ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 19 Juni 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

MASIH MUNCULKAN KEMISKINAN,

Indef: Pertumbuhan Ekonomi Bukan Segalanya
Kamis, 16 Agustus 2012 | 15:13

JAKARTA - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika mengatakan, pertumbuhan ekonomi penting, tapi bukan segala-galanya apabila masih memunculkan kemiskinan, ketimpangan pendapatan, pengangguran dan eksploitasi sumber daya alam.

"Ideologi pertumbuhan ekonomi dalam banyak sisi justru menyengsarakan sebagian besar masyarakat, seperti yang terjadi selama ini," ujar Ahmad Erani Yustika kepada Antara di Jakarta, Kamis.

Ekonom yang menjadi salah satu perumus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Alternatif ini mengatakan bahwa asumsi pertumbuhan ekonomi pada APBN 2013 sebaiknya tidak terlalu tinggi, seperti pada APBN Alternatif, ia merancang pertumbuhan ekonomi sebesar 6,56%.

Ia menjelaskan, angka ini dibuat berdasarkan dua pertimbangan pokok, pertama, situasi ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih dari krisis, sehingga mengurangi kesempatan percepatan pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya dari sisi penetrasi ekspor.

Kedua yaitu, pertumbuhan ekonomi tidak terlalu tinggi, namun memiliki mutu yang lebih baik karena bersandarkan kepada pertumbuhan sektor riil. "Poin ini jauh lebih diupayakan pemerintah ketimbang mengejar capaian pertumbuhan ekonomi semata," kata Ahmad.

Target pertumbuhan tersebut harus diimbangi dengan program dan alokasi anggaran yang mendukung, sehingga kinerja ekonomu yang dihasilkan dapat tepat sasaran.

Menurut Ahmad, pada titik inilah salah satu kelemahan APBN yang dirancang pemerintah selama ini, program dan alokasi anggaran tidak mencerminkan keselarasan.

Untuk itu, target pertumbuhan ekonomi APBN 2013 yang direncanakan 6,8-7,2% terlalu tinggi, apalagi jika tidak seiring dengan peningkatan kesejahteraan rakyat.

"Menurut saya, 6,5 hingga 6,6% itu lebih realistis, tetapi yang paling pokok adalah kualitas pertumbuhannya untuk mengurangi kemiskinan, pengangguran dan menyejahterakan rakyat," ujar Ahmad. (*/gor)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close