HENDRI HARTOPO,
Prihatin Banyak Ragam Investasi Menjebak
Oleh Imam Ghozali | Kamis, 23 Februari 2012 | 11:00
HENDRI HARTOPO, Konsultan Financial Planning dan Intrapreneurship. Foto: dok.pribadi Sangat sedikit masyarakat yang menyisihkan penghasilannya di awal bulan untuk ditabung. Padahal, menabung atau berinvestasi bisa menyelamatkan seseorang ketika memasuki masa pensiun. Mirisnya, semangat masyarakat untuk berinvestasi dinodai dengan maraknya program investasi yang menjebak, sehingga menjadi keprihatinan Hendri Hartopo.
Sekilas, sosok Hendri Hartopo berkesan pendiam. Tetapi, begitu membicarakan soal tabungan, asuransi, hingga perencanaan pensiun, baru kelihatan, Hendri adalah orang yang terbuka dan peduli dengan orang lain.
“Saya memang senang membangkitkan kesadaran orang tentang betapa pentingnya menabung dan merencanakan keuangan untuk hari tua,” ujar Hendri Hartopo kepada Investor Daily, di Surabaya baru-baru ini.
Menurut dia, masih sedikit masyarakat, khususnya kar yawan, yang memiliki kesadaran perencanaan keuangan. Umumnya, pendapatan sebulan selalu habis untuk pengeluaran sebulan. Seharusnya, jelas dia, pendapatan dipotong lebih dulu di awal untuk ditabung, baru sisanya untuk membayar kebutuhan seharihari sehingga otomatis akan memangkas biaya kebutuhan sekunder atau gaya hidup yang tidak perlu.
Bila tidak, sebesar apapun pendapatan, akhirnya tetap akan habis juga. Keprihatinan itu mendorongnya menjadi konsultan keuangan atau istilahnya financial planning dan intrapreneurship. Ia juga menulis buku berjudul Save or Sorry dan Saya Beruntung Menjadi Karyawan. Dalam kedua buku tersebut, ia berbicara tentang membangun kesejahteraan dengan tanggung jawab pribadi, pengembangan diri, dan intrapreneurship.
“Tujuannya agar setiap orang memiliki perencanaan yang terarah, sehingga ketika masa pensiun dia masih sejahtera. Asuransi dan tunjangan lainnya dari perusahaan hanya bisa meng-cover 20%, sisanya justru harus dilakukan masing-masing pribadi sekarang dan nanti. Karena itu, perlu perencanaan yang terprogram dan bisa terhindar dari penipuan investasi,” jelasnya dalam satu kesempatan usai seminar di Surabaya.
Dia menjelaskan, kunci keberhasilan untuk memulai menabung adalah bagaimana membayangkan dan merencanakan masa pensiun yang sejahtera. Dengan memulai lebih dini untuk menabung, pekerja akan lebih mudah menatap masa pension dan rencana lain karena sudah memiliki kesiapan.
Menabung dalam hal ini bukan semata menabung layaknya di bank, melainkan bisa bentuk jenis investasi lainnya, misalnya tanah, properti, emas, reksa dana, saham, dan jenis investasi lainya yang disesuaikan sesuai keahlian dan timing tepat. ”Tidak mudah tapi harus segera dimulai bila tidak ingin pension sengsara,” jelasnya.
Namun yang menyedihkan, kata dia, sebagian masyarakat yang mulai sadar berinvestasi, justru menjadi target penipuan berkedok investasi yang kini marak dan buntutnya merugikan nasabah. Bukannya untung malah sebaliknya karena sebagian besar nasabah menginginkan keuntungan besar dalam waktu singkat tanpa memerhatikan validitas dan kinerja perusahaan tersebut.
“Saat ini banyak informasi yang bisa didapatkan masyarakat akan validitas jenis investasi yang legal yang bisa dipilih,” kata Hendri.
Keahlian mengulas tabungan, asuransi, sampai perencanaan pension didapatnya dari pengalaman selama bekerja di perusahaan asuransi dan didukung pendidikannya yang memadai.
Dengan pengalaman pada lembaga keuangan asuransi jiwa sebagai assistant to managing director, product development, Hendri memiliki kemampuan dalam penerapan perencanaan keuangan mulai dari tingkat pengambil keputusan di manajemen atas sampai ke tingkat para penjual di lapangan.
Sebelumnya, Hendri mengambil program magister manajemen (MM) di Institute Pengembangan Manajemen Indonesia (IPMI) dan program Master of Business Administration (MBA) di Monash University (Mt. Eliza) sebagai program double degree pada 1996.
Hingga kini, Hendri banyak dipanggil untuk memberikan seminar in-house Perencanaan Keuangan dan Intrapreneurship bagi karyawan di berbagai perusahaan. Sebut saja Pertamina, Telkomsel, PT Telkom, PT Lontar Papyrus Pulp & Paper - Jambi, PT Indah Kiat Pulp & Paper – Perawang, Pekanbaru Riau, PT Mulia Industrindo – Cikarang Bekasi, PT Branta Mulia Tbk – Bogor, PT Caltex Pacific Indonesia (Koperasi Karyawan), Rumbai & Duri, Riau, PT Sinar Continental – Bandung, PT Astra International Daihatsu Division – Jakarta, PT Bhinneka Karya Mandiri (Guna Group) – Karawang Jawa Barat, dan lain-lain.
Herbal
Di sela kegiatannya menjadi pembicara seminar, Hendri kerap berburu kuliner ketika sedang berada di daerah. Salah satu kuliner yang disukainya adalah kuliner khas Surabaya, seperti rawon, sop buntut, sop iga, dan lain-lain. Tapi ia mengaku tidak menyukai rujak cingur, makanan khas Jawa Timur, karena tidak mau membayangkan makan cingurnya sapi.
Sosok Hendri ternyata juga sangat peduli kesehatan. Untuk mengantisipasi dan menjaga badan agar tetap fit, Hendri menggunakan obat herbal yang saat ini juga diseriusinya. Salah satunya fermentasi manggis, sirsak, dan ketan hitam untuk kesehatan. Ia bekerja sama dengan UKM yang dikelola dan dibinanya.
“Saat ini produksi fermentasi ekstrak manggis dan sirsak masih dalam tahap uji klinis dan proses uji edar. Alam Indonesia menyimpan banyak tanaman herbal yang bisa dimanfaatkan. Sayangnya belum banyak yang melakukannya sementara khasiatnya sangat bagus bagi tubuh,” ujarnya.
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!