ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 23 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

Rupiah Kamis Pagi Melemah 10 Poin
Kamis, 16 Agustus 2012 | 10:10

Teller menghitung lembaran rupiah di money changer Bank Mandiri, Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA Teller menghitung lembaran rupiah di money changer Bank Mandiri, Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

JAKARTA- Perdagangan mata uang rupiah terhadap dolar AS pada Kamis pagi  (16/8) bergerak melemah 10 poin seiring minimnya aktifitas transaksi di pasar uang.

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Kamis pagi bergerak melemah 10 poin menjadi Rp9.490 dibanding posisi sebelumnya senilai Rp9.480 per dolar AS.

Pengamat pasar uang dari Bank Himpunan Saudara, Rully Nova di Jakarta, Kamis mengatakan, sebagian pelaku pasar uang di dalam negeri telah menghentikan aktifitasnya seiring libur panjang hari raya Lebaran.

"Apalagi, sentimen di pasar juga belum cukup kuat mengangkat nilai tukar dalam negeri di pasar valas," ujar dia.

Ia mengatakan, menguatnya dolar AS mendominasi sejumlah mata uang utama dunia, kondisi itu dipicu dari data penjualan ritel AS Juli yang mencatatkan kenaikan dalam empat bulan terakhir.

Sementara dari Eropa, lanjut dia, meski ekonomi Jerman dan Perancis berhasil membukukan pertumbuhan di atas perkiraan, namun belum dapat mengangkat nilai tukar berisiko.

Hasil itu mengindikasikan sebagian besar negara kawasan Euro mengalami perlambatan.

"Rupiah juga cenderung bergerak mengikuti mata uang euro," kata dia.

Analis Monex Investindo Futures Johanes Ginting menambahkan, nilai tkar euro diperdagangkan melemah terhadap dolar AS seiring beredarnya spekulasi bahwa Swiss National Bank menjual euro menyusul kenaikan cadangan mata uang asingnya.

"Tekanan jual euro pada umumnya berdampak negatif untuk mata uang berisiko," katanya.(ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close