ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 21 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

KEMISKINAN MASIH TINGGI,

Sosiolog Unas: Pinjaman ke IMF Kurang Tepat
Minggu, 22 Juli 2012 | 10:21

JAKARTA- Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Nia Elvina menilai kebijakan pemerintah memberikan pinjaman kepada dana moneter internasional atau IMF kurang tepat, di tengah tingkat kemiskinan di Indonesia yang masih tinggi.

"Akan sangat bijak jika negara kita seharusnya lebih mengedepankan kemakmuran atau kesejahteraan rakyatnya terlebih dahulu," kata Nia di Jakarta, Minggu.

Ia kemudian merujuk pada hasil studi sosiologi perdesaan di IPB, yang menyebutkan angka kemiskinan di Indonesia mencapai 60%.

Menurut dia, kebijakan yang diambil pemerintah seharusnya berpijak kepada kepentingan nasional negara, dan bukan pada aspek yang lain.

"Dalam konteks ini, publik menilai kebijakan yang diambil hanya untuk meningkatkan image terhadap bangsa kita. Bukan suatu hal yang sangat mendasar," kata Sekretaris Program Studi Ilmu Sosiologi Unas itu.

Dikemukakannya bahwa jika masyarakat Indonesia kuat, baik pada tataran ekonomi, sosial dan politik, tentu peradaban yang dimiliki juga akan tinggi, sehingga akan disegani di dunia internasional.

"Mungkin para pemimpin bangsa kita ini harus sering turba (turun ke bawah) melihat langsung realitas yang terjadi dalam masyarakat, sehingga kebijakan yang diambil tepat," katanya.

Sementara itu, anggota Komisi X DPR Rohmani menegaskan bahwa lebih etis rencana pemerintah memberikan pinjaman kepada IMF dibatalkan, dan dialihkan untuk anggaran perbaikan sektor pendidikan di Indonesia. "Untuk itu, saya menolak terhadap rencana pemerintah memberikan pinjaman kepada IMF," katanya.

Legislator yang membidangi masalah pendidikan, kebudayaan, olahraga dan pariwisata ini menyatakan momentum pemberian pinjaman itu tidak tepat mengingat berbagai persoalan masih dihadapi mayoritas rakyat Indonesia.

Menurut dia, permasalahan yang paling nyata adalah persoalan pendidikan, di mana masih banyak rakyat Indonesia yang mengalami kesulitan untuk memperoleh pendidikan.

Terutama, kata dia, di masa-masa memasuki tahun ajaran baru seperti saat ini. "Sehingga tidak etislah, kita masih melihat banyak anak-anak negeri yang kesulitan ekonomi. Eh, pemerintah malah berencana mau kasih pinjaman ke IMF," katanya.

Oleh karena itu, dirinya berharap pemerintah lebih bijak dalam hal ini. "Sebaiknya dana itu digunakan untuk perbaikan pendidikan nasional. Dana tersebut bisa membiayai anak-anak negeri di perguruan tinggi," katanya.

Selain itu, kata dia, kondisi guru di Indonesia juga masih perlu perhatian, terutama masalah kompetensi. "Alangkah baiknya jika uang itu digunakan untuk meningkatkan mutu guru, dan bisa untuk beasiswa guru itu," katanya. (ant/gor)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close