ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Ekonomi Indonesia Setelah 13 Tahun Usia Reformasi
Oleh M Fadhil Hasan | Jumat, 20 Mei 2011 | 9:50


Menjelang 13 tahun usia reformasi, kita disuguhi hasil survey yang dilakukan Indo Barometer. Mayoritas responden menilai kondisi saat ini lebih buruk dibandingkan masa Orde Baru, terutama di bidang ekonomi. HM Soeharto pun ditempatkan sebagai presiden paling favorit dibandingkan presiden lainnya, termasuk Susilo Bambang Yudhoyono

Banyak yang terkejut dengan hasil survei ini. Namun, kalau kita telusuri lebih jauh lagi, hasil survei Indo Barometer tidak berbeda dengan survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menjelang 10 tahun reformasi. Artinya, hasil survei Indo Barometer bukan sesuatu yang baru. Ini berarti hasil survei Indo Barometer meneguhkan survei yang dilakukan sebelumnya.

Di sisi lain, pemerintah menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh dan berkembang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan bila dibandingkan dengan keadaan masa Orde baru. Angka kemiskinan dan pengangguran menurun tajam, pendapatan per kapita meningkat. Selain itu, stabilitas makro-ekonomi relatif terjaga dengan baik. Cadangan devisa saat ini telah mencapai US $ 113 miliar, terbesar sepanjang sejarah.

Sederet indikator ekonomi lain pun bisa membuktikan bahwa terjadi perbaikan dan peningkatan kesejahtera kesejahteraan dan kemajuan ekonomi masa reformasi ini. Ketika krisis melanda dunia, ekonomi Indonesia malah tumbuh positif. Tidak sedikit lembaga dan para pakar memperkirakan Indonesia bakal menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dan masuk ke dalam kelompok Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS).

Persepsi dan Ekspektasi
Bagaimana kita merekonsiliasi kedua gambaran yang saling bertentangan tersebut? Survei menggambarkan penilaian yang dirasakan masyarakat ketika survei berlangsung. Penilaian masyarakat tersebut bisa saja bersifat mikro. Artinya, apa yang dirasakan responden secara individual dan belum tentu sejalan dan sesuai dengan gambaran makro perekonomian yang sesungguhnya.

Hal ini bisa disebabkan ketidaktahuan, atau mungkin gambaran makro perekonomian tersebut tidak memiliki dampak yang berarti bagi masyarakat awam. Mungkin juga komunikasi dan informasi tentang keberhasilan ekonomi kurang terdiseminasi secara meluas kepada masyarakat. Dengan demikian terdapat perbedaan persepsi antara apa yang dirasakan masyarakat dan gambaran sesungguhnya dari perekonomian.

Namun, bisa juga terdapat alasan yang lebih substantif dari gejala yang saling bertentangan tersebut. Ini terkait dengan kenyataan bahwa pada masa Orde Baru semua kebutuhan pokok masyarakat (sandang, pangan, dan papan) baik jumlah dan harganya dikendalikan pemerintah, sehingga relatif stabil dan tersedia. Sementara itu, pada era reformasi ketersediaan dan harga barang kebutuhan pokok ini diserahkan sebagian besar kepada pasar sehingga harganya relative lebih fluktuatif. Bagi masyarakat awam, ketersediaan dan keterjangkauan terhadap barang kebutuhan pokok merupakan indikator utama dalam menilai apakah ekonomi baik atau buruk.

Ada hal lain yang perlu dilihat dalam membandingkan kedua keadaan tersebut. Di awal reformasi, masyarakat sudah telanjur memiliki ekspektasi bahwa keadaan akan jauh lebih baik dibandingkan masa Orde Baru. Dalam perjalanannya ekspektasi tersebut tidak terwujud dalam waktu cepat. Terdapat ekspektasi berlebih terhadap proses reformasi, yang dalam pelaksanaannya ternyata jauh lebih rumit dan kompleks. Masyarakat pun akhirnya kecewa karena reformasi ternyata tidak  kunjung membawa perubahan sebagaimana yang diharapkan.

Potensi Kelas Menengah
Menghadapi keadaan tersebut pemerintah tidak perlu membela diri. Bisa saja yang dirasakan masyarakat sebagaimana tercermin dari survey tersebut keliru. Justru persepsi tersebut bisa hilang dengan sendirinya apabila pemerintah tetap bekerja keras dan fokus dalam mengelola perekonomian ke arah yang lebih baik. Apalagi ekonomi Indonesia saat ini berada pada momentum yang lebih baik untuk bisa terus tumbuh dan berkembang. Stabilitas makro-ekonomi terpelihara dengan baik. Stabilitas politik juga terjaga.

Di samping itu, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dengan pertumbuhan kelas menengah yang sangat cepat. Indonesia pun memiliki populasi penduduk berusia produktif dalam beberapa tahun mendatang dengan dependency ratio yang rendah. Sumber daya alam yang dimiliki juga sangat besar.

Terakhir, perkembangan ekonomi global sekarang ini juga menguntungkan posisi Indonesia, karena adanya kenaikan harga komoditas yang merupakan andalan ekspor Indonesia dan arus modal yang masuk baik berupa hot money maupun investasi langsung. Dengan momentum tersebut ekonomi Indonesia dipastikan tumbuh relatif tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan modal yang disebutkan di atas disertai dengan kebijakan pemerintah yang tepat, dalam beberapa tahun mendatang ekonomi Indonesia akan terus tumbuh secara lebih merata dan inklusif. Kuncinya adalah keberanian pemerintah untuk mengoreksi kebijakan yang salah dan mengambil kebijakan yang benar, serta konsistensi dalam menjaga dan memelihara stabilitas ekonomi.

Pemerintah juga harus lebih berani memilih prioritas, terutama pembangunan infrastruktur yang selama ini menjadi kendala utama perekonomian nasional. Di sisi lain, pemerintah pun diharapkan lebih berperan lagi dalam mengembangkan program pemerataan ekonomi yang manfaatnya dapat lebih dirasakan masyarakat banyak. Kebijakan ekonomi yang berimbang antara peran pasar dan peran negara harus lebih diwujudkan, agar pertumbuhan dapat terus dipacu sementara pemerataan tetap tercipta dengan baik.

Pada akhirnya kita harus tetap optimistis dan yakin bahwa perekonomian di masa reformasi ini bisa tumbuh secara merata dan berkelanjutan melebihi era Orde Baru dengan membawa kemakmuran dan kesejahteraan. Itulah amanat reformasi pada 1998.

Penulis adalah Ekonom Senior Indef


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close