ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 17 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

MANFAATKAN PENURUNAN IHSG

29 Saham Big Cap Layak Beli
Oleh Jauhari Mahardhika dan Agustinus Tetiro | Selasa, 11 Juni 2013 | 10:29

Trader bertansaksi di sebuah galeri sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA Trader bertansaksi di sebuah galeri sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

JAKARTA – Kalangan analis yakin indeks harga saham gabungan (IHSG) segera menguat (rebound), karena indeks hampir mencapai level terendah. Karena itu, supaya tidak tertinggal, investor bisa membeli beberapa saham unggulan yang harganya sudah murah. Setidaknya 29 dari 45 saham berkapitalisasi besar (big cap) dan paling likuid di BEI layak dibeli. Saham-saham LQ45 tersebut berpotensi memberikan keuntungan (gain) sebesar 8-55% hingga akhir 2013.

Saham PT Astra International Tbk (ASII) berpeluang mencetak gain sebesar 16,5% hingga akhir tahun ini. Target harga ASII sebesar Rp 7.980. Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) berpotensi memberikan gain sebesar 15,4%, dengan target harga Rp 12.120. Sedangkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bisa membukukan gain sebesar 24,3%, dengan target harga Rp 11.245.

Sementara itu, saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) berpotensi memberikan gain paling tinggi sebesar 55,8%, dengan target harga hingga akhir tahun ini Rp 1.340. Potensi gain terendah berasal dari saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebesar 8,4%, dengan target harga Rp 2.765.  “Jadi jangan panik. Investor seharusnya memanfaatkan penurunan harga saham ini untuk mengakumulasi saham-saham unggulan yang harganya sudah murah. Jangan sampai keduluan asing,” kata Pardomuan Sihombing, pengamat pasar modal dari Recapital Asset Management, di Jakarta, Senin (10/6).

Dia menegaskan, penurunan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah terlalu dalam, padahal secara fundamental belum ada tanda-tanda perubahan indikator ekonomi yang signifikan. Ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di atas 6% dan kinerja emiten diperkirakan masih tumbuh 19%. Pertumbuhan kinerja emiten itu sudah menyesuaikan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close