ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

OPSI LAIN BANK INFRASTRUKTUR,

BI: Perkuat Perusahaan Sektor Infrastruktur
Jumat, 3 Mei 2013 | 11:38

JAKARTA- Bank Indonesia (BI) menyatakan ada opsi lain selain pembentukan bank infrastruktur untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur di Indonesia yaitu dengan memberikan penguatan kepada perusahaan yang sudah bergerak di bidang tersebut.

"Opsi kedua, bisa memberikan penugasan saja kepada bank-bank BUMN yang sudah ada sekarang, tentunya dengan memberikan insentif kepada bank-bank tersebut untuk melakukan kegiatan-kegiatan di bidang infrastruktur," ujar Asisten Gubernur BI Hendar saat diskusi tentang pembiayaan infrastruktur di Jakarta, Jumat.

Hendar melihat opsi pertama yakni membentuk bank infrastruktur membutuhkan waktu lama dan perlu membangun legal business yang kuat karena dia harus jangka panjang serta modalnya juga harus besar.

Sedangkan opsi ketiga, lanjut Hendar, adalah dengan memberikan fungsi pembiayaan tersebut kepada lembaga pembiayaan non bank. "Keuntungan dari lembaga pembiayaan ini adalah tentu dia tidak terestriksi dan terconstraint (terhambat) oleh beberapa ketentuan yang diberlakukan pada bank, misalnya ada CAR, legal landing limit, dan sebagainya," katanya seperti dikutip Antara.

Namun, Hendar mengingatkan, yang terpenting adalah mendorong dan menciptakan tumbuhnya sumber-sumber dana jangka panjang, baik itu di pasar modal atau di obligasi.

Wacana pembentukan bank infrastruktur mengemuka kembali seiring munculnya rencana program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia).

Dalam 10 tahun terkahir, perbankan Indonesia dinilai masih enggan untuk membiayai infrastruktu berjang waktu di atas 10 tahun (multiyears).

Bila dibandingkan negara lain, peringkat infrastruktur Indonesia juga masih rendang. Dari 100 negara yang disurvei World Economic Forum, Indonesia berada pada peringkat 78. Keadaan itu melemahkan daya saing untuk menarik investasi, dan infrastruktur yang buruk juga menyebabkan biaya ekonomi tinggi. (*/gor)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close