ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 17 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

SDM Perbankan Syariah, Siapa yang Mesti Peduli?
Oleh Indra Siswanti | Jumat, 27 Mei 2011 | 10:04


Pertumbuhan bank syariah di Indonesia mencapai 40% setiap tahunnya. Tingginya angka pertumbuhan tersebut tentu saja diikuti pula tingginya kebutuhan akan tenaga kerja. Persoalannya, tak cukup banyak kepedulian kita terhadap mutu sumber daya manusia yang berprofesi di institusi perbankan syariah.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan jumlah pegawai di Industri perbankan syariah dalam kurun waktu 2007-2010 rata-rata sekitar 24,25%, sementara pertumbuhan gerai perbankan syariah rata-rata 29,25% dalam kurun waktu yang sama.

Pada 2010, total karyawan yang bekerja di industri perbankan syariah tercatat sebanyak 22.273 orang, tersebar di 1.763 gerai. Jumlah tersebut tentunya akan terus meningkat seiring pertumbuhan perbankan syariah.

Setiap tahun kebutuhan sumber daya manusia untuk mengisi pos-pos pekerjaan di perbankan syariah diperkirakan mencapai 40.000 orang. Dengan ketersediaan sumber daya manusia yang sangat terbatas, maka yang kerap terjadi adalah pengisian lowongan dengan cara tambal-sulam.

Hal yang paling sering terjadi di institusi perbankan syariah adalah merekrut karyawan dari bank-bank umum yang minim pengetahuan tentang kesyariahan. Dengan bekal pelatihan ala kadarnya, jadilah mereka karyawan bank syariah. Makanya tidak heran apabila karyawan-karyawan di bank syariah rata-rata tak memiliki pengetahuan yang cukup tentang perbankan syariah.

Kerja Sama dengan PT
Kalaupun bank-bank syariah ingin mendapatkan tenaga-tenaga yang cukup terlatih dan paham dalam kesyariahan, pembajakan karyawan yang sudah “jadi” adalah praktik yang sering terjadi. Saat ini, banyak sekali bank syariah yang merekrut karyawannya dengan cara membajak para professional dari bank-bank syariah yang sudah ada, tentu dengan iming-iming gaji dan fasilitas yang lebih menarik.

Jelas, praktik seperti ini membawa dampak yang kurang baik bagi perkembangan bank syariah. Apalagi jika yang direkrut adalah seorang head group credit corporate, sudah pasti sang profesional yang baru direkrut ini akan membawa pula stafnya, termasuk staf bidang kredit.

Bukan mustahil, dengan data yang sudah dikantungi para staf bidang kredit, para nasabah kredit pun ikut “diboyong” ke kantor bank syariah yang baru. Akibatnya, terjadi persaingan yang tidak sehat di kalangan perbankan syariah itu sendiri.

Lalu, bagaimana mestinya perbankan syariah memenuhi kebutuhan SDM-nya agar tak terjadi praktik tambal-sulam atau bajak-membajak? Kerja sama dengan perguruan tinggi yang mempunyai program atau konsentrasi syariah adalah salah satu langkah yang baik. Banyak perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang kini memiliki program studi syariah.

Kerja sama tersebut bisa dilakukan dalam bentuk pengijonan para lulusan dari perguruan tinggi tersebut. Dengan demikian perguruan tinggi yang memiliki program studi syariah maupun yang mempunyai konsentrasi syariah akan dengan mudah memasarkan institusinya karena ada semacam guarantee atau jaminan untuk dapat langsung bekerja di perbankan syariah.

Selama ini, bank-bank syariah hanya menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi dalam batas-batas pengucuran dana bagi mahasiswa, ataupun dalam rangka pemberian fasilitas kepada perguruan tinggi yang bersangkutan. Sangat sedikit bank syariah yang mau menjalin kerja sama dengan cara mengijon lulusan perguruan tinggi untuk dapat menjadi calon karyawan.

Dengan melihat kebutuhan akan SDM yang begitu besar di masa-masa mendatang, maka pemerintah – dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional– perlu turun tangan. Kemdiknas perlu mendorong dan memberikan kemudahan bagi perguruan tinggi yang akan membuka program studi syariah, karena dengan demikian pasokan tenaga SDM yang paham kesyariahan akan bisa terpenuhi.

Konon banyak perguruan tinggi yang ingin membuka program studi syariah, namun kerap terkendala berbagai persyaratan yang harus dipenuhi oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Selain melalui institusi perguruan tinggi, perlu pula lembaga pendidikan nonformal membuka pelatihan atau pusat-pusat kursus tentang perbankan syariah.

Saat ini sangat sedikit lembaga-lembaga pelatihan ataupun kursus- kursus tentang perbankan syariah. Jika lembaga-lembaga tersebut bisa berkembang dengan baik, lembaga tersebut diharapkan bisa menjadi kepanjangan tangan dari bank syariah dalam hal pemenuhan kebutuhan tenaga SDM.

Melalui lembaga-lembaga kursus ini, para lulusan non- syariah diharapkan bisa mengikuti pelatihan tentang perbankan syariah. Dari situlah kita harapkan mereka yang mengambil kursus ke-syariah-an memiliki bekal pengetahuan cukup dan selanjutnya bisa menularkan ilmu yang mereka raih ke di bank-bank tempat mereka bekerja.

Kepuasan Nasabah Prioritas
Minimnya institusi penyedia tenaga SDM bagi bank syariah tentu saja akan memberikan dampak kurang bagus bagi perkembangan bank syariah saat ini. Ini bisa dengan mudah kita jumpai apabila berhubungan dengan perbankan syariah. Bisa kita saksikan begitu banyak karyawan yang berada di front liner/custumer service yang justru tak memahami dengan baik produk-produk bank syariah.

Hal ini jelas berdampak buruk bagi nasabah yang kurang atau bahkan belum memahami perbankaan syariah. Nasabah selalu menginginkan apa yang dikehendaki ataupun yang ditanyakan nasabah dapat memuaskan nasabah tersebut. Tapi, kenyataannya banyak nasabah yang kecewa karena ketidak pahaman karyawan bank akan berbagai produk dan jasa bank syariah itu sendiri. Hal ini tentunya akan menghambat perkembangan perbankan syariah.

Bagamanapun hal yang dicari nasabah adalah kepuasan dan kenyamanan. Tak cukup menjual produk dan jasa hanya dengan mengandalkan sisi-sisi emosional, misalnya pernyataan haram atau halal saja, melainkan kepuasan nasabah. Inilah kunci dan prioritas utama setiap pelayanan jasa perbankan, tak terkecuali perbankan syariah.

Karena itu, pemacuan kualitas SDM, dengan meningkatkan product knowledge mengenai perbankan syariah adalah sebuah kebutuhan mendesak.  Peningkatan product knowledge ini dapat dipenuhi oleh perbankan syariah melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dan berbagai lembaga kursus dan pelatihan.

Penulis adalah dosen perbankan syariah pada ABFI Institute Perbanas


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close