ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 Mei 2012
Pencarian Arsip

Tekanan Global dan Arah IHSG
Oleh Samuel Ringoringo | Senin, 26 September 2011 | 9:51

Dimas Wayhu: Pilih Trading Sambil Tunggu Tembus 3.600 Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN Dimas Wayhu: Pilih Trading Sambil Tunggu Tembus 3.600 Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN

Ciri khas para pelaku pasar pada umumnya sama. Saat harga naik, mereka takut naiknya akan ketinggian, dan saat harga turun mereka takut harganya tidak akan naik lagi. Intinya, selalu ada rasa takut.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada 22 September 2011 turun cukup dalam ke arah 3.400. Ini adalah lanjutan penurunan sejak mencapai level tertinggi sepanjang sejarah di rentang 4.195 pada Agustus 2011 lalu. Penurunan ini disikapi beragam.

Ada yang masih optimistis, ada yang mulai kalut. Ada yang mencoba meneropong dengan menggunakan analisis teknikal, tapi ada juga yang mencari justifikasi dari rangkaian perbandingan rasio keuangan, baik sektoral maupun regional.

Sekarang, mari kita menggunakan logika ekonomi secara makro demi mendapatkan gambaran besarnya tentang apa yang melatarbelakangi ini semua dan apa yang bisa kita harapkan terjadi ke depannya.

Likuiditas Global
Dalam hal ini kita perlu mencermati beberapa fakta. Pertama, likuiditas global yang memang sedang besar-besarnya. Demi menyelamatkan ekonomi, suku bunga Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Inggris menukik tajam menuju titik terendah. Semua itu demi menyalurkan uang dari system perbankan ke perekonomian.

Fakta kedua, aliran dana ke perekonomian ternyata tak sesuai dengan skenario. Terjadi polarisasi, di mana di negeri Barat uang mampat tidak mau mengalir untuk bertransformasi ke dalam konsumsi. Masyarakatnya lebih memilih menahan dananya di bank daripada mengambilnya untuk membelanjakannya. Akibatnya, konsumsi tak ada, produksi minim, tenaga kerja tidak laku (pengangguran membengkak), pendapatan pun akhirnya terus tergerus.

Fakta ketiga, di negara berkembang, seperti Indonesia, aliran dana tadi mengucur deras ke sektor finansial dan sektor riil melalui kanal rendahnya suku bunga pasar uang. Dana tersebut larinya bukan hanya ke ke IHSG yang menggelembung, tapi pertumbuhan kredit pun marak, baik kredit rupiah maupun dolar AS. Ditambah dengan kultur gila belanja, maka wajarlah kalau pertumbuhan ekonomi kita pun lebih mentereng dibandingkan negeri Uni Eropa dan AS.

Fakta keempat, sebagus-bagusnya aliran dana ke negara berkembang, hal itu tetap saja dianggap lebih berisiko dibanding negara asal likuditas ini sendiri. Apalagi di dunia dengan suku bunga rendah, ekonomi banyak ditopang oleh leverage (utang). Artinya, investasi yang dilakukan ke IHSG pun banyak yang bersumber dari utang dengan berbagai macam bentuk strukturnya.

Keempat fakta tadi membuat kekarnya pertumbuhan IHSG dan menyimpan potensi volatilitas yang besar. Sedikit saja ada gejolak di negara asal likuiditas tadi, para pelaku pasar akan sesegera mungkin bermain aman dengan cara deleveraging posisinya: jualan, dapat cash, bayar utangnya sesegera mungkin, untuk kemudian rekalkulasi berbagai kemungkinan lagi.

Proses deleveraging ini menjadi sangat penting karena setiap situasi perkonomian global bergejolak — entah karena sentimen krisis utang Eropa atau perubahan arah kebijakan moneter AS — biaya dana (cost of fund) yang ditunjukkan oleh kurva imbal hasil (yield curve) pun akan segera naik. Kalau yield curve naik, suku bunga pasar uang pun akan naik, dan bagi para pelaku pasar kana lebih memilih bayar sekarang daripada nanti.

Quo Vadis IHSG
Sejak Agustus lalu IHSG terus menukik dipicu oleh munculnya kembali kabar negatif dari Eropa, mulai dari kemungkinan gagal bayar utang Yunani, Portugal, Irlandia, dan Spanyol hingga diturunkannya rating surat utang sejumlah bank-bank raksasa Eropa, seperti Credit Agricole dan Societe Generale.

Di sisi lain, belum lama ini bank sentral AS – The Fed — memberi pernyataan bahwa kelanjutan stimulus moneter yang selama ini diguyur melalui Quantitative Easing tahap I dan II akan dipertimbangkan dengan lebih selektif. Pasar pun menilai ini sebagai mulai ditutupnya keran likuiditas yang berpotensi menaikkan yield curve serta menarik cost of fund.

Dua hal itu berpotensi memicu para pelaku pasar terutama asing mereposisi dananya dan menghitung cost benefit berdasarkan situasi terkini dan ekspektasinya. Tidak heran IHSG turun tajam dari 4.100 ke 3.400 dalam waktu kurang dari dua bulan.

Menanggapi situasi ini maka kita harus cerdik melihat situasi. Pertama, harus diingat bahwa Uni Eropa pada dasarnya adalah sebuah bentuk kontrak politik dan ekonomi. Isu akan terpecahnya Uni Eropa akibat krisis utang tentu tidak sembarangan diejawantahkan dalam bentuk nyata karena biayanya (ekonomi, sosial, politik) pasti lebih besar daripada outstanding utang itu sendiri. Jadi, sangat mungkin Uni Eropa akan tetap berusaha saved by the bell melalui penyatuan fiscal dan penerbitan Euro bonds.

Kedua, AS akan mengalami saving glut, sehingga negeri ini masih berada dalam jebakan likuiditas. Bagi AS, terlalu riskan untuk menaikkan suku bunganya. Artinya, kita harus sadar bahwa AS masih akan longgar dalam penentuan kebijakan ekonominya meskipun pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan otoritas negeri itu terkadang cukup menyentil pelaku pasar. Tapi itu semua sebenarnya dilakukan dengan satu tujuan: menjaga ekspektasi inflasi.

Ketiga, berinvestasi di IHSG saat ini tetap dituntut harus sadar situasi makro. Mereka yang paham akan situasi makro tentu akan berinvestasi secara cerdas dengan mempertimbangkan sektor ekonomi yang mumpuni sekarang. Sederhana saja, ketika situasi global sedang lemas, maka domestic-based, seperti properti dan perdagangan ritel adalah jagoannya.

Keempat, dalam situasi terburuk pun, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan lebih tinggi daripada Eropa dan AS, bahkan juga Hong Kong dan Singapura. Artinya, kali ini kita harus tetap percaya diri bahwa IHSG masih akan menjadi incaran.

Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perjalanan IHSG di sisa semester ini memang tidak akan secemerlang pada semester pertama. Kecuali properti dan perdagangan retail, sektor-sektor komoditas dan industri berbasis ekspor masih akan berada dalam tekanan, begitu juga perbankan. Meski demikian, raihan kembali ke angka 4.000 bukan sesuatu yang tidak dapat dicapai.

Penulis adalah ekonom Bank Internasional Indonesia




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Nus | 10:33am Sep 29, 2011

Artikel yang menarik dari Bapak Samuel. Tulisan yang singkat tetapi bernas.

Akan tetapi ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan terkait dengan artikel tersebut :

1. Dalam artikel dituliskan bahwa suku bunga di AS, Eropa dan Inggris menuju titik terendah. Dgn suku bunga yg rendah ini diharapkan masyarakat akan lebih enggan utk menyimpan uangnya di sektor keuangan krn imbal baliknya yg rendah, dan lebih banyak menggunakannya untuk konsumsi yg kemudian efeknya dapat ke produksi maupun penyerapan tenaga kerja. Tetapi hal ini tidak terjadi. Apa yg sebenarnya membuat masyarakat di AS, Eropa maupun Inggris enggan membelanjakan (konsumsi) uangnya ? Apakah ada alasan khusus ?

2. Dengan kondisi spt ini, bagi yang mau berinvestasi di Indonesia, akan tidak menguntungkan untuk melakukan investasi di sektor-sektor yg berbasis ekspor karena barang-barang yang dijual di luar negeri (negara khususnya di AS, Eropa atau Inggris) pun tidak akan laku dibeli masyarakat sana. Akan lebih menguntungkan untuk berinvestasi di saham-saham yg produknya berbasis domestik atau produknya akan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sendiri, seperti rumah atau perdagangan retail. Nah, kalau begitu yang akan menggerakkan saham-saham berbasis domestik tersebut adalah orang-orang Indonesia sendiri (atau berasal dari modal dalam negeri) ? Karena investor asing khan cenderung untuk menyimpan modalnya dalam bentuk cash.

3. Terkait dengan pertanyaan di atas juga, ada statement dari anda APALAGI DI DUNIA DGN SUKU BUNGA RENDAH, EKONOMI BANYAK DITOPANG OLEH LEVERAGE (UTANG) , mungkin dapat dijelaskan mengenai statement ini ?

Okelah sekian pertanyaan dari saya, Terimakasih banyak pak Samuel.





Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close