ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 Mei 2012
Pencarian Arsip

Investasi JR Hasilkan Keuntungan Rp500 Miliar
Kamis, 23 Februari 2012 | 9:10

JAKARTA-Portofolio investasi PT Asuransi Jasaraharja di berbagai instrumen keuangan selama 2011 mampu memberikan keuntungan sebesar Rp500 miliar lebih atau 9,5% dari total investasi senilai Rp5,707 triliun.

"Hasil investasi itu cukup menggembirakan dan sumber dananya berasal dari sisa pembayaran premi dari pemilik kendaraan," kata Dirut Jasaraharja Dr. Diding S. Anwar di Jakarta, Rabu (22/2) .

Dana segar milik Jasaraharja itu diinvestasikan dalam bentuk deposito sebesar Rp233,826 miliar, saham senilai Rp504.162 miliar, reksadana Rp1,730 triliun, obligasi Rp2,870 triliun, dan penyertaan langsung Rp369,296 miliar.

Penyertaan modal JR itu dari waktu ke waktu terus meningkat. Dibanding dengan akhir 2010 terjadi peningkatan sebesar 21,76 persen atau sebelumnya Rp4,687 triliun.

Untuk saham yang rentan dengan fluktuasi, kata Diding, pihaknya lebih memilih saham LQ 45 dan juga saham-saham berkategori "blue chip".

"Kami juga lebih memprioritaskan pembelian saham perusahaan pemerintah yang sudah 'go public'," ujarnya didampingi Kadiv Investasi Jasaraharja Zulfianto.

Saham perusahaan pelat merah yang dimiliki JR, di antaranya Telkom di bidang telekomunikasi, kemudian jalan tol, perbankan seperti BRI dan BNI.

Dalam mengelola investasi terhadap dana-dana perusahaan, pihaknya berpedoman pada prinsip seperti kehati-hatian dengan memperhitungkan tingkat risiko.

Selain itu, instrumen yang diinvestasikan harus mampu memberikan imbal hasil yang optimal. "Yang juga penting adalah kemudahan dalam pencairan dana dan hasil investasi, kecuali investasi pada penyertaan langsung, bangunan dengan hak strata, atau tanah dengan bangunan untuk investasi," katanya.

Kadiv Investasi Jasaraharja Zulfianto menegaskan bahwa investasi JR harus memperhatikan hasil yang selalu di atas suku bunga sertifikat Bank Indonesia.

"Tidak ada patokan berapa persen di atas sertifikat BI. Dan, yang terpenting dana-dana itu ditempatkan pada instrumen yang aman dan mudah dipindahtangankan seperti untuk saham," ujarnya.

Keuntungan dari investasi itu masuk ke dalam neraca perusahaan sebagai sumber pendapatan. "Sebagian keuntungan BUMN dimasukkan sebagai penerimaan negara," tegasnya.

Sebenarnya selama 2011 hasil investasi mencapai 11,5-12% namun JR harus membayar pajak atas deviden meski perusahaan asuransi jiwa lain tidak dikenakan ketentuan serupa.

Pada tahun 2012, kata dia, kebijakan penempatan penyertaan modal JR komposisinya tidak akan banyak berubah, apalagi selama 2011 pertumbuhan kenaikan saham minim dibanding 2010.

"Kami sangat memperhatikan maksimum 'probability lost' atas penempatan dana segar di setiap instrumen keuangan," ujarnya.(ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close