ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 22 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

AEI Setuju Saham DAVO dan RINA Dihapus
Selasa, 17 Juli 2012 | 15:54

JAKARTA - Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menyetujui keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang merencanakan menghapus saham secara paksa (force delisting) PT Davomas Abadi Tbk (DAVO) dan PT Katarina Utama Tbk (RINA).

Ketua Umum AEI, Airlangga Hartanto di Jakarta, Selasa mengatakan, jika perusahaan tercatat di BEI membahayakan pemegang saham minoritas maka otoritas pasar modal harus segera mengambil tindakan.

"Kasusnya sudah cukup lama, lihat dua tahun terakhir kalau perusahaan itu membahayakan pemegang saham minoritas harus diambil tindakan tegas. DAVO dan RINA sudah bukan anggota AEI lagi. Jadi, sudah sepantasnya mereka delisting dari bursa," ucap dia.

Ia menambahkan, DAVO dan RINA sudah tidak terdaftar sebagai anggota AEI lebih dari satu tahun. Hal itu seharusnya dapat dijadikan alert bagi otoritas pasar modal.

Ia mengharapkan, keputusan penghapusan saham DAVO dan RINA dari Bursa Efek Indonesia dapat lebih cepat. Sejauh ini, Airlangga melihat ada beberapa perusahaan yang menjadi anggota AEI siap delisting walaupun dengan kasus yang berbeda. "Ada yang mau delisting secara voluntary. Kita lihat aktivitas perusahaan dan regulasi," kata dia.

Namun, Airlangga masih enggan menyebut nama maupun jumlah perusahaan anggota AEI itu.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen mengatakan, pihak BEI telah mengancam akan melakukan penghapusan saham secara paksa (force delisting) kepada DAVO dan RINA dari industri pasar modal. "Kedua perusahaan itu tidak menunjukkan going concern di pasar modal," ujarnya.

Ia menilai, kedua emiten itu tidak memiliki itikad baik dalam menjalankan usahanya sebagai perusahaan publik. DAVO, bahkan sulit dihubungi BEI untuk mengetahui kelanjutan perusahaan.

"Kita sudah kontak, tapi tidak bisa. Namun, seminggu lalu mereka sudah berikan laporan keuangan (2011) dan kita tengah pelajari," kata dia.

Sedangkan PT Katarina Utama, kata Hoesen, perusahaan publik itu tidak jelas struktur pemegang sahamnya. Tahun lalu, Katarina mempunyai masalah atas dugaan manajemen yang seluruhnya ekspatriat asal Malaysia menyelewengkan perolehan dana IPO, penggelembungan aset serta memanipulasi laporan keuangan auditan 2009.

Ia menambahkan, dari perolehan dana IPO itu tercatat sebesar Rp 33,6 miliar, manajemen diduga menggelapkan sebesar Rp 29,6 miliar. "Kita akan bersihkan. Kalau tidak bisa, kita selesaikan secara adat," ucapnya. (tk/ant)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close