DELEGASI LINTAS AGAMA:
Perlu Diubah, Paradigma Dunia terhadap Peran Agama
Rabu, 22 Februari 2012 | 14:32
Anggota DPR Lily Wahid (dua dari kanan) didampingi Todung Mulya Lubis (kanan) hadir saat aksi unjuk rasa Jemaat GKI Yasmin Bogor di depan Istana Negara, Jakarta, Minggu (12/2). Mereka menuntut agar pemerintah membuka segel gereja yang dipasang oleh pemerintah kota Bogor. Foto: Investor Daily/TINO OKTAVIANO JAKARTA - Delegasi lintas agama yang terdiri atas pemuka agama-agama di AS, menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyampaikan misi perdamaian guna mengubah paradigma dunia terhadap peran agama.
Delegasi yang menemui Presiden di Istana Negara, Jakarta, Rabu, tersebut terdiri atas 13 pemuka agama yang mewakili tiga elemen komunitas yakni, Yahudi, Kristen (Katolik dan Protestan) dan Islam di AS.
"Saat ini agama dianggap sebagai sumber konflik, semua perpecahan yang terjadi dipicu oleh sentimen keagamaan," kata Imam Masjid Pusat Kegiatan Islam (Islamic Center) New York, Shamsi Ali, salah satu wakil dari komunitas Islam.
Shamsi mengatakan, adanya pandangan negatif tidak bisa dielakkan karena banyak pihak yang memang mengatasnamakan agama dalam tindakannya. "Harus diakui bahwa konflik yang terjadi entah itu di Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, bahkan di Indonesia dipandang sebagai masalah keagamaan," katanya.
Shamsi menambahkan delegasi tersebut ingin membawa nuansa baru tentang peranan agama yang sesungguhnya yakni sebagai sumber harmoni dan perdamaian bagi umat manusia.
Selain itu, delegasi antarumat beragama itu juga membawa misi khusus untuk mengatasi konflik di Timur Tengah antara Palestina dan Israel.
"Kami ingin menyampaikan kepada Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia agar tidak lagi pasif atau berada di belakang layar, tetapi harus berada di garis depan untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah," kata Shamsi.
Imam Masjid "Islamic Centre" New York asal Makassar, Sulawesi Selatan, itu juga mengatakan, secara pribadi ia membawa misi untuk merombak pola pikir masyarakat internasional bahwa Islam selalu identik dengan Timur Tengah. "Meskipun Islam memang lahir di Timur Tengah, tetapi bukan berarti selalu identik dengan kawasan itu. Islam itu universal," katanya.
Shamsi ingin mengenalkan Islam Indonesia yang lebih ramah dan humanis, salah satunya dengan menunjukkan Islam tidak bertentangan dengan demokrasi.
"Indonesia merupakan negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia, negara demokrasi terbesar setelah AS dan China, kita harus menunjukkan Islam di Indonesia dan dunia tidak bertentangan dengan demokrasi, begitu pun sebaliknya," ujarnya.
Dia menambahkan umat muslim di Indonesia seharusnya menunjukkan sikap bahwa Islam sejalan dengan modernitas, termasuk di dalamnya adalah persamaan dan pemberdayaan semua umat tanpa ada bias gender.
"Kita harus memperkenalkan Islam Indonesia yang demokratis, modern, lebih bersahabat, dan sejuk," kata Shamsi. (ant/gor)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Rasa Aman Terkesan Makin ‘Mahal’
Akhirnya, 45 Korban Sukhoi Teridentifikasi
DVI Izinkan Keluarga Lihat Jenazah pada Selasa
Dialog Otentik Butuh Keheningan dan Kata
Selasa, Keluarga Boleh Lihat Korban Sukhoi
Pelajar Harus Cintai Iptek Agar Indonesia Maju
Perguruan Tinggi Harus Berikan Pendidikan Karakter
Reformasi Birokrasi Terhambat Pola Pikir Birokrat