ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 28 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Warisan Trisakti Bung Karno
Minggu, 11 November 2012 | 0:22

Peringatan Hari Pahlawan pada 2012 ini menjadi sangat istimewa, dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh agung bangsa, The Founding Fathers, dan Proklamator: Soekarno dan Mohammad Hatta. Penganugerahan gelar pahlawan kepada dua tokoh bangsa ini, setidaknya mengandung tiga makna yang bisa kita petik.

Pertama, makna kesejarahan yang tak boleh dilupakan dan tak bisa dihapuskan oleh siapa pun juga. Betapa pun adanya nokta kecil dalam sejarah kepemimpinan mereka, Bung Karno dan Bung Hatta tetaplah sepasang mutiara yang telah menggoreskan dengan tinta emas karya-karya monumental bagi perjalanan bangsa ini.

Keduanya adalah putra-putra terbaik bangsa, yang berjuang dengan gigih, baik pada era pergerakan kemerdekaan, revolusi fisik, hingga pascakemerdekaan. Dalam hal ini, benar apa yang dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada upacara penganugerahan gelar pahlawan bagi kedua tokoh bangsa ini, di Istana Negara, Rabu (7/11) lalu. Bung Karno dan Bung Hatta merupakan simbol perlawanan terhadap setiap bentuk penjajahan. Keduanya adalah sumber inspirasi dan kekuatan bagi seluruh Bangsa Indonesia untuk menggapai cita-cita kemerdekaan.

Bung Karno dan Bung Hatta juga telah mewarisi karya-karya besar kepada bangsa ini, berupa gagasan kebangsaan, demokrasi, ideologi Pancasila, Indonesia sebagai negara hukum, sistem ekonomi kerayatan, kegotongroyongan, koperasi, dan berbagai gagasan besar lainnya. Secara bersama- sama, mereka menjadi sumber abadi yang memelihara ingatan kolektif kita sebagai satu bangsa, yang walaupun berbeda-beda, namun telah bertekad untuk terus bersatu, di bawah kibaran Sang Saka Merah Putih. Keduanya telah menaburkan ide tentang Indonesia yang besar, bersatu, adil dan makmur.

Kedua, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Bung Karno dan Bung Hatta juga harus dimaknai sebagai momentum untuk mengingat kembali betapa pentingnya pewarisan nilai-nilai kepada generasi muda kita saat ini. Generasi muda kita patut mengenang dan melestarikan nilai-nilai kejuangan yang telah diteladankan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Begitu banyak gagasan pemikiran dua tokoh ini layak dijadikan pegangan dan sumber inspirasi bagi generasi sekarang dan generasi mendatang.

Dalam konteks kekinian, Pidato Trisakti Bung Karno pada 1963 tentang (1) berdaulat secara politik, (2) mandiri secara ekonomi, dan (3) berkepribadian secara sosial-budaya, adalah butir-butir gagasan yang layak dihidupkan dan ditumbuhkembangkan oleh generasi muda kita. Kita kini hidup di era globalisasi yang penuh dengan kompetisi yang sangat ketat. Namun, sebagai bangsa kita tak boleh kehilangan jatidiri. Kita hidup di tengah era globalisasi, tapi kita tak boleh terbawa arus globalisasi itu sendiri.

Dalam hal berdaulat secara politik, Indonesia adalah negara merdeka dengan ideloginya sendiri, yaitu Pancasila. Sebagai negara berdaulat, RI tak boleh didikte oleh negara mana pun di dunia, termasuk negara-negara raksasa. Dengan menganut politik bebasaktif, posisi kita justru harus bisa ikut mewarnai kehidupan bangsa-bangsa di dunia, dan ikut pula menciptakan perdamaian dunia.

Terkait kemandirian ekonomi, Bung Karno telah mewariskan kepada anak-anak bangsa ini sebuah konsep yang disebut berdiri di atas kaki sendiri (berdikari). Ini bukan berarti kita menolak investasi asing ataupun barang- barang impor yang kita butuhkan. Kita butuh investasi asing ataupun barang impor, tapi itu hanya boleh jadi pelengkap. Sebaliknya, kita justru harus bisa mengolah dan mengembangkan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, dengan tenaga-tenaga terdidik yang kita miliki. Kita harus bisa ciptakan pasar sendiri, bukan menjadi pasar bagi produk asing.

Soal kemandirian sosial-budaya, ini penting kita tumbuh-kembangkan agar kita tidak terombang-ambing oleh semua hal yang berbau asing. Kita punya kekayaan sosial dan budaya yang luar biasa kaya dan beragam, dan ini harus kita kembangkan dalam rangka mewujudkan kepribadian bangsa. Kita harus menjadi bangsa besar dan kuat, dengan terus mengembangkan kekayaan sosial- budaya yang kita miliki.

Ajaran Trisakti Bung Karno tersebut di atas sangat relevan dengan situasi saat ini, dan layak diangkat dan direvitalisasi oleh generasi muda kita bagi pegangan bangsa ini ke depan. Terakhir, yang juga tak kalah pentingnya dari momentum penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Bung Karno dan Bung Hatta, adalah makna rekonsiliasi. Untuk pertama kalinya, sejak 2004, mantan Presiden Megawati Soekarnoputeri menginjakkan kakinya lagi di Istana Negara. Sejak 2004 itu pula, untuk pertama kali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berjabatan tangan dengan Megawati.

Ini sebuah pertanda baik. Ada semangat rekonsiliasi yang terlahir pada momen hari penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Bung Karno dan Bung Hatta. Meski berbeda cara pandang terhadap berbagai kebijakan, para tokoh bangsa mestinya menunjukkan sikap kenegarawanan. Mereka harus satu dan sama dalam hal visi bersama tentang Indonesia ke depan.

Para elite kita mestinya menanggalkan baju politik masing-masing dan tidak lagi berpikir parsial berdasarkan penggalan periode pemilu kalau sudah berbicara tentang nasib dan masa depan bangsa. Bung Karno, Bung Hatta, dan para pahlawan bangsa telah sukses mengantar bangsa ini ke gerbang kemerdekaan karena satu semangat, satu cita-cita, dan satu tujuan. Kita harus belajar dari mereka! (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!