ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 30 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

KA Bandara, Solusi Kemacetan
Oleh Akhmad Sujadi | Selasa, 14 Desember 2010 | 8:26


Bandar udara Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang, Provinsi Banten, merupakan pintu gerbang masuk dan keluar Indonesia. Dengan volume penumpang mendekati 40 juta orang per tahun, bandara ini layak memiliki jaringan kereta api ke Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, yang merupakan tempat tinggal mayoritas penduduk Ibu Kota.

Warga Jabodetabek hanya memiliki alternatif bus Damri, taksi, atau mobil pribadi apabila ingin ke bandara dan sebaliknya. Alternatif angkutan yang ada kini telah terancam kemacetan yang parah akibat pertumbuhan jumlah kendaraan dan panjang jalan yang tidak seimbang.

Sejak 2006, PT Raillink, perusahaan patungan antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Angkasa Pura II telah menggagas pembuatan jalur kereta api menuju bandara. Entah karena apa, rencana tersebut belum juga terealisasi hingga sekarang. Kabar terakhir menyebutkan, investasi membengkak hingga Rp 10 trilliun.

Untuk menuju ke Bandara Soetta, PT Raillnk berencana menghubungkannya dari Stasiun Sudirman atau Dukuh Atas. KA Bandara diplot dikoneksikan dengan KRL Jabodetabek, busway, dan MRT Blok M-Kota di Dukuh Atas, di Stasiun KA Sudirman. Konsep ini telah dibahas berkali-kali dengan para stakeholder yang terkena dampak dari rencana KA Bandara.

Kendala besar yang dihadapi proyek ini–kalau memaksakan start dari Stasiun Sudirman–adalah kebutuhan tanah yang tidak sedikit. Padahal, tanah di sekitar Stasiun Sudirman juga tidak luas.

Melibatkan Swasta
Kebutuhan transportasi ke bandara tentu bukan dari dalam kota, melainkan dari pinggiran Kota Jakarta. Mereka umumnya tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Maka apabila KA bandara dimulai dari Dukuh Atas atau Stasiun KA Sudirman, itu sangat tidak tepat.

Kita harus belajar dari pengambilan trayek bus Damri yang membuka rute Bogor-Bandara, Bekasi-Bandara, Depok-Bandara, Kampung Rambutan-Bandara, Gambir-Bandara, dan trayek-trayek lainnya, yang umumnya menuju daerah di luar Jakarta. Bus Damri mengambil trayek dari Gambir karena ada koneksi dengan angkutan KA.

Untuk mencapai Bandara Soetta dengan KA itu tidak harus melalui Dukuh Atas-Stasiun Angke, namun ada alternatif lain melalui jalur eksisting Tanah Abang-Serpong, tepatnya melalui Stasiun Rawabuntu, 1,2 km sebelum Stasiun Serpong, Provinsi Banten.

Alternatif melalui Bumi Serpong Damai sangat bagus, karena KA bandara pada koridor ini memiliki keunggulan dan kemudahan dalam pembangunan, antara lain kebutuhan pembebasan lahan yang tidak memerlukan biaya besar, waktu yang singkat karena infrasrtuktur rel KA berada di atas jalan raya. Dengan demikian, proses pembebasan lahan tidak rumit. Begitu pula dukungan perizinan hanya dari satu provinsi, Banten, dan instasi terkait lainnya.

Selain itu, ruas jalan raya Serpong menuju Bandara Soetta juga cukup lebar, lebih dari 30 meter. Jarak dari Serpong ke bandara tidak jauh, hanya 22 km. Dengan kondisi demikian, maka pembangunan tidak butuh waktu lama, cukup tiga tahun. Bahkan, untuk megurangi beban pemerintah, pembangunan dapat melibatkan pihak swasta di Bumi Serpong Damai dengan melewatkan KA bandara melalui apartemen, mal, dan perumahan dengan model joint invesment.

KA Bandara ini juga dapat dioperasikan oleh Pemprov Banten bekerja sama dengan PT KAI dan Dirjen Perkeretaapian. Pemprov Banten dapat merintis percepatan pembangunan KA bandara dan diharapkan dapat memberikan pendapatan asli daerah (PAD) bagi Pemprov Banten. Ini karena pengoperasian KA layang cukup menguntungkan dibanding dengan KA konvensional. Teknis penghitungan dan biaya operasi bisa dibicarakan dengan PT KAI yang sudah melakoni bisnis KA sejak merdeka.

Manfaat Bersama
KA Bandara Banten melalui Rawabuntu merupakan jawaban atas ketidakpastian KA bandara dari Sudirman via Angke yang akan ditender ulang pertengahan tahun depan. Prospek KA bandara ini cukup baik, karena itu, dirjen perkeretaapian bersama pemerintah Provinsi Banten harus bekerja sama. Pihak-pihak terkait ini harus membagi peran secara serempak agar memulai kegiatan secara cepat. Bagi tuntas setiap permasalahan dan tanggung jawab.

Pemerintah Provinsi Banten, misalnya, dapat memberikan izin trace dan penggunaan lahan di atas jalan raya dan pembebasan lahan antara Serpong-Bandara. Pemprov Banten juga harus berkordinasi dengan Dirjen Perkeretaapian untuk mendapat dukungan pendanaan melalui APBN Kementerian Perhubungan.

Pengembang perumahan, pengelola apartemen, dan pengelola mal dapat berpartisipasi dengan menyediakan sebagian lahan untuk pembangunanstasiun di wilayahnya masing-masing. Dengan sinergi ini, pihak- pihak terkait tersebut akan saling mendapat manfaat. Pemerintah dapat menyediakan akses layanan ke bandara, Pemprov Banten akan memiliki kebanggaan dan PAD. Sedangkan bagi pengembang, bisnis baru akan tumbuh dengan adanya akses KA ke bandara melalui wilayahnya.

Pemerintah pusat perlu memberikan dukungan izin pembangunan dan izin operasional jalan layang KA serta pembangunan stasiun KA di Bandara Soetta. Dengan memilih alternatif KA bandara melalui jalur Tanah Abang- Serpong, maka pembangunannya tidak banyak melibatkan pemerintahan, cukup Pemprov Banten dan Kementerian Perhubungan saja.

Apabila konsep dan rencana pembangunan KA Bandara Banten ini dapat diwujudkan oleh Pemprov Banten, Dirjen Perkeretaapian, dan pihak-pihak swasta di daerah BSD, Alam Sutra, jaringan rel KA ke bandara dapat mempercepat arus penumpang dari Jabotabek ke Bandara Soekarno-Hatta. Kemacetan yang menjadi momok jalan raya di Jabodetabek pun dapat dikurangi.

Penulis adalah pengurus pusat Masyarakat Pencinta Kereta Api Indonesia (Maska)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.