ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 18 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

HK Kaji Proyek Kereta Layang Bekasi-Slipi
Kamis, 9 Agustus 2012 | 14:12

JAKARTA-PT Hutama Karya Persero berencana mengkaji ulang rencana pembangunan kereta dengan menggunakan median jalan tol setelah Menteri BUMN Dahlan Iskan menilai harga tiket Rp40.000 terlalu mahal.

"Kita tidak berbicara soal finansialnya, tetapi keekonomiannya. Namun, kami akan pertajam kajian finansialnya, termasuk aspek legalnya," kata Direktur Utama Hutama Karya (HK) Tri Widjajanto Joedosastro saat ditemui di Jakarta, Kamis (9/8).

Ia menjelaskan, harga tiket kereta dapat ditekan menjadi Rp17.000 bila pemerintah memberikan subsidi.

Namun, katanya, Menteri BUMN Dahlan Iskan tidak menghendaki adanya campur tangan dari pemerintah. Hal ini disebabkan pembangunan proyek akan berjalan lambat.

"Dari kami hanya menawarkan solusi untuk mengatasi kemacetan yang mewarnai ibukota Jakarta. Untuk itu, kami membutuhkan dukungan semua pihak," katanya.

Ia menambahkan, bila kajian tersebut selesai, selanjutnya proposal rencana pembangunan kereta layang sepanjang Bekasi-Slipi dan membentang 22 kilometer akan diserahkan kepada Kementerian Perhubungan.

Biaya untuk membangun kereta ini ditaksir sekitar Rp10 triliun.

"Dengan biaya Rp10 triliun, maka kita akan menghemat biaya BBM Rp9,77 triliun setiap tahun," katanya.

Untuk merealisasikan pembangunan kereta layang ini, katanya, Hutama Karya akan berkolaborasi dengan PT Kereta Api Indonesia Persero.

Tahap pertama, pembangunannya dimulai dari Bekasi-Slipi. Kemudian, Bogor-Cawang-Slipi, Slipi-Serpong, serta Serpong-Bandara Soekarno-Hatta.

Menteri BUMN Dahlan Iskan tidak menyetujui pembangunan kereta layang tersebut, walau ia sendiri terkesima dengan rencana pembangunan tersebut.

Ia menganggap harga tiket kereta sangat mahal, yakni Rp40.000 dan dipastikan akan membebani masyarakat.

"Harganya mahal sekali. Hutama Karya juga harus memperjuangkannya ke pemerintah untuk mendapatkan subsidi. Apakah Hutama mau memperjuangkannya. Ini pasti membutuhkan waktu yang lama," kata Dahlan. (ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close