ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 29 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

DBS Group Research:

Perekonomian Indonesia 2014 Lebih Baik dari 2013
Jumat, 13 September 2013 | 15:04

JAKARTA- DBS Group Research menyatakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 secara year on year (YoY) berada pada kisaran 5,8% sedangkan pada 2014 perekonomian Indonesia mengalami kenaikan 2% menjadi 6,0%.

Economist DBS Group Research Tieying Ma mengatakan pada 2013, banyak moment atau kejadian yang membuat perekonomian Indonesia mengalami proses up and down sehingga berdampak pada trend pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, moment yang paling nyata adalah kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di pertengahan tahun sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat, padahal daya beli masyarakat sangat erat kaitannya dengan konsumsi masyarakat yang merupakan fundamental perekonomian terbesar di Indonesia.

Tieying menilai, selain kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM, kondisi pelemahan rupiah pada triwulan ketiga juga cukup besar mempengaruhi perekonomian Indonesia.

"Naiknya harga BBM dan melemahnya rupiah adalah dua moment yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia sehingga kami memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 berada pada level 5,8%," ujar dia dalam siaran persnya yang diterima Investor Daily, di Jakarta, Jumat (13/9).

Dia menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,8% merupakan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di negara negara Eropa. Menurutnya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang oleh konsumsi masyarakat yang semakin tinggi. Hal ini mempengaruhi permintaan terhadap produk atau barang-barang, sementara negara-negara di Eropa masih berurusan dengan krisis utang sehingga sangat sulit untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang kondusif.

Dia menjelaskan, ada dua upaya yang telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada 2013. Pertama, memberikan program kompensasi bagi rakyat miskin akibat kenaikan harga BBM. Kedua, mengeluarkan paket stimulus kebijakan untuk mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi akibat pelemahan rupiah.

Menurutnya dua upaya ini sudah cukup baik dalam mempetahankan pertumbuhan ekonomi, tinggal bagaimana realisasinya di lapangan. "Bentuk keseriusan pemerintah Indonesia sudah cukup baik dengan mengeluarkan beberapa kebijakan, yang paling penting implementasinya di lapangan," ungkap dia.

Tieying menuturkan pada tahun 2014, perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup positif dan berada pada kisaran 6,0%, salah satu faktornya adalah rupiah diprediksi akan kembali menguat dan tahun 2014, Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan umum sehingga belanja pemerintah banyak dihabiskan pada saat pemilu.

Dia juga memprediksi pada tahun depan kinerja ekspor Indonesia akan membaik sehingga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. (Dho)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Data tidak tersedia.