ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 Mei 2012
Pencarian Arsip

Sektor Keuangan Indonesia Tak Efisien
Kamis, 23 Februari 2012 | 14:56

JAKARTA- Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan bahwa sektor keuangan Indonesia masih tidak efisien.

"Sektor keuangan dan perbankan Indonesia masih tidak rasional dan efisien, misalnya bunga deposito satu bulan bank di Indonesia 6%, sementara bunga deposito satu tahun adalah 6,25% jadi tidak ada arus uang, seharusnya ada perbedaan bunga deposito sesuai periode," kata Darmin pada seminar "Indonesia Economic Policy in Challenging Global Economy" di Jakarta, Kamis (23/2).

Menurut Darmin, negara ASEAN lain seperti Malaysia dan Singapura menerapkan bunga deposito 3 bulan sebesar 4-5% tapi bunga deposito 1 tahun berjumlah 6%.

"Artinya biaya operasional dibandingkan pendapatan operasional (BOPO) tergolong tinggi, agak berlawanan dengan margin bunga bersih perbankan yang ternyata tinggi," jelas Darmin.

NIM adalah selisih antara tingkat suku bunga kredit dengan tingkat suku bunga deposito, tingginya NIM mencerminkan tingginya konsentrasi pasar perbankan maupun biaya intermediasi perbankan Indonesia.

Menurut catatan, sejumlah bank membukukan kenaikan laba pada 2011, misalnya laba bersih konsolidasi Bank CIMB Niaga 25 persen menjadi Rp3,17 triliun dari Rp2,55 triliun, laba Bank Permata naik 14 persen menjadi Rp1,12 trilun dan laba Bank BII naik 45 persen menjadi Rp669 miliar.

"Untuk mengatasi persoalan ini memang butuh proses panjang dan terus-menerus, kinerja laba bank yang meningkat menunjukkan bahwa upaya BI menurunkan 'cost of fund' masih belum ditransmisikan kepada nasabah peminjam, artinya bunga kredit belum turun sama cepat dengan 'cost of fund' meski BI rate sudah diturunkan berkali-kali," ungkap Darmin.

Menurut dia, yang diupayakan BI adalah mendorong bank menurunkan bunganya, agar bank dapat diakses oleh masyarakat dengan lebih luas dan murah.

"Laba bank itu sesungguhnya juga berasal dari premi risiko yang didorong agak besar oleh bank yang pada akhir tahun NPL (kredit bermasalah) hanya sedikit sehingga praktis premi hanya sedikit atau bahkan tidak terpakai sama sekali," ungkap Darmin.

Selain itu, BI juga sebenarnya berharap agar kondisi pasar modal yang semakin baik menjadi penekan terhadap perbankan karena menurut BI pasar modal sebenarnya bukan hanya alternatif tapi juga pesaing bank karena bisa membuat instrumen yang menyaingi perbankan.

Di samping persoalan bunga, Darmin juga melihat pasar keuangan Indonesia masih terlalu tipis sehingga saat dana besar masuk maka tidak bisa terserap pasar keuangan dalam negeri sehingga memberikan tekanan terhadap perekonomian.

"Contohnya yield SBI hanya 1,6 persen dengan tenor 6 bulan dan tenor 1 tahun yieldnya 3 persen, sedangkan yield di negara lain dapat mencapai 5 persen, artinya kita tidak mampu mewujudkan instrumen untuk menyerap dana pada saat yang tepat apalagi setelah Indonesia mendapat status layak investasi," ungkap Darmin.

Mantan deputi gubernur senior BI Miranda S. Goeltom yang juga hadir dalam seminar tersebut mengatakan bahwa kondisi sektor keuangan Indonesia lemah karena sedikitnya instrumen moneter.

"Sulit bagi Indonesia bersaing dalam pasar keuangan yang terbuka karena hanya punya sedikit instrumen yaitu Surat Berharga Bank Indonesia dan Surat Utang Negara," kata Miranda.

Tapi Miranda mengakui bahwa bila banyak likuiditas yang masuk ke dalam negeri maka kompensasinya adalah rupiah menguat dan dapat menambah impor dan melemahkan ekspor.

"Sedangkan terkait lambatnya perbankan memperlambat penurunan bunga tabungan dan kredit disebabkan karena perbedaan data bank sentral dan industri perbankan, data jarang dan tidak lengkap sehingga likuiditas bisa keluar tanpa diketahui," papar Miranda.(ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close