ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 30 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Telkom Gagal Dapat Lisensi MVNO di Arab Saudi
Minggu, 2 Juni 2013 | 11:06

JAKARTA- PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) terpaksa menguburkan niatnya untuk melakukan ekspansi bisnis ke Arab Saudi, setelah gagal memperebutkan lisensi Mobile Virtual Network Operator (MVNO) di negara tersebut.

Situs resmi Komisi Komunikasi dan Informasi Teknologi (The Communications and Information Technology Commission/CITC) Arab Saudi, seperti dikutip Antara di Jakarta, Minggu dinihari mengumumkan bahwa nama Telkom tidak masuk dalam short list operator telekomunikasi yang maju memperebutkan tiga lisensi MNVO.

MVNO adalah penyelenggaraan layanan jasa telekomunikasi bergerak dalam bentuk suara dan data, dimana penyelenggara tersebut tidak memiliki izin atas spektrum frekuensi atau lisensi jaringan akses, tetapi dapat menyewa atau memakai spektrum frekuensi milik Mobile Network Operator (MNO) melalui suatu perjanjian bisnis.

Tender lisensi MVNO tersebut sejalan ketentuan bahwa operator eksisting di negera itu diharuskan melakukan bekerjasama dengan satu MVNO guna menyelenggarakan layanan seluler atau data.

Pada 11 Mei 2013, CITC mengumumkan lima kandidat yang lolos memperebutkan lisensi MVNO yakni konsorsium yakni Axiom Mobile,�Virgin Mobile Saudi Consortium, Jawraa Consortium Lebara, FastNet Consortium, dan Safari Consortium.

Adapun Virgin Mobile disebut-sebut akan menggandeng Saudi Telecom Company (STC), sementara Axiom melirik jaringan milik Zain.

Menurut ketentuan bahwa kandidat yang lolos seleksi selanjutnya dievaluasi, dan pemenangnya akan diumumkan dalam tiga bulan kemudian.

Arab Saudi menjadi negara ketiga di Timur Tengah yang mengadopsi MVNO setelah Oman dan Yordania.

Dengan begitu pemberian lisensi MVNO ini merupakan bagian dari liberalisasi terhadap industri telekomunikasi di negera itu.

Adapun harga satu lisensi MVNO ditetapkan sebesar US$1,33 juta, atau sekitar Rp13,039 miliar.

Sebelumnya, Telkom menyatakan tertarik membidik Arab Saudi untuk mengembangkan layanan MVNO karena di negara itu terdapat sekitar satu juta orang warga negara Indonesia.

Namun rencana Telkom tersebut tidak terealisasi karena regulator Arab Saudi tidak mencantumkannya dalam daftar perusahaan yang ikut menggarap layanan MVNO di negara itu.

Kegagalan Telkom di Arab Saudi ini mengikuti jejak sebelumnya yang kalah tender memperebutkan lisensi seluler 3G di Myanmar atau Saudi Telecom Company (STC).

Terkait dengan kandasnya Telkom masuk ke Arab Saudi tersebut, Deputi Menteri BUMN Bidang Industri Strategis dan Manufaktur, Dwijanti Tjahjaningsih mengatakan belum informasi tersebut.

"Oke saya akan cek ke Telkom," kata Dwijanti melalui layanan pesan singkat (SMS). (ant/gor)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!