Seminar UPH, Pendidik Harus Ikut Mencegah Radikalisme
Sabtu, 6 Agustus 2011 | 15:09
Dari kiri ke kanan, Vice President Souetheast Asia Research in Motion (RIM) Hastings Singh, Founder Universitas Pelita Harapan (UPH) DR James T Riady, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Ir G Karen Agustiawan, Vice President UPH Prof Brigida M Octavio, Ph.D., dan Ketua Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi UPH Prof Dr Drs Tjipta Lesmana, MA., MARS, foto bersama usai seminar tentang kepemimpinan wanita dalam dunia bisnis dalam Seminar Distinguished Guest Speaker di UPH Festival 18, Kampus UPH, Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Jumat (5/8). Foto: Investor Daily/TINO OKTAVIANO KARAWACI – Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI EE Mangindaan mengimbau para pendidik agar menyikapi munculnya perilaku anarkisme dan radikalisme. Para pendidik juga harus ikut bertanggung jawab mencegahnya agar tidak semakin berkembang.
“Harus dicermati perkembangan terhadap sikap radikal dan anarkis oleh pendidik agar tidak tumbuh dan berkembang,” kata EE Mangindaan pada seminar di Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci, Tangerang dengan tema “Memantapkan Jatidiri Bangsa Dalam Kemajemukan”, Jumat (5/8).
Pernyataan Mangindaan itu disampaikan oleh Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi Kementerian PAN Ismail Mohammad Dia mengatakan, para pemangku kepentingan pendidikan harus memberikan perhatian dan pendampingan lebih serius kepada anak didik dalam membentuk dan menumbuhkan pola piker dan perilaku yang berbasis kasih sayang.
Para pendidik harus mengajarkan sikap toleran terhadap realitas keanekaragaman yang dibenarkan oleh peraturan dan perundangan di Indonesia. Belakangan ini, katanya, banyak muncul individualisme dan apatisme dalam menjawab permasalahan kebangsaan dan jati diri bangsa.
Untuk mencegah agar tidak muncul sikap seperti ini, Mangindaan berharap para pendidik di UPH dapat membentengi mahasiswa dengan komunikasi antargenerasi secara terus menerus serta kegiatan positif lebih mengutamakan kreativitas.
Sebelumnya, Rektor UPH Jonathan L Parapak mengemukakan, menyambut mahasiswa baru, pihaknya mengadakan festival mahasiswa yang penuh kreativitas sebagai salah satu upaya mengubah paradigma “plonco”. ”Saat ini tidak ada lagi ‘plonco’ dan kekerasan, tapi kami ubah menjadi kreativitas bagi mahasiswa,” kata Parapak.
Dia menjelaskan, tujuan festival ini memang untuk mengubah paradigma yang berlaku selama ini. Festival yang merupakan bagian dari orientasi mahasiswa baru ini berisi program-program yang holistik, yang memberi semangat dan mendorong untuk berkreasi.
Festival tersebut diisi dengan kegiatan olahraga, kesenian, IT, seminar, dan kegiatan bersama yang menyenangkan. Dia menambahkan, dalam festival tersebut juga diikuti oleh alumni UPH dan komunitas Lippo Vallage.
“Lewat tema Together in Harmony tersebut, kami ingin memberikan kontribusi kepada bangsa melalui pendidikan yang berbasis pada visi true knowledge, faith in god, dan godly character. Kami percaya setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan pendidikan yang transformasional,” ujar Parapak. (ris)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Rasa Aman Terkesan Makin ‘Mahal’
Akhirnya, 45 Korban Sukhoi Teridentifikasi
DVI Izinkan Keluarga Lihat Jenazah pada Selasa
Dialog Otentik Butuh Keheningan dan Kata
Selasa, Keluarga Boleh Lihat Korban Sukhoi
Pelajar Harus Cintai Iptek Agar Indonesia Maju
Perguruan Tinggi Harus Berikan Pendidikan Karakter
Reformasi Birokrasi Terhambat Pola Pikir Birokrat