DJUNAEDY HERMAWANTO,
Atasi Jenuh, Rela Jadi Sopir Keluarga
Oleh Imam Ghozali | Rabu, 15 Februari 2012 | 10:35
DJUNAEDY HERMAWANTO, VP East Region PT XL Axiata Tbk Meski memiliki posisi yang cukup tinggi, VP East Region PT XL Axiata Tbk Djunaedy Hermawanto masih rela sesekali menjadi sopir untuk keluarga tercinta. Selain sebagai refreshing, hal itu dilakukan sekaligus untuk merekatkan hubungan keluarga yang berdomisili di lain kota.
Sejak 2001 dia harus tinggal berjauhan dengan keluarga yang memilih tetap tinggal di Jakarta dengan alasan pendidikan anak, sementara Djunaedy di Surabaya.
“Memang harus ada yang berkorban. Hubungan jarak jauh sudah terbiasa di keluarga kami. Karenanya tiap akhir pekan sebisa mungkin pulang ke Jakarta memanfaatkan waktu semaksimal mungkin bersama keluarga. Anak saya tiga, terbesar SMA dan terkecil kelas 2 SD,” jelas Djunaedy, kepada Investor Daily, belum lama ini.
Untuk itulah, kala bersama keluarga, Djunaedy mengaku rela melakukan apa saja, salah satunya menjadi sopir keluarga. Baginya, langkah tersebut menjadi keharusan yang dilakukan menebus waktu ketika dirinya harus berpisah dengan keluarga.
Dia mengaku, dengan pekerjaannya saat ini, tak bisa dipastikan berapa lama dia menetap di satu kota. “Karier harus, tapi keluarga tetap menjadi prioritas utama. Karenanya sebisa mungkin memanfaatkan waktu sebaik mungkin ketika sedang berkumpul. Contohnya kalau ada anak sakit, mau tidak mau harus pulang meski hanya sekadar menengok dan mengantarkan ke rumah sakit,” ujar Djunaedy.
Djunaedy yang asli Malang ini sebenarnya memiliki basic pendidikan bidang elektro dari Poltek Universitas Brawijaya (Unbraw) Malang. Kenyataannya, dia berkecimpung di dunia marketing dan sales. Meski demikian baginya tidak masalah karena justru di dunia marketing dan sales ini menurut dia jauh lebih menarik dibandingkan dengan dunia teknik yang statis karena yang dihadapi mesin dan mesin.
Awal mula bergabung di industri telekomunikasi pada 1987 di Indosat, ketika operator tersebut memulai unit usaha baru yakni menjual produk IM3 di Batam. Meski sebenarnya awalnya kerja di bagian network, mau tidak mau harus ikut secara tidak langsung di planning dan sales.
Pengalaman inilah yang ternyata membawa andil besar pada keberhasilan penetrasi IM3 di Batam dan kariernya sempat melejit, hingga ditunjuk sebagai VP untuk wilayah Sumatera. Di saat kariernya sedang baik dan di perusahaan mapan, Djunaedy justru ingin mundur dan mencari tantangan baru, walaupun masih di dunia telekomunikasi. Dia pun menjawab tantangan dari PT XL Axiata Tbk pada awal 2008.
Baginya posisi XL yang saat itu menjadi operator terbesar ketiga memiliki semangat dan sistem yang memungkinkan dirinya untuk berkreasi lebih leluasa. Didukung dengan tim yang memadai, dirinya bisa berkreasi dan menerapkan sesuai target market yang diinginkan.
Salah satu strategi XL dengan tarif murahnya ternyata sukses mendrive pelanggan baru yang signifikan dan mendorong operator lain mengikutinya. “Banyak iklan operator yang dibuat mewah dan canggih ternyata tidak mengangkat dan mengena. Justru yang dilakukan XL dengan iklan yang sederhana dan beda, banyak menarik minat penonton dan terbukti mampu mengerek penjualan secara langsung. Konsep jenis inilah yang sampai saat ini dipertahankan,” ujar Djunaedy yang kini mulai menyenangi badminton untuk kegiatan olah raganya selain golf dan fitnes.
Persaingan Ketat
Ditanya tentang kinerja, Djunaedy mengatakan persaingan bisnis te- lekomunikasi di Jatim khususnya dan east region sangat ketat. Baginya persaingan yang ketat menjadi tantangan untuk bekerja lebih keras untuk memenangi persaingan. Karena untuk wilayah east region, beberapa wilayah Xl menjadi market leader seperti di Bali, NTB, dan NTT serta sejumlah wilayah seperti Madura.
Untuk memperkuat pasar, XL menyasar potensi remaja yang sangat besar di wilayah Jatim, Bali, dan Nusa Tenggara. Dari catatan XL, ada lebih dari 56.000 institusi pendidikan strata SMP, SMA, dan perguruan tinggi di Jatim, Bali, dan Nusa Tenggara yang potensial untuk dibidik sebagai pasar. “Pasar anak muda berkembang cukup pesat. Dan XL sebagai pelopor tarif murah di Indonesia serius mengembangkan pasar ini,” ujarnya.
Dari catatan XL, ada 39.550 lembaga pendidikan setingkat SD, 10.603 setingkat SMP, 5.753 setingkat SMA dan 406 kampus di wilayah east region. Adapun di seluruh Indonesia terdapat 55.428 SMA, 3.483 kampus, dan 107.122 SD. Di samping itu, potensi pasar yang belum tergarap industri telekomunikasi saat ini juga sangat besar. Untuk rentang usia 11-12 tahun, ada 40% pasar yang belum tergarap, di rentang usia 13-18 tahun ada 16% pasar, dan di rentang usia 19-22 tahun ada 11,3% potensi pasar yang belum tersentuh industri telekomunikasi.
Untuk menggarap pasar anak muda ini, XL menawarkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan anak muda yang selalu berkembang. “Tentunya program kita yang utama adalah tarif murah di mana saat ini kami menjadi operator dengan tarif paling murah di Indonesia dan termurah ke-3 di dunia setelah operator di India, dan Filipina,” jelasnya.
Selain tarif murah, XL juga menawarkan berbagai value added service (VAS) untuk memenuhi kebutuhan anak muda dalam berkomunikasi. Di samping itu, XL juga mendukung program pendidikan melalui Sistem Informasi Terpadu (Sifoster) yang berfungsi memberikan informasi seputar program di sekolah atau kampus melalui layanan SMS Broadcast. Dengan system ini, orang tua murid bisa memantau perkembangan pendidikan anaknya di sekolah.
Hingga akhir 2011, dari 5.400 BTS di east region, 900 BTS di antaranya sudah menggunakan teknologi 3G. Tahun ini, secara nasional XL menargetkan layanan data sebagai kontributor utama pertumbuhan perusahaan bersama layanan VAS sebab pendapatan layanan suara semakin menurun. XL menargetkan pertumbuhan pendapatan 7-9%, lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata industri seluler 6-8%.
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!