BAMBANG WIDJAJANTO
Ingin Jadi ‘Guru’ bagi Petani Indonesia
Oleh Euis Rita Hartati | Selasa, 19 Juni 2012 | 12:24
BAMBANG WIDJAJANTO, Commercial General Manager PT Agricon Dibesarkan orangtua yang berprofesi sebagai guru di desa, membuat Bambang Widjajanto mencintai dunia mengajar sekaligus bidang pertanian. Meski akhirnya memilih pekerjaan di bidang pertanian, Bambang bangga karena dia tetap bisa menjadi ‘guru’ bagi petani-petani di daerah.
“Orangtua saya guru, tapi sejak kecil saya sudah akrab dengan kehidupan di desa. Sebenarnya saya mau jadi guru, tapi menurut saya, jadi guru tidak harus menjadi pekerjaan dan mengajar di kelas,” kata Bambang kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Bambang, sewaktu kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) dia sudah melakoni profesi guru, yakni dengan menjadi asisten dosen dan mengajar di beberapa SMA swasta.
Sekarangpun, kata Bambang, dia bisa tetap menjadi guru, yakni guru para petani. Pasalnya, perusahaan tempatnya bekerja kini, PT Agricon, melakukan program pembinaan untuk petani yang diberi nama Sekolah Lapang Agricon.
Tahun lalu, sekolah ini dibangun di 500 titik di berbagai wilayah di Indonesia. Satu titik sekolah ini diikuti oleh sekitar 25 petani. Para petani ini mendapat pendidikan gratis selama tiga bulan atau satu musim pertanaman padi mengenai berbagai hal tentang pertanian, mulai dari pengenalan dan pengendalian hama, penyakit dan gulma, pemupukan, teknik pemanenan yang benar dan juga memilih jenis pestisida yang baik serta cara menggunakannya secara benar.
“Jadi, beda perusahaan Agricon dengan lainnya, perusahaan ini tidak hanya memproduksi barang untuk dijual, tapi juga memberi nilai tambah dengan cara memberikan pembinaan kepada petani,” papar ayah tiga anak ini.
Menurut dia, sebagai perusahaan, Agricon memiliki visi memberi sesuatu yang bermanfaat bagi petani. Biasanya, kata dia, perusahaan menempatkan keuntungan nomor pertama, tapi perusahaan ini menempatkan keuntungan pada nomor buncit.
“Tujuan pertama mencari ridho Tuhan, kedua mengembangkan sumber daya manusianya, ketiga selalu melakukan yang terbaik, dan terakhir mencari keuntungan bersama. Itu pula yang membuat saya tertarik untuk bergabung pada Agricon,” jelasnya.
Bambang mengatakan, sudah saatnya dunia pertanian Indonesia kembali bangkit dan menjadi kekuatan nasional, karena Indonesia merupakan negara agraris. “Kita sudah pernah coba menjadi Negara industri, tapi gagal. Sebaliknya kita malah pernah maju di bidang pertanian dengan swasembada pangan,” ujarnya.
Dia juga ambil contoh, lahan sawit Indonesia juga merupakan yang terluas, yakni 8 juta ha dan pada 2017 diperkirakan mencapai 17 juta ha. “Ini juga menunjukkan bahwa Indonesia itu punya potensi. Tinggal bagaimana kekuatan ini didukung oleh teknologi yang tepat guna,” ujarnya.
Padukan Barat dan Timur
Setamat kuliah dari IPB, pada 1986, Bambang Widjajanto cukup lama malang melintang di perusahaan asing yang bergerak di bidang agrochemical. Banyak asam garam dan ilmu yang diperoleh saat bekerja di perusahaan multinasional, sampai suatu saat dia diminta untuk membangun kembali perusahaan lokal di bidang yang sama, PT Agricon yang tengah berbenah.
“Sebenarnya Agricon perusahaan lama, sudah 43 tahun. Namun kondisinya sempat turun, lalu saya diminta untuk membantu membenahi,” katanya.
Pengalaman yang dimiliki selama ini dia coba terapkan di Agricon. Namun, dia mengaku bahwa ada banyak perbedaan bekerja di perusahaan asing dan lokal. Menurut Bambang, perusahaan asing umumnya sudah didukung dengan sistem yang kuat dan matang, sehingga tinggal menjalankan saja. Selain itu, ada strategi aliansi dengan kantor pusat.
Sementara di lokal, harus mengembangkan dan memperbaiki sendiri, sehingga proses dan tantangannya jauh lebih berat. “Dinamikanya hebat. Jadi, kita membangun strategi sendiri. Ada beberapa hal dari perusahaan asing yang bisa diterapkan perusahaannya kini. Namun memang tidak bisa sepenuhnya karena memang kondisi dan budaya yang berbeda. Jadi, saya padukan antara budaya Barat dan Timur,” paparnya.
Tak heran, di perusahaan ini ritme kerja Bambang lebih sibuk dibanding saat dia bekerja di perusahaan asing. Tapi dia mengaku sang istri dan ketiga anaknya yang duduk di bangku SMP, SMU, dan perguruan tinggi memaklumi hal itu.
“Anak-anak juga semakin besar dan punya kesibukan sendiri-sendiri. Yang penting, saat libur bisa kami isi bersama-sama,” ujar penyuga olahraga golf ini.
Bambang mengungkapkan bahwa bisnis di bidang agri kimia memang lebih banyak didominasi perusahaan asing. Ke depan, dia ingin Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri, dengan menghasilkan produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau petani.
Kini, bersama sejumlah rekan-rekannya saat kuliah, Bambang juga tengah merintis kegiatan yang berhubungan langsung dengan kegiatan pertanian. “Kami sama-sama punya idealisme ingin mengembangkan dunia Agribisnis di Indonesia,” ujar Bambang. (*)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!