ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 19 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

12 Investor dengan Investasi Rp 54 Triliun Masuk Palu
Jumat, 26 Juli 2013 | 15:28

JAKARTA-Deputi Perencanaan Infrastruktur dan Regional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Luky Eko Wuryanto mengatakan bahwa ada 12 investor yang telah menyatakan kesertaannya dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu dan Bitung di Sulawesi.

"Total ada 12 investor yang siap berinvestasi di KEK Palu dan KEK Bitung, dan nilai investasinya sekitar Rp53 triliun hingga Rp54 triliun," kata Luky di Jakarta, Jumat.

Pernyataan tersebut dia sampaikan usai rapat koordinasi (Rakor) "Evaluasi Pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus" di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Menurut Luky, hingga saat ini sudah ada enam investor utama yang hendak menanamkan modalnya di KEK Palu di Sulawesi Tengah, namun nantinya jumlah itu mungkin akan bertambah.

"Sebetulnya sudah cukup banyak investor yang jadi peminat di KEK Palu. Umumnya, dari beberapa komunikasi yang sudah dilakukan, kami sudah yakin bahwa mereka (investor) akan masuk," ujarnya.

Dia mengatakan nilai investasi untu KEK Palu mencapai sekitar Rp40 triliun, dimana nailai invesatsi itu hanya berasal dari investor utama dan tidak termasuk nilai investasi dari perusahaan-perusahaan kecil.

Lebih lanjut dia mengatakan para investor utama untuk KEK Palu itu akan bergerak di beberapa sektor pengembangan, antara lain smelter untuk nikel, logistik, karet, elektronik, dan alat berat.

Luky menyampaikan ada tiga investor terbesar untuk KEK Palu, yaitu BUMN China Nan Li yang bergerak di bidang pengembangan logistik dan produk-produk elektrik, Sinosteel Corporation yang akan membangun smelter nikel, serta Volvo yang bergerak di industri "assembling and maintenance" (perakitan dan pemeliharaan,red) alat-alat berat.

"Selain tiga 'leading investor' itu, ada juga PT Multistrada Arah Sarana,Tbk yang bergerak di sektor pengolahan karet dan turunannya, Sinotruk untuk industri otomotif, dan satu lagi itu perusahaan sektor industri pengolahan rumput laut dari Singapura," jelasnya seperti dikutip Antara.

Selanjutnya, dia memaparkan enam investor yang siap berinvestasi di KEK Bitung, Sulawesi Utara, yaitu PT. Brandwood Biomedical, Bitung Industrial Estate, PT. Weda Bay Nickel, Lippo Group, Citicorp, dan PT. Mapalus Makawanau.

Luky mengatakan PT. Brandwood Biomedical yang merupakan perusahaan farmasi Amerika sudah menyatakan keseriusan untuk berivestasi dan sudah mempunyai kantor perwakilan di Manado.

"Kemudian, Bitung Industrial Estate bergerak di bidang logistik dan industri perikanan. Sementara itu, PT Weda Bay Nickel bergerak di sektor logistik alat-alat penambangan dan memiliki pertambangan di Halmahera, Sulawesi Utara," ungkapnya.

"Sedangkan, Lippo Group itu untuk aneka industri dan logistik. Mereka telah memiliki kantor perwakilan di Manado untuk menyiapkan rencana investasi di KEK Bitung," lanjutnya.

Selain itu, dua investor utama lainnya adalah Citicorp yang bergerak di sektor aneka indutri dan PT. Mapalus Makawanau yang berkecimpung di industri karbon aktif.

"Dari komunikasi yang kami lakukan, para investor ini sudah mengkonfirmasi dan mereka pasti masuk dan sudah sangat menunggu ketetapan dari KEK Bitung," kata Luky.

Pada kesempatan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa memastikan penetapan Bitung dan Palu sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) karena dua wilayah tersebut telah memenuhi evaluasi dan memiliki persyaratan memadai.

"Diperkirakan tahun ini yang pasti akan segera kita keluarkan adalah Bitung dan Palu, karena mereka telah siap, bahkan pembangunan jalan tol Manado-Bitung akan dilakukan tahun ini," ujar Hatta.

Dia mengatakan Palu dianggap cocok sebagai kawasan ekonomi khusus karena memiliki potensi dalam bidang pertanian dan pertambangan.

"Perusahaan yang masuk di Bitung, sudah siap. Sedangkan untuk Palu, seluruh prasyarat sudah terpenuhi, kita harapkan daerah tersebut akan berkembang karena memiliki potensi untuk pembangunan smelter," katanya.(*/hrb)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close