyempitan lajur tol dan kemudian kemacetan. Sementara, kata Hasanudin, dari segi regulasi, seperti UU No. 38/2004 tentang jalan, khususnya pasal 56, hal itu dilarang. Peraturan Pemerintah No. 15/2005, pasal 41 juga melarang adanya aktivitas menaikkan dan menurunkan penumpang di bahu jalan dan gerbang tol. (*)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!