ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 Mei 2012
Pencarian Arsip

Teater Koma Gelar Pementasan ke-126
Kamis, 23 Februari 2012 | 10:05

Rangga Riantiarno: Main Teater Membuat Peka Rangga Riantiarno: Main Teater Membuat Peka

JAKARTA-Menginjak usia ke-35 tahun pada 1 Maret 2012 , Teater Koma akan mementaskan "Sie Jin Kwie di Negeri Sihir".

"`Sie Jin Kwie di Negeri Sihir` adalah kelanjutan dari Sie Jin Kwie1 dan Sie Jin Kwie2: Sie Jin Kwie Kena Fitnah," kata Sutradara sekaligus pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno kepada pers di Jakarta, Rabu (23/2).

Menurut Nano, cerita Sie Jin Kwie merupakan saduran dari roman karya Tiokengjian dan Lokoanchung. Pertunjukan teater akan digelar dari tanggal 1 hingga 31 Maret 2012 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

"Pertunjukan digelar satu bulan penuh dengan libur pada hari Senin, tidak akan ada `souble cast`, semua pemain akan bermain 27 hari penuh," kata aktris dan manajer seni pentas, Ratna Riantiarno.

Nano mengatakan salah satu hal yang menarik dalam pementasan "Sie Jin Kwie di Negeri Sihir" kali ini adalah dihadirkannya motif batik peranakan dalam lebih dari 300 busana dan kostum para pemeran.

"Ide tersebut terinspirasi dari dalang wayang kulit China-Jawa, Gan Thwan Sing (1885-1966) yang telah menciptakan lebih dari 900 sosok wayang berwujud ksatria China yang berbusana batik Jawa," kata dia.

Untuk mendapatkan gambaran mengenai konsep kostum tersebut, Nano Riantiarno mengatakan dia dan tim-nya telah berkeliling selama dua minggu ke Trusmi, Cirebon, Rembang, Semarang dan Solo.

"Selama dua minggu itu, saya mempelajari mengapa motif naga Lasem dan burung Hong dari Trusmi bisa berbeda dari yang ada di China, hal itu penting untuk dekorasi dan kostum," kata dia.

Teater Koma didirikan pada tahun 1977 oleh dua belas tokoh seni peran yaitu: Nano Riantiarno, Ratna Riantiarno, Syaeful Anwar, Rudjito, Jajang Pamontjak C Noer, Rima Melati, Titi Qadarsih, Otong Lenon, Cici Goenarwan, Jim Bary Aditya, Agung Dauhan, dan Zaenal Bungsu.

"Tiga puluh lima tahun sungguh merupakan perjalanan yang luar biasa. Kami dapat berkarya hingga pementasan yang ke-126 juga bukan hal yang mudah dan biasa," kata Nano Riantiarno.
(ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close