Terus Upayakan Transportasi Ideal
Jumat, 27 Januari 2012 | 10:06
Sejumlah pengunjung melihat dari dekat replika gerbong Mass Rapid Transit Jakarta (MRT Jakarta) pada pameran di World Delta Summit 2012 di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (22/11). MRT Jakarta tahap I ditargetkan g round breaking pada April 2012 yang menghubungkan Lebak Bulus - Bundaran HI sepanjang 15,7 km dengan 13 stasiun (tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah). MRT Jakarta yang berbasis rel, rencananya membentang sekitar 110,8 km yang terdiri atas Koridor Selatan-Utara (Koridor Lebak Bulus-Kampung Bandan) sepanjang 23,8 km dan Koridor Timur Barat sepanjang 87 km. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN Kemacetan Jakarta menjadi ujian tersendiri bagi masyarakat yang beraktivitas sehari-hari. Bertambahnya jumlah kendaraan yang tak diikuti dengan perluasan jalan mengakibatkan warganya harus bersabar berjam-jam menghabiskan waktu melewati kemacetan.
Keadaannya lebih parah lagi ketika cuaca tidak bersahabat atau hujan. Waktu tempuhnya bisa lebih lama lagi. Kemacetan biasanya mengepung jalan raya pinggiran Jakarta yang mengarah ke pusat-pusat bisnis. Hal tersebut dipicu oleh tingginya volume kendaraan yang keluar dari rumah berbarengan. Ketika cuaca kurang bersahabat, kemacetan bisa lebih buruk lagi akibat banyak warga memilih menggunakan mobilnya dibanding motor/angkutan umum.
Di wilayah selatan Jakarta, jalanjalan yang macet parah pada jam sibuk di antaranya Ragunan, Fatmawati, Pasar Jumat, dan Pondok Indah. Jangankan lewat jalur utamanya, lewat jalan tikus saja susah bergerak. Mereka yang bergerak dari Lebak Bulus juga terjebak macet, antara lain di depan Cilandak Town Square (Citos). Mereka yang dari tol JORR Jatiasih juga kena macet karena kepadatan di depan Citos. Mereka yang berangkat dari Bintaro, kena macet di Jl Deplu. Kepadatan luar biasa juga terlihat di Halim Perdanakusumah.
Serba salah, itulah yang dirasakan masyarakat. Mau naik angkutan umum, kenyamanannya kurang terjamin, belum lagi soal keamanannya. Naik kendaraan pribadi, itu berarti terjadi pemborosan bahan bakar karena kelamaan di jalan. Tapi, mau bagaimana lagi?
Menurut sejumlah pakar, transportasi nasional dewasa ini telah mencapai titik jenuh. Hal itu dilihat dari mobilitas penduduk dan ekonomi perkotaan yang makin masif sehingga tidak dapat lagi dibebankan kepada jaringan jalan raya, baik di kota maupun jalan antarkota. Untuk mengatasinya, salah satunya dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas moda transportasi massal seperti kereta api.
Diharapkan pemerintah melalui PT KAI terus meningkatkan kapasitas korporasi dan profesional kinerjanya. Kereta api adalah solusi masa depan angkutan penumpang dan barang di Indonesia. Peran itu dilakukan dengan mengambil alih sebagian besar mobilitas kota dengan membangun system jaringan kereta api di dalam kota maupun antarkota secara integritas dengan tata ruang kota dan moda transportasi lainnya seperti Transjakarta.
Shinta Widiyastri
Depok, Jawa Barat
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!