ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 20 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Swasembada Sapi
Jumat, 17 Juni 2011 | 10:22

Tak ada yang menduga kasus pemotongan sapi di beberapa rumah potong hewan (RPH) yang dinilai tidak ‘berperikehewanan’ mendorong Australia mengambil keputusan nekat. Negeri Kanguru itu menyetop sementara sapi bakalan ke Indonesia selama enam bulan.

Kasus ini berawal dari tayangan di Youtube yang menggambarkan penyiksaan dalam proses penyembelihan sapi di sebuah RPH. LSM Animals Australia kemudian mengumpulkan bukti-bukti. Tayangan pemotongan sapi di Indonesia yang dinilai menyalahi animal welfare juga ditayangkan ABC TV. Tak disangka, isu ini menjadi bola panas dan parlemen ikut mendesak pemerintah Australia untuk menghentikan sapi bakalan ke Indonesia.

Padahal, Indonesia menjadi pasar tergemuk ekspor sapi Australia. Dari seluruh sapi yang diekspor Australia, Indonesia menyerap 60% atau sekitar 500 ribu ekor. Ekspor sapi Australia ke Tanah Air tahun lalu menghasikan pemasukan negeri itu sekitar Aus$ 319 juta atau sekitar Rp 27 triliun.

Kebijakan penghentian ekspor ini jelas mengejutkan semua pihak, termasuk para pejabat tinggi, seperti menteri perdagangan dan menteri pertanian. Tapi seperti biasa, para birokrat kita cenderung tenang-tenang. Semua mengklaim penghentian ekspor sapi tidak akan menimbulkan persoalan. Stok daging dalam negeri diakui cukup untuk memenuhi kebutuhan empat bulan ke depan, termasuk pada periode Puasa dan Lebaran.

Mudah-mudahan itu bukan pernyataan sembrono demi menghibur diri sendiri. Atau sekadar strategi membela diri guna menutupi kebijakan peternakan di dalam negeri yang kenyataannya compang-camping. Meski demikian, hukuman Australia kepada Indonesia ini diharapkan memberikan sebuah hikmah. Kasus ini bisa menjadi momentum untuk membangkitkan peternakan di Indonesia. Kita harus mampu membuktikan bahwa Indonesia sanggup mewujudkan swasembada daging.

Saat ini, produksi lokal disebut-sebut baru memenuhi 63% konsumsi daging nasional. Sisanya masih harus diimpor, mayoritas berasal dari Australia. Dengan lahan subur yang luas, Indonesia amat potensial untuk pengembangan sapi. Saat ini di Indonesia terdapat populasi sapi sebanyak 12 juta ekor. Untuk menggapai swasembada daging pada 2014, Indonesia harus menambah dua jua ekor sapi, sehingga minimal populasi sapi nasional sebanyak 14 juta ekor.

Nusa Tenggara Timur adalah salah satu provinsi yang potensial bagi pengembangan sapi. Provinsi yang memiliki savana luas tersebut kini memiliki populasi sapi 500 ribu ekor dan berambisi menjadi 5 juta ekor. NTT siap mengganti posisi Australia sebagai pemasok utama daging nasional.

Untuk mewujudkan lima juta sapi, NTT mencanangkan program satu sapi untuk satu penduduk. Provinsi ini siap menyandang julukan pusat sapi nasional. NTT ingin mengembalikan supremasinya sebagai sentra sapi terbesar.

Selain NTT, pemerintah mencanangkan tujuh provinsi lain sebagai sentra peternakan sapi nasional, antara lain Jawa barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Penetapan delapan sentra peternakan sapi sudah diamanatkan dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2001- 2025 yang diluncurkan Mei lalu.

Guna mewujudkan swasembada sapi, pemerintah harus menyiapkan kebijakan yang komprehensif, disertai berbagai infrastruktur yang diperlukan. Pemerintah harus memikirkan mulai dari pembibitan, pakan ternak, penyediaan lahan, dan infrastruktur penunjang lainnya. Dukungan pemerintah ini penting terutama untuk peternakan rakyat dan rumah tangga.

Selain itu, pemerintah harus mendorong tumbuhnya investasi swasta dalam peternakan sapi. Lebih ideal lagi bila peternakan besar sapi swasta bermitra dengan peternakan rakyat dengan pola inti-plasma yang saling menguntungkan. Salah satu mata rantai paling penting dari pengembangan peternakan adalah pembibitan. Karena itu, peternakan besar harus didorong dalam industri pembibitan sapi.

Dengan komitmen kuat serta program yang jelas dan implementatif, kita yakin Indonesia mampu mencapai swasembada daging. Sungguh ironis Indonesia dengan potensi yang besar tidak bisa memanfaatkan peluang emas ini. Namun satu hal yang perlu dijaga adalah harga jual sapi. Jangan sampai ketika populasi dan produksi sapi berlimpah, akhirnya harga jatuh sehingga rakyat kapok beternak sapi.

Ketika peternakan sapi sudah berkembang baik, pemerintah juga harus melindungi pasar daging domestik. Jangan sampai pemerintah membuat kebijakan impor daging yang merugikan produsen lokal.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close