ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

SOERYO BAWONO

Mem-branding Kuliner Kaki Lima
Oleh Alina Mustai’dah | Selasa, 7 Februari 2012 | 10:49

SOERYO BAWONO, Ketua Bidang Industri, Perdagangan, dan Koperasi Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA). Foto: Investor Daily/ ALINA MUSTAI’DAH SOERYO BAWONO, Ketua Bidang Industri, Perdagangan, dan Koperasi Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA). Foto: Investor Daily/ ALINA MUSTAI’DAH

Hobi berburu kuliner mengilhami Soeryo Bawono untuk membranding kuliner kaki lima. Menurut dia, potensinya sangat besar, terlebih bila sudah dikemas menarik.

Siapa yang tidak menyukai kuliner lokal Indonesia? Rasanya nikmat, khas, cocok sekali dengan selera lidah orang Indonesia. Ini pula yang disukai Soer yo Bawono, ketua Bidang Industri, Perdagangan, dan Koperasi Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA).

Soer yo, bahkan tidak hanya hanya menyukai, tetapi sudah sampai ke taraf mencintai kuliner lokal, hingga bercita-cita mengembangkan kuliner kaki lima karena potensinya sangat besar.

Ia berencana menyatukan mereka sebagai sebuah kekuatan. Misalnya, membuat lontong sayur dengan merek tertentu. “Mereka sebenarnya bisa bersaing tetapi tidak punya merek,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (6/2).

Dia menilai, dengan menyatukan para pedagang kecil, maka biaya produksi bisa ditekan karena dibeli dalam jumlah besar. Selain itu, mereka bisa memperoleh nilai jual lebih tinggi, sehingga dapat keuntungan yang lebih besar.

Makanan yang berpotensi di-branding, di antaranya lontong sayur, sop kambing, sop kikil, empek-empek, dan nasi goreng. Makanan kaki lima, lanjut dia, tidak kalah dengan restoran asal dikemas dengan menarik.

Soeryo tampaknya sangat serius dengan keinginannya tersebut. Saat ini, pria berperawakan besar itu sudah mengumpukan teman-temannya untuk membangun kuliner tersebut. Menurutnya, pedagang kaki lima memiliki daya tahan sangat besar dalam berbagai tekanan. Mereka patut didukung agar usahanya bisa berkembang

Berburu
Keinginannya untuk mengembangkan kuliner lokal tersebut berawal dari hobinya beburu kuliner. Selama hampir lima tahun terakhir, Soeryo dan sembilan teman lainnya membentuk klub kuliner. Dia lebih memilih makan di pinggir jalan ketimbang di restoran, dengan alasan kurang menantang.

Mereka selalu menyempatkan diri untuk berburu kuliner kaki lima setiap minggu. Selain enak dan harganya murah, yang paling menantang adalah upaya pencarian warung kaki lima yang enak. “Kami berlomba mencari makanan enak pinggir jalan. Kalau enak, akan diberitahukan kepada teman yang lain,” tutur pria kelahiran 23 April 1965 itu.

Hampir semua daerah pernah dijelajahi Soeryo dan klubnya, kecuali NTT dan Papua. Dari semua makanan enak yang pernah dicicipinya, salah satu yang paling top adalah sop kambing di Surabaya. “Kami berburu kuliner kaki lima setiap ada tugas ke luar daerah,” jelasnya.

Selain di dalam negeri, klub kulinernya juga memperluas jangkauan ke luar negeri, seperti Thailand, India, dan Tiongkok. Mereka tidak menemukan kesulitan dalam menyesuaikan selera terhadap makanan di negara Asia lainnya. Namun, dia memperoleh pengalaman yang tidak menyenangkan saat makan di warung pinggir jalan di Tiongkok karena dibuat dari ulat bulu dan kalajengking.

Menurutnya, sebagian orang menganggap makanan pinggir jalan kotor. Tetapi sebenarnya para pedagang itu bersih, hanya lokasinya yang kurang bagus. Biasanya, bapak satu putri itu akan memberi masukan kepada mereka. “Sambil jalan kita berikan apresiasi,” tuturnya.

Program diet yang sedang dijalankannya tidak menyurutkan niatnya untuk berburu kuliner. Meski demikian, Soeryo tidak lupa membawa oatmel sebagai pengganti nasi. Sembari bercanda, dia menyebut upayanya itu sebagai diversifikasi pangan.

Kendati sibuk menjalankan tugasnya di KTNA dan Inkopti, Soeryo tetap meluangkan waktu untuk bercocok tanam di sawah yang diwariskan orang tuanya. Mereka berpesan agar sawah tersebut tidak dijual. “Dari dulu saya adalah petani,” ujar dia.

Bagi pria asal Tuban itu, pertanian adalah sektor penting yang harus dikawal untuk menjaga stabilitas negara dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. (*)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Data tidak tersedia.
Close