EVERT ERENST MANGINDAAN,
Jangan Biarkan Lapangan Kosong
Oleh Ester Nuky | Sabtu, 18 Februari 2012 | 22:40
EVERT ERENST MANGINDAAN, Menteri Perhubungan Apa yang selalu memenuhi bagasi mobil seorang pangdam VIII/Trikora Maluku Irian Jaya (Malirja) periode 1991-1993, Evert Erenst Mangindaan? Bola!
Bola-bola ini satu demi satu dilemparkan keras-keras ke lapangan yang kosong, yang segera membuat anak-anak Bumi Cendrawasih berhamburan ceria masuk ke lapangan. Anak-anak Papua yang punya fisik kuat dan bakat sepak bola alami pun segera beradu aksi memperebutkan si kulit bundar.
Meski minim fasilitas, dari sinilah banyak lahir putra-putra terbaik bangsa yang mengangkat sepak bola Indonesia. Anak buahnya pun mengingat, Mangindaan tegas berpesan, “Jangan biarkan lapangan kosong. Beri aktivitas! Beri Bola!”
Bagi menteri Perhubungan ini, bola menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupannya. Sarjana ilmu politik itu merupakan putra mendiang tokoh nasional EA Mangindaan, salah satu tokoh pendiri PSSI yang namanya diabadikan untuk turnamen sepakbola “Opa Mangindaan Cup”. Bagai bola, terus bergulir pula perjalanan pria kelahiran Solo, 5 Januari 1943 ini.
Mengawali karier tentara di ujung barat Nusantara sebagai komandan Peleton di Aceh pada 1965, ia melesat ke ujung timur menjadi pangdam VIII Trikora 1991-1993. Ia pun segera melebur sebagai pendidik dalam tugas sebagai komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) TNI AD Bandung pada 1993-1995.
Purnawirawan TNI berbintang tiga yang dikenal tegas tapi humoris ini juga melesat ke berbagai lapangan politik. Gubernur Sulawesi Utara dijabatnya pada 1995-2000, kemudian bergeser ke pusat, menjadi penasihat presiden bidang Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia periode 2000-2001.
Pada 2004-2009, ia sigap menjadi anggota DPR dan terpilih sebagai ketua Komisi II DPR. Tak menunggu waktu lama, dia pun masuk jajaran Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), sebagai menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi.
Kagumi Semangat Muda
Ayah tiga anak yang menikahi Adelina Martine Tumbuan pada 25 Agustus 1973 ini merupakan sosok yang rendah hati, mengagumi siapa pun yang berani berjuang demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Saya bangga terhadap Rontonuwu, pemuda dari Manado yang berjuang saat usianya masih dini, 14 tahun. Sesedikit apa pun yang dilakukan, perjuangan pahlawan ini tidak ada yang sia-sia,” kata Mangindaan di Jakarta, belum lama ini.
Ia juga mengagumi Sersan KNIL Taulu dan kawan-kawannya, yang mendirikan Tentara Republik Indonesia di Sulawesi Utara (TRI SU), yang antara lain terdiri atas satuan dari Pasukan Pemuda Indonesia. Dalam peristiwa yang dikenal sebagai “Merah Putih di Manado” 66 tahun silam, Sersan KNIL Taulu bersama pasukan mudanya memberontak terhadap Belanda dan akhirnya berhasil memaksa Komandan Belanda untuk Sulawesi Utara Letkol de Vries menyerah tanpa syarat.
“Jika saya dulu jadi ‘angkatan’ (letjen TNI) kan hampir sama dengan sekarang, ‘angkutan’ (menteri Perhubungan). Di ‘angkatan’ dan ‘angkutan’ itu sama saja, kibarkan ‘Dwi Warna Purna Cendekia Wusana’ atau kejarlah ilmu dan apa yang kita dapatkan semua untuk rakyat,” katanya di hadapan para taruna pelaut di Surabaya, pekan lalu.
Filosofi “Dwi Warna Purna Cendekia Wusana” ini hidup dan dihidupi di kalangan pendidikan militer di Tanah Air. Sasarannya untuk membentuk patriot bangsa berjiwa Merah Putih, cerdas, dan bijaksana. Dalam menyemangati dan ikut membentuk kepribadian andal pemuda bangsa, Mangindaan tak segan-segam terjun langsung mengjadi pengurus sepak bola di mana pun ia bertugas. Pada 1983- 1995, ia menjadi ketua Badan Timnas PSSI. Ia juga pernah menjadi ketua Pengda PSSI Provinsi Irian Jaya dan ketua KONI Provinsi Sulawesi Utara.
Ayah Fika Devi C Mangindaan, Harly Mangindaan, dan Siska Riyani Oktavia Mangindaan ini tak pernah lelah bergelut dengan sepak bola dan bangsa. Lewat sepakbola, Indonesia bisa bersatu, bersekutu, dan berjaya!
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!