ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

Bailout IMF Spanyol Stabilkan Pasar Keuangan Dunia
Jumat, 3 Agustus 2012 | 6:22

Ilustrasi krisis keuangan yang melanda perbankan di Spanyol (FOTO: AFP PHOTO / Pedro ARMESTRE) Ilustrasi krisis keuangan yang melanda perbankan di Spanyol (FOTO: AFP PHOTO / Pedro ARMESTRE)

JAKARTA- Analis saham Edwin Sinaga menilai talangan (bailout) Dana Moneter Internasional (IMF) untuk Spanyol akan berdampak pada stabilitas pasar keuangan dunia termasuk Indonesia.

"Jika ketidakpastian perekonomian global berlarut-larut maka akan berpengaruh buruk bagi keuangan dunia termasuk bagi indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)," kata analis dari PT First Asia Capital itu di Jakarta, Kamis.

Edwin mengatakan, saham pada dasarnya bergerak dinamis sehingga tidak dapat diperkirakan namun dari kebijakan IMF terhadap Negeri Matador itu dapat membantu optimisme pelaku pasar saham.

Dana talangan ke Spanyol akan membuat pasar keuangan global lebih stabil sehingga memicu kenaikan bursa saham.

Sejauh ini permasalahan ekonomi di Eropa memicu penurunan nilai tukar beberapa mata uang di dunia. Seperti mata uang Won Korea dan mata uang lain di negara kawasan ASEAN termasuk rupiah.

Menurut Edwin, dengan adanya dana talangan diharapkan dapat menstabilkan perekonomian Spanyol dan secara tidak langsung dunia ikut membaik.

Bulan Juli 2012, Spanyol berusaha mencari dana talangan untuk membantu menyelamatkan sejumlah bank di negara itu. Bank lokal banyak yang terbebani kredit macet real estat setelah terjadi ledakan bisnis properti tahun 2008.

Spanyol memiliki beban utang 17 pemerintah daerahnya yang menjadi kini perhatian dunia.

Krisis ekonomi di Spanyol telah menambah jumlah pengangguran terbuka setelah banyak perusahaan memecat karyawannya karena khawatir bangkrut.

Penduduk yang tidak bekerja mencapai angka tertinggi pada triwulan kedua 2012, hingga 5,7 juta jiwa. Ini adalah angka pengangguran tertinggi di Negeri Matador itu sejak menjadi negara demokrasi pada dasawarsa '70-an. (ant/gor)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close