DIAN ISLAMIATI FATWA
Sepeda dan Politik Mendukung Lingkungan
Oleh Mardiana Makmun | Rabu, 6 Juni 2012 | 12:03
DIAN ISLAMIATI FATWA, Eksekutif Produser ABC Radio. Foto: dok Pribadi Hobi naik sepeda bukan semata menjadi gaya hidup Dian Islamiati. Ini menjadi sikap politiknya dalam mendukung lingkungan hidup. Eksekutif produser ABC Radio itu mendirikan Carbon Association Indonesia.
Namanya cukup lama menghilang di jagad jurnalistik Indonesia. Dian Islamiati Fatwa rupanya merantau ke Australia.
Dunianya ternyata tak jauh seperti saat masih di Jakarta. Ia kini menjadi eksekutif produser ABC Radio, Australia. “Iya, saya sudah 10 tahun di Australia, di ABC Radio,” kata Dian saat pulang kampung ke Jakarta, beberapa waktu lalu.
Keputusannya berkarier di Australia, kata dia, karena ingin mencoba sesuatu yang baru. Selain bekerja di ABC Radio, putra AM Fatwa ini juga mengajar bahasa Indonesia di Monash University dan kajian media di The University of Melbourne.
Hebatnya, di Australia, kemana-mana Dian hampir selalu menggunakan sepeda. Dari apartemennya ke kantor yang berjarak 6 km, dia menggowes sepeda. “Naik sepeda bukan sekadar lifestyle, tapi juga sikap politik saya untuk mendukung lingkungan,” kata Dian yang mengawali karier jurnalistiknya di RCTI.
Kecintaannya pada lingkungan hidup membuat Dian mendirikan Carbon Association Indonesia. “Masyarakat Indonesia banyak yang belum paham tentang carbon trading dan carbon accounting. Padahal ini penting, apalagi Indonesia negeri yang kaya,” ujar peraih gelar Master di bidang Corporate Environmental and Sustainability Management pada Monash University, Australia dan lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung.
Hidup di negeri orang tak membuat Dian merasa kesepian. Di sela kesibukannya, Dian menyeimbangkan hidupnya dengan melakukan olah raga reiki, Thai boxing, pilates, hingga menari salsa dan tango. “Ini supaya badan bergerak terus,” ujar Dian.
Urusan kangen dengan rumah dan masakan Indonesia, Dian juga punya solusinya. Ia ternyata gemar memasak sendiri. Salah satu menu yang disukainya adalah pempek dan tempe penyet. “Teman saya di Australia bilang, wow, apa ini tempe penyet, hahaha,” cerita Dian tertawa.
Menu favorit keluarga, yakni soto Makassar dan sup konro, juga ia masak sendiri. Lucunya, sewaktu di Jakarta, Dian malah tidak bisa memasak. Untuk mendapatkan resep makanan dari tempat asalnya, wanita berdarah Bone, Sulawesi Selatan, ini harus menjelajahi aneka resep dari internet. “Dari sana saya bisa masak soto Makassar dan sup konro,” ungkap Dian.
Multiplatform
Bicara bisnis media, Dian menilai, media tradisional saat ini hanya bisa bertahan 2-3 tahun ke depan. “Trennya saat ini adalah media konvergen yang multiplatform. Kalau tidak, akan tenggelam,” nilai Dian.
Dengan tren seperti itu, tantangan media saat ini kata Dian, adalah bisa memenuhi kebutuhan mendapatkan berita dari berbagai teknologi. “Semua orang sekarang ingin melihat berita dari smartphone. Kita nggak bisa menunggu lagi karena mereka ingin dapat secepatnya,” tandas Dian. (*)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!