Presiden: Tinggi Biaya Politik Penyelamatan Bank Century
Oleh Novy Lumanauw | Minggu, 12 Agustus 2012 | 1:16
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Boediono (dua dari kiri), Menko Perekonomian Hatta Rajasa (kiri), Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution (tiga dari kanan), Menteri Keuangan Agus Martowardojo (dua dari kanan), dan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sofyan Basir (kanan), memberi keterangan usai menggelar rapat kabinet terbatas (Ratas) di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Jumat (10/8). Rapat tersebut membahas perkembangan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR). Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA JAKARTA – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, penyelamatan Bank Century yang kini berganti menjadi Bank Mutiara harus dilakukan, walaupun risiko biaya politiknya tinggi sekali.
Kebijakan itu ditempuh pemerintah untuk mencegah terjadinya krisis seperti yang pernah dialami Indonesia pada 1998/1999. Saat itu, perekonomian Indonesia lumpuh karena pemerintah tidak cepat mengantisipasinya.
Pernyataan itu disampaikan Kepala Negara menanggapi tudingan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar yang menyebutkan, Presiden yang memimpin rapat yang membahas tentang rencana bailout (dana talangan) Bank Century di Istana Negara, Jakarta, pada Oktober 2008.
“Kita pahami, memang politik bisa begitu. Meskipun jumlahnya belum seberapa dibandingkan bailout di negara-negara lain yang juga dilakukan dengan tujuan yang sama,” kata Kepala Negara pada pembukaan rapat koordinasi bidang perbankan di Kantor Pusat Bank BRI, Jakarta, Jumat (10/8).
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Perbankan Jangan Buru-Buru Naikkan Bunga Kredit
OJK Putuskan Bumi Asih Dua Bulan Mendatang
PRUacces Dikembangkan Berdasarkan Keinginan Nasabah
Obligasi Rp 700 Miliar Topang Kredit Bank Mayapada Tumbuh 30%
Prudenstial Kembangkan Layanan Transaksi Bergerak
Rupiah Senin Pagi Menguat 10 Poin
Pemerintah akan Jual Lelang Obligasi Rp8 Triliun
Bank Mayapada Terbitkan Obligasi Rp700 Miliar