ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 23 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

EDY PUTRA IRAWADY

Berambisi Dorong Dangdut Saingi Musik Korea
Oleh Wahyu Sudono | Selasa, 12 Juni 2012 | 12:00

EDY PUTRA IRAWADY, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN EDY PUTRA IRAWADY, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN

Musik klasik jazz memang menjadi kesukaan Edy Putra Irawady. Ia telah meluncurkan sebuah album jazz dan berencana akan masuk dapur rekaman lagi. Kendati senang jazz, Edy juga peduli dengan musik dangdut. Ia terobsesi menjadikan dangdut sebagai Indonesian Pop (I-Pop) dan mampu bersaing dengan Korean Pop (K-Pop).

Edy merasa, genre musik asli dalam negeri dinilai sudah mulai tergusur oleh gelombang musik asing. Dia mencontohkan aliran musik pop yang dinyanyikan oleh grup vokal pria (boy band) atau grup vokal perempuan (girl band) asal Korea Selatan, begitu digandrungi para kawula muda.

Edy pun berambisi mendorong dangdut menjadi Indonesian Pop (IPop) dengan kemasan baru yang lebih atraktif hingga bisa bersaing dengan Korean music wave. Ambisi ini juga didorong oleh keinginan menggerakkan industri kreatif sebagai basis perkembangan industri musik nasional.

“Ini ekonomi kreatif. Dampak ekonominya luas. Saya mau bikin Sound And Motion Festival untuk mendorong munculnya I-Pop dan kreasi seni gerak dan suara, termasuk tarian-tarian magic,” ujar Edy Putra kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang hingga kini masih tergabung dalam NezNos Library Band ini berencana menggelar festival itu sebelum bulan Puasa tahun ini. Soal lokasinya, dia mengaku sudah memiliki tiga alternatif, yakni di kawasan Ancol, atau Universitas Bunda Mulia, atau di Jakarta Theater.

“Saya harapakan sponsor teman dan crowd financing aja,” imbuh pria ramah kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, 5 Oktober 1957.

Dia berpendapat kondisi industri musik dalam negeri sudah sangat berkembang. Hanya sayangnya warna musiknya kurang variatif. Selain itu perkembangan industri musik dalam negeri juga dinilai masih terganjal masalah hak atas kekayaan intelektual (HaKI), seperti pembajakan yang kian marak. Aksi pembajakan tersebut menurutnya lambat laun akan dapat membunuh kreativitas para seniman dan juga industrinya.

“Mudah-mudahan dengan terbentuknya PARPPI yang dikukuhkan Menparekraf bisa membantu peningkatan perlindungan HaKI dan pengembangan musik Indonesia yang berkarakter. Bayangkan Singapura bisa menciptakan lagu-lagu berkelas dunia, masak kita nggak?” jelas dia.

Untuk menggerakkan industri musik nasional supaya bisa bersaing dengan industri musik global, pejabat yang justru tidak suka birokrasi ini mengusulkan supaya pada awalnya bisa memunculkan musik berbasis etnik dan jangan hanya ikut-ikutan arus musik yang ada. Setelah itu, katanya, pelaku industri bisa menerapkan strategi mengembangkan dangdut sebagai I-Pop untuk diperkenalkan pada pasar global dengan memanfaatkan jaringan perusahaan label internasional.

Klasik Jazz
Kendati mengaku menyukai semua aliran musik dan berambisi memajukan dangdut, Edy cenderung lebih memilih menikmati musik alternative yang berbasis klasik jazz, seperti yang dibawakan oleh musisi kenamaan Yanni, Maksim, Gino Vanelli, Kenny G, dan Olivia Ong.

Pejabat yang suka bicara secara blak-blakan ini juga berencana akan masuk dapur rekaman lagi pada Agustus mendatang dengan mengandalkan lagu-lagu ciptaannya yang tetap beraliran klasik jazz. Pria asli Sumatera ini sudah menciptakan 18 lagu. Dia juga telah meluncurkan satu album rekaman dalam bentuk CD yang berisi sembilan lagu. Lagu-lagunya juga dapat diunduh dalam bentuk ring back tone (RBT).

“Semua lagu ciptaanku sendiri. (Ini) kan curhat kerjaan dan kemunafikan perilaku he..he.. Dengar Strawberry Tear-nya Olivia Ong –One Single Note To Samba, Felicia dari Gino Vanelli, Hana’s Eyes dari Maksim, musik aku banget,” tutur Edy.

Edy mengaku dalam menciptakan lagu terinspirasi oleh suara alam, suara bising industri, dan juga suara orang membaca Firman Tuhan. Dia juga tidak memilih lokasi tertentu untuk mencari inspirasi dalam mengkreasikan bakatnya.

“Saya terinspirasi suara orang membaca Firman Tuhan karena saya bisa merasa suara itu masuk ke darah dan jiwa saya serta melihat jasad saya,” pungkasnya. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close