ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

I KETUT WIRYA NEGARA

Kepincut Dunia Perhotelan Karena Anak Kos
Oleh Imam Ghazali | Rabu, 1 Februari 2012 | 8:23

Tertarik cerita seorang anak kos tentang gaji pegawai hotel yang besar, I Ketut Wirya Negara langsung kepincut. Dia pun memantapkan diri berkarier di bidang perhotelan sejak 1985, hingga kini menjabat sebagai GM Inna Simpang Hotel Surabaya.
 
“Anak kos itu cerita bahwa gaji pegawai hotel besar. Selain gaji pokok juga ada gaji tambahan lain yakni service charge yang cukup besar dibandingkan pekerjaan lain apalagi dengan PNS. Anak kos itu bercerita, sebagai koki dengan gaji dari service charge saja bisa menerima sebesar Rp 400 ribu, sementara gaji PNS waktu itu kisaran Rp 45 ribu,” papar I Ketut Wirya Negara kepada Investor Daily, di Surabaya belum lama ini.

Mendengar cerita tersebut, dia mengaku langsung tertarik dan selepas SMA melanjutkan pendidikan di sekolah perhotelan P4B. Pilihannya itu ternyata tak salah. Dia langsung diterima bekerja di Putri Bali Hotel Nusa Dua bahkan disekolahkan di sekolah wisata BPLB.

“Soal karier, terus terang saya tidak mematok target tertentu dan tidak agresif mengejarnya. Jabatan GM, ataupun jabatan lain yang saya terima menjadi tantangan untuk bisa memberikan yang terbaik,” kata pria yang piawai melukis ini.

Lebih setahun menetap di Surabaya, I Ketut mengamati perbedaan yang mendasar antara perhotelan di Surabaya dan Bali. Menurut dia, hotel di Surabaya segmentasinya jelas dominan untuk kegiatan bisnis.

Sementara di Bali meski dominasinya untuk kegiatan leisure, kegiatan bisnis juga bisa dilakukan. Dari perbedaan itulah yang akhirnya menjadi strategi yang dilakukan dalam menjaring tamu di tengah kompetisi bisnis perhotelan yang cukup ketat.

Menurut dia, salah satu yang menjadikan pulau Bali diminati wisatawan dalam dan luar negeri yakni masih terjaganya sosio cultural dalam performance ataupun masyarakat secara keseluruhan. Ciri khas budaya Bali yang masih terpelihara bisa menjadi komoditas yang bisa ditunjukkan dalam beberapa event ataupun skala kecil. Karenanya Bali lebih mudah dikenal dalam industri pariwisata skala lokal, regional ataupun global dibandingkan dengan daerah lain meski sebenarnya dari objek wisata hampir sama.

Dia mengamati, yang tidak dimiliki kota Surabaya untuk menunjang kegiatas bisnis yakni tempat leisure yang representatif. Sebut saja pantai Kenjeran, harusnya bisa dikelola menjadi lebih baik dengan mengandalkan objek pantainya.

“Itulah tantangannya menjabat di posisi saat ini. Persaingan makin ketat, sementara target bisnis Inna Simpang sebagai satu-satunya hotel pemerintah harus tetap bisa survive dan bersaing dengan hotel bintang sekelasnya,” kata pria yang hobi main tenis ini.

I Ketut mengakui, hadirnya sejumlah hotel baru di Surabaya berimbas negatif pada bisnis Hotel Inna Simpang. Tahun 2011, hotel bintang tiga di bawah bendera Inna Hotel Group itu mengalami penurunan okupansi alias tingkat hunian.

“Tahun lalu capaian okupansi kita hanya di kisaran 70% dari 119 unit kamar. Turun 0,3% dari tahun sebelumnya,” katanya. Namun demikian penurunan okupansi itu tidak sampai  berpengaruh terhadap pendapatan hotel pelat merah tersebut. Pada 2011, revenue yang dibukukan sebesar Rp 16,3 miliar. Naik 14% dari pendapatan 2010. Tahun ini diharapkan pendapatan bisa tumbuh antara 10- 13%.

Diakui Ketut, persaingan bisnis perhotelan di Kota Pahlawan, terutama untuk bintang tiga, sangat ketat. Meskipun paling banyak diminati oleh tamu, namun jumlahnya yang sangat banyak membuat hotel yang bermain di kategori ini harus rela bagi-bagi room dengan kompetitor. Jumlah tamu secara umum meningkat. Tapi karena jumlah hotelnya semakin banyak, otomatis okupansi tertekan.

Untuk 2012, okupansi diharapkan bisa tumbuh menjadi 74%. Target pertumbuhan 4% memang relative kecil, namun angka itu dianggap yang paling realistis. Inna Simpang tidak mau muluk-muluk pasang target. Lebih baik target kecil tapi capaiannya besar pada tahun ini didukung rencana renovasi kamar, dan fasilitas lainnya.

Untuk mewujudkan target pendapatan maupun okupansi, sejumlah strategi sudah disiapkan. Di antaranya menggenjot pelayanan untuk fasilitas MICE (meeting, incentive, convention and exhibition) yang pada 2011 mampu memberikan kontribusi sangat signfikan terhadap revenue. “Fasilitas MICE cukup diminati, karena Inna Simpang adalah hotel business and meeting,” jelas Ketut.

Ditambahkannya, menejemen juga melakukan sejumlah renovasi sejak 2011. Dengan dana hampir Rp 1 miliar, renovasi menyasar untuk perbaikan coffee shop, lobi luar, interior lobi dalam hingga kolam renang. “Kita harapkan renovasi ini bisa berimbas signifikan terhadap jumlah tamu maupun penggunaan fasilitas MICE,” pungkas Ketut. (*)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Data tidak tersedia.
Close